Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 45


__ADS_3

Keesokan harinya berita penangkapan anak gadis seorang dewan, ramai di bicarakan baik lewat media elektronik ataupun media cetak.


    Cantika yang kondisi tubuhnya sudah baikan, memulai aktivitas sepeti sehari - hari biasanya. Memasak sarapan untuk keluarganya, karena anak - anaknya yang mendapat izin sakit dari Rumah Sakit kemarin. Jadi hari ini Cantika tidak membuat bekal untuk mereka.


   Terdengar suara bel pintu depan rumah berbunyi. Cantika cepat - cepat datang melihat siapa tamu yang datang pagi - pagi sekali.


    Saat pintu dibuka, terlihat Alex tersenyum kepadanya. Melihat senyuman Alex, jantung Cantika berdebar kencang. Cantika merasa aneh, setelah dirinya dan Alex bertunangan. Dia selalu berdebar saat berada di sisi Alex. Cantika masih diam terpana di hadapan Alex. Sampai - samapai ucapan salam Alex tidak dijawabnya. Melihat itu Alex jadi cemas. Apa terjadi hal buruk pada Cantika setelah dirinya tenggelam.


" Honey.... Apa kamu baik - baik saja ?" Alex mengguncangkan pelan bahu Cantika yang masih terdiam di hadapannya.


" Ah, iya saya baik - baik saja."


" Tidak Honey, apa ada yang terasa sakit ?" Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Alex.


" Tidak, saya baik - baik saja," jawab Cantika sambil menundukkan kepalanya. Dirinya makin merasa tidak beres. Mendengar kata honey sekarang terasa melambung hatinya berbunga - bunga.


" Kalau ada apa - apa, aku harap langsung bicara padaku, ya." Kata Alex lagi.


                  * * * * * * *


     Setelah sarapan pagi Alex bersenda gurau dengan ketiga anaknya di ruang keluarga. Sedangkan Cantika yang di bantu Gaya membereskan dapur bekasnya masak tadi. Alex memberitahu Cantika kalau nanti Paman Ja'far dan Pak Andi akan datang ke rumahnya. Untuk membicarakan masalah kecelakaan Ayahnya.


    Erlangga pun yang tadinya berencana hari ini akan kembali ke pondok pesantren jadinya mengurungkan niatnya. Karena dia ingin mengetahui lebih lanjut dari kasus ini.


     Sekitar jam delapan pagi, Paman Ja'far sekeluarga datang kerumah Cantika. Dan hampir bersamaan ada tamu yang berkunjung ke rumahnya.


" Apa benar ini rumahnya Cantika Safira Abdulmalik ?" Tanya seorang pria paruh baya.


" Iya, benar. Saya sendiri. Anda siapa ?"


" Kenalkan saya Budiono Dijaya dan ini istri saya Dewi, " tamu itu memperkenalkan dirinya pada Cantika.


" Silahkan masuk dulu " Cantika mempersilahkan tamunya itu masuk kedalam rumah.


" Mbak Dewi ?"


     Sinar yang melihat tamu yang masuk ke dalam rumah Cantika terasa familiar baginya.


" Apa kamu Sinar ?"

__ADS_1


     Tamu wanita itu balik bertanya dengan wajah terkejut dan mata berkaca - kaca.


" Iya, Mbak. Ini aku Sinar."


     Sinar pun memeluk wanita itu dengan perasaan haru. Cantika dan orang - orang yang ada di sana terheran - heran dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.


" Yah, ini Mbak Dewi, kakak ku."


     Sinar mengenalkan sosok wanita yang menjadi tamu Cantika sebagai kakaknya. Dan membuat semua orang disana terkejut.


" Maksud Bunda, dia kakak perempuan Bunda yang dulu telah di usir dari rumah ?" Tanya Ja'far pada istrinya.


     Sinar adalah sahabat baik dari Khadijah. Ja'far hanya mengenal sosok dirinya saja tanpa tahu siapa saja yang menjadi keluarganya. Yang dia tahu, Sinar di usir oleh ibu tirinya dari rumahnya karena selalu membela kakak tirinya yang telah membuat aib bagi keluarganya. Sinar adalah seorang putri dari konglomerat. Ayahnya menikah lagi saat Sinar duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan ibu tirinya punya dua anak, salah satunya Dewi. Kakak yang baik bagi Sinar, karena ibu tiri dan saudara tiri lainnya selalu berbuat jahat kepadanya.


" Iya, benar itu Mbak Dewi. Meski sudah puluhan tahun tak bertemu. Tapi wajahnya masih terlihat sama,"


" Ada keperluan apa Mbak sama suami ke sini ?"


