
Petugas Desa itu pun akhirnya menghubungi kantor perusahaan milik Hakim Group. Saat sambungan telepon sudah terhubung, beberapa saat kemudian panggilan itu diangkat oleh karyawan Perusahaan Hakim Group.
" Halo, selamat pagi. Dengan Perusahaan Hakim Group disini. Apa ada yang bisa kami bantu?" Jawab karyawan Perusahaan Hakim saat mengangkat teleponnya.
" Ah, iya. Begini nona, ada tiga anak kecil ingin menghubungi pemilik Hakim Group." Kata Petugas Desa itu.
" Maaf, maksud anda bagaimana?" Kata karyawan Perusahaan Hakim.
" Ada tiga anak kecil yang tersesat kemarin. Dan sekarang mereka meminta di sambungkan teleponnya kepada Bapak Khalid." Jelas Petugas Desa itu secara pelan - pelan, agar karyawan Perusahaan Hakim memahami perkataannya.
" Anda sedang tidak bercanda kan?" Tanya Karyawan itu mulai gusar, karena merasa dipermainkan. Buat apa tiga anak kecil menghubungi pengusaha kaya dan terkenal.
" Maaf, Pak. Biar saya saja yang berbicara kepadanya." Kata Angkasa, dan Petugas Desa itu pun memberikan teleponnya kepada Angkasa.
" Halo, selamat pagi?" Sapa Angkasa dengan sopan.
" Selamat pagi." Jawab karyawan itu kembali.
" Apa Kakek Khalid sudah datang ke kantor hari ini, Nona?" Tanya Angkasa.
" Tentu saja beliau sudah datang ke kantor. Adek mau apa?" Karyawan itu balik bertanya.
" Sekarang juga beritahu kepada Kakek Khalid bahwa Angkasa putra sulungnya Alexander Green Andersson, keponakannya Aurora Green. Telah menelepon dari Desa Nelayan di Pantai Selatan."
" Saya kasih waktu sepuluh menit. Bila tidak disampaikan pesan saya. Maka bersiap - siaplah anda, saat saya sudah pulang nanti!" Ancam Angkasa karena merasa gusar dengan karyawan itu.
Waktu sudah lebih dari sepuluh menit, tapi pihak Perusahaan Hakim, belum juga balik menelepon.
" Itu karyawan beneran nggak sich, ngasih tahu Kakek Khalid." Kata Bintang yang sejak tadi mondar - mandir tidak tenang.
" Kita coba menelepon rumah sekali lagi!" Langit memberi ide.
Mereka pun meminta kembali kepada Petugas Desa untuk menelepon ke rumahnya. Dan saat sambungan telah terhubung, Langit sangat senang. Ditunggunya telepon itu diangkat.
" Assalamualaikum, selamat pagi." Salam seseorang dari seberang telepon.
" Wa'alaikumsalam….Om Erlangga ini Langit!!!!" Langit menjawab salam dari Erlangga begitu semangat.
" Langit…. Kamu baik - baik saja?" Erlangga nggak kalah terkejut dan semangatnya dalam menjawab panggilan dari keponakannya itu.
" Iya. Aku, Kak Angkasa, dan Kak Bintang. Semuanya selamat dan baik - baik saja. Hisk… Hisk..."
Langit malah nangis saat berbicara dengan Erlangga. Dia sungguh bahagia bisa bicara dengan salah satu keluarganya.
" Langit, kamu kenapa menangis?" Erlangga sangat panik saat mendengar tangisan Langit.
__ADS_1
" Nggak apa - apa. Langit hanya senang mendengar suara Om lagi." Jawab Langit.
" Langit sekarang kalian sedang berada dimana? Papa kalian masih mencari di dalam hutan!" Erlangga bertanya.
" Kita sekarang sedang berada di Desa Nelayan di Pantai Selatan." Langit memberi tahu.
" Baiklah, Om akan memberitahu Papa kalian. Agar menjemput kalian disana.!" Ucap Erlangga.
" Ingat kalian jangan kemana - mana sampai Papa kalian datang!" Perintah Erlangga.
" Baik, kita akan menunggu disini. Bilang sama Papa, kalau kita sudah diselamatkan oleh seorang nelayan yang bernama Bapak Danang." Jelas Langit.
" Iya, akan Om bilang pada Papa kalian." Sambungan telepon pun terputus.
Dan sekarang semuanya kembali lagi ke rumahnya Danang. Sambil menunggu jemputan mereka bermain di sisi pantai.
Walau hari sudah tengah hari, tapi jemputan belum juga datang. Akhirnya mereka pulang ke rumah, karena sebentar lagi sudah masuk waktu shalat Dzuhur.
Setelah selesai sholat, mereka makan siang bersama. Seperti tadi pagi - pagi, mereka berlima makan lesehan di teras rumah.
Dari kejauhan terlihat seseorang yang berlari di jalanan yang menanjak.
" Papa….!" Teriak Langit yang saat itu sudah selesai makan dan hendak kembali ke pantai.
Mendengar teriakan Langit. Angkasa dan Bintang berlari keluar pagar rumah Danang. Ketiga anak kembar itu pun berlari ke arah Alex yang sama - sama berlari ke arahnya.
" Papa!!!" Ketiganya memeluk tubuh Alex.
" Jagoannya Papa, kalian semua baik - baik saja kan ?!" Tanