Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 47


__ADS_3

    Ghazali berdiri di hadapan Amara yang sedang menangis tergugu. Kemudian datang Andre yang kini berdiri di samping Ghazali.


   Ghazali memberi isyarat kepada Andre. Andre pun memegang jemari Amara dengan lembut. Sehingga dia mengangkat kepalanya dan kasus orang itu saling pandang. Andre tersenyum tulus kepadanya.


"Amara menikahlah denganku!" pinta Andre dengan nada yang serius.


    Amara yang di tatap oleh Andre seperti itu, membuatnya serba salah. Bagaimanapun dia masih cinta kepada Ghazali. Namun dia tidak mungkin memiliki Ghazali sekarang. Karena Ghazali sudah jadi milik Bintang.


"Apa kamu mau bersabar, menunggu aku agar bisa jatuh cinta kepadamu? Jujur di hati ini masih Ghazali yang menguasainya." jawab Amara atas ajakan pernikahan Andre.


"Iya, aku akan bersabar!" kata Andre sambil tersenyum lebar.


"Jadi apa kalian akan menikah malam ini? Biar sekalian saja kita bareng resepsinya, di sini." Ghazali melihat ke arah Andre dan Amara, dengan nada bicara yang bertanya karena ingin tahu keputusan mereka berdua.


"Aku ingin menikah dimana hari itu, hanya aku yang paling cantik!" jawab Amara sambil tersenyum miris.


"Ya, akan aku buat pesta pernikahan sesuai yang kamu inginkan," kata Andre sambil mengelus wajah Amara, dan merapikan anak rambutnya.


    Keduanya pun saling bergandengan tangan. Amara mengganti baju pengantinnya dengan gaun pesta. Andre pun memakai pakaian pesta pasangannya gaun Amara. Mereka berdua tampak serasi sebagai pasangan.


    Bintang memasuki ballroom hotel di dampingi oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Kecantikan Bintang memukau semua mata orang yang hadir malam itu. Ada yang menyebutnya seperti seorang putri dongeng, ada juga yang bilang kecantikannya seperti seorang bidadari. Bahkan ada yang bilang, Bintang itu seperti boneka hidup.


   Pancaran kebahagiaan dari wajah Bintang dan Ghazali begitu sangat jelas. Para tamu undangan bisa itu merasakan kebahagiaan. Keduanya sedang merasa di dunia dongeng.


     Ghazali tatapannya tidak lepas dari wajahnya sang istri yang begitu cantik malam ini. Dia bersyukur bisa menikahi Bintang, bocah kecil yang dulu selalu dia asuh bersama kedua saudara kembarnya.


"Abang Ghaza … ada apa?" tanya Bintang saat melihat Ghazali terus menatapnya dalam diam.


"Baby, kamu cantik sekali. Rasanya tidak rela, memperlihatkan wajah cantikmu kepada orang lain," jawab Ghazali sambil mengelus pipinya Bintang.


    Bintang yang mendengar perkataan dari Ghazali, akan betapa cantik dirinya. Sangat malu, dan ingin menyembunyikan wajahnya. Jadinya dia hanya, menundukkan wajah cantiknya itu, sambil tersenyum tersipu malu. Walau sudah sering mendengar kata cantik dari mulut suaminya. Tetap saja itu membuatnya deg-degan sekaligus senang.


      Kata-kata rayuan yang diucapkan oleh Ghazali, sering membuatnya salah tingkah, dan berdesir di hatinya. Bahkan tak jarang sering membuat hatinya terasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu dan berbunga-bunga.


     Ghazali selalu senang saat membuat Bintang tersipu malu dan tidak berkutik saat di depannya. Apalagi membuat pipinya yang berisi itu menjadi merah merona. Semenjak mereka mengungkapkan isi hati satu sama lain. Wajah Bintang selalu sering di buat merona oleh Ghazali. Dia pun selalu berusaha agar selalu bisa membuat Bintang tersenyum bahagia sampai kedua pipinya memerah.

__ADS_1


     Ghazali akan mempertahankan Bintang agar selalu berada disisinya, sampai maut memisahkan mereka. Tidak akan membiarkan lepas dari hidupnya.


    Ghazali memegang tangan Bintang, jari jemari mereka saling bertautan, menggenggam satu sama lain. Netra mereka saling beradu dan menyelami berapa dalam perasaan pasangannya itu.


"Hayo! Main tatap-tapannya nanti saja saat sudah ada di kamar!" Husna yang datang bersama suaminya, dan Selena yang menggandeng Aria, datang memberi selamat kepada Bintang dan Ghazali.


"Akh … kalian datang juga akhirnya! Aku tunggu dari tadi, tapi kenapa baru datang sekarang?" Bintang tersenyum bahagia karena sahabatnya datang juga di pesta pernikahannya.


"Sebenarnya kami juga ingin bertemu dengan kamu sejak tadi. Namun kamu tidak boleh ditemui oleh siapapun," jawab Husna dengan nada kesal.


"Iya, apalagi si Angkasa. Dia semakin dingin saja orangnya!" Kata Selena yang masih kesal sama kata-kata Angkasa tadi.