" Mbak ingin bernegosiasi tentang Anggit anak Mbak yang dilaporkan oleh pihak Cantika," terdengar suaranya bergetar.


" Apa Mbak tahu apa yang anak Mbak lakukan pada keponakanku?"


" Ini sudah menyangkut masalah nyawa, Mbak."


" Mbak mohon Sinar, bebaskan Anggit. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah,"


" Tidak....!!! Keluarga kami akan membatalkan pernikahan ini !"


     Tiba - tiba terdengar suara lelaki yang menginterupsi pembicaraan Dewi. Saat semua orang melihat asal sumber suara, di sana ada Andi yang berdiri di depan pintu.


" Kebetulan sekali kita bertemu disini, Tuan Budiono. Aku Andi Darmawangsa akan membatalkan pernikahan antara putraku Arga dan putrimu Anggit. Keluarga kita tidak mau menjalin hubungan dengan orang yang telah melakukan pencemaran nama baik keluarga." Kata Andi tegas.


     Semua orang yang berada di sana terkejut dengan keputusan Andi. Termasuk Alex yang baru masuk ke ruangan tamu, karena terdengar suara yang ramai disana.


Kebetulan sekali kita bertemu disini, Tuan Budiono. Aku Andi Darmawangsa akan membatalkan pernikahan antara putraku Arga dan putrimu Anggit. Keluarga kita tidak mau menjalin hubungan dengan orang yang telah melakukan pencemaran nama baik keluarga." Kata Andi tegas.


     Semua orang yang berada di sana terkejut dengan keputusan Andi. Termasuk Alex yang baru masuk ke ruangan tamu, karena terdengar suara yang ramai disana.


" Tunggu dulu Pak Andi, jangan ambil keputusan karena emosi " Dewi yang telah menyiapkan pesta untuk putri kesayangannya itu, mencoba membujuk Papanya Arga.

__ADS_1


" Tidak. Ini sudah keputusan keluarga kami begitu Anggit menjadi tersangka atas percobaan pembunuhan terhadap Cantika," Andi bersikukuh akan keputusannya.


     Mendengar keputusan Andi, bukan hanya Dewi yang merasa ketar-ketir. Tapi juga Alex, karena bila pernikahan Arga di batalkan. Maka dia menjadi pria yang bebas, dan ada kemungkinan akan minta Cantika kembali padanya. Apalagi Alex tidak tahu perasaan Cantika padanya.


" Cantika, Tante mohon cabut tuntutan kamu terhadap Anggit. Apapun yang kamu minta akan Tante kabulkan," Dewi berjalan kehadapan Cantika kemudian dia bersimpuh di kaki Cantika.


    Cantika yang mendapat perlakuan seperti itu sungguh terkejut.


" Tante apa yang sedang anda lakukan. Berdirilah !" Cantika membantu Dewi berdiri, tapi Dewi masih bertahan pada posisinya.


" Tidak Cantika, Tante akan terus memohon padamu," Dewi menangis tersedu - sedu memohon untuk kebebasan putrinya.


" Maaf, Mbak Dewi. Apapun yang Mbak lakukan pihak kami tidak akan mencabut tuntutannya. Jadi sebaiknya Mbak jangan lakukan hal ini," kata Ja'far memberitahu Dewi kalau keputusannya memenjarakan Anggit tidak dapat diganggu gugat lagi.


" Kring "


" Kring "


" Kring "


    Terdengar suara telephon berbunyi, dan semua pandangan terarah ke sumber suara. Dan bunyi itu berasal dari handphone milik Budiono.


   Budiono yang merasa tak enak saat semua perhatian orang mengarah padanya, langsung angkat kaki ke depan rumah untuk mengangkat panggilan telephonnya.


    Setelah Budiono melakukan pembicaraan yang singkat di telephonnya, dia meminta Dewi untuk pulang bersamanya. Dan kedua orang itu pulang dengan hati yang kecewa, karena tidak mendapatkan apa yang di inginkannya.


" Kal Al, kalau orang tadi saudara Bunda. Berarti aku bersaudara dong sama si Mak Lampir ?" Mentari yang dari tadi hanya melihat akhirnya berkomentar juga.


" Ya, tentu saja kamu dan si Mak Lampir bersaudara."


     Alex yang mendengar penuturan Mentari hanya tersenyum mengejek, kemudian meninggalkan Mentari berjalan ke arah Cantika.


" Aku nggak terima kalau si Mak Lampir itu saudara aku !" Teriak Mentari dan itu mengundang perhatian semua orang di sana.


\* \* \* \* \* \* \*



Mampir ke karya aku yang baru, ya. Rencananya buat ikutan lomba Karya Anak Genius. Mohon dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2