   Bintang malah tertawa mendengar gerutuan dari teman semenjak dari taman kanak-kanak itu. Bintang tahu dulu Selena suka sama Angkasa, dan selalu bawa makanan yang banyak untuknya. Walau yang akan menghabiskan makanan itu dirinya dan Langit.


    Bintang yang melihat sang mantan, kini tersenyum lembut kepadanya."Om, apa kabar?" tanya Bintang karena sudah dua Minggu ini belum mendengar kabarnya lagi.


"Alhamdulillah, baik. Hanya saja, teman kamu ini terus mengganggu selama dua Minggu ini," bisik Aria di telinga Bintang dan membuatnya tertawa geli karena mendengar curhatan sang mantan.


"Sudah jadikan saja istri Om! Biar rumah jadi ramai lagi!" Bintang memberi saran dengan setengah bercanda.


"Selamat, ya. Semoga keluarga kalian menjadi sakinah, mawadah, warahmah!" Aria tersenyum hangat ke arah Bintang. 


"Kamu cantik sekali malam ini, Bintang!" Aria menatap Bintang dengan penuh kekaguman. Walau dari dulu, dia juga sudah mengakui dan sering bilang. Kalau Bintang itu gadis yang sangat cantik.


"Hm … hm. Tentu saja istri Ghazali harus cantik. Karena suaminya juga tampan!" Ghazali cemburu mendengar dan melihat interaksi antara Bintang dengan Aria.


    Bintang dan Aria yang mendengar ucapan dari Ghazali barusan hanya bisa tertawa geli. Karena dia sedang dalam mode cemburu.


"Aku ucapkan selamat untuk sahabatku! Semoga bisa menjaga istrinya dari para lelaki yang sedang berusaha mengincarnya!" Aria ingin membuat Ghazali marah atau kesal dan jengkel. Karena dirinya tahu Ghazali mudah dipancing emosinya kalau menyangkut Bintang dari dahulu.


    Ghazali berdecak kesal mendengar ucapan dari temannya itu. Dia rasanya ingin sekali memukul temannya itu. Namun kini dia, sudah menjadi kepala keluarga. Tidak boleh bertindak gegabah yang nanti malah akan merugikannya.


"Tenang saja, karena aku sudah menandai dia menjadi milikku. Sehingga orang-orang itu harus berpikir kembali, kalau ingin merebut apa yang sudah menjadi milikku!" Balas Ghazali sambil tersenyum bangga.


"Dasar!" Aria memukul lengan Ghazali pelan. Kini keduanya tertawa terkekeh.

__ADS_1


    Bintang merasa ada yang kurang, dia pun teringat kepada temannya Luna. Walau pesta pernikahannya sudah berlangsung dari tadi tapi sahabatnya itu belum juga kelihatan batang hidungnya.


    Bintang pun bertanya kepada Husna dan Selena. Ternyata mereka juga tidak tahu keberadaan sahabatnya itu. Sampai Bintang membuka telepon genggamnya, dan mendapatkan pesan dari Luna.


    Ghazali berdecak kesal mendengar ucapan dari temannya itu. Dia rasanya ingin sekali memukul temannya itu. Namun kini dia, sudah menjadi kepala keluarga. Tidak boleh bertindak gegabah yang nanti malah akan merugikannya.


"Tenang saja, karena aku sudah menandai dia menjadi milikku. Sehingga orang-orang itu harus berpikir kembali, kalau ingin merebut apa yang sudah menjadi milikku!" Balas Ghazali sambil tersenyum bangga.


"Dasar!" Aria memukul lengan Ghazali pelan. Kini keduanya tertawa terkekeh.


    Bintang merasa ada yang kurang, dia pun teringat kepada temannya Luna. Walau pesta pernikahannya sudah berlangsung dari tadi tapi sahabatnya itu belum juga kelihatan batang hidungnya.


    Bintang pun bertanya kepada Husna dan Selena. Ternyata mereka juga tidak tahu keberadaan sahabatnya itu. Sampai Bintang membuka telepon genggamnya, dan mendapatkan pesan dari Luna.


"Abang Ghaza, Luna sekarang sedang dalam bahaya! Dia kirim pesan minta tolong kepadaku!" Bintang memekik sesaat selesai membaca beberapa pesan dari sahabatnya itu.


"Apa maksudnya?" tanya Ghazali tak mengerti.


   Bintang pun menunjukkan lima pesan dari Luna, yang sudah mengirim pesan untuknya dua jam yang lalu.


Pesan pertama : Bintang, persiapkan dirimu ... karena kami akan memberikan pelajaran agar bisa membuat puas suami di atas ranjang. Hahahaha …


Pesan kedua : Bintang sepertinya aku akan terlambat datang ke sana. Ada mobil yang membututiku dari tadi.


Pesan ketiga : aku nggak menyangka kalau si Mak Lampir akan berbuat senekat ini kepadaku. Dia benar-benar ingin membunuhku.


Pesan keempat : Bintang tolong aku!


Pesan kelima : Maaf tidak bisa datang ke pestamu


    Bintang menangis dan meminta Ghazali untuk membantunya. Agar dia mengerahkan tim keamanan keluarga Hakim untuk mencari keberadaan Luna.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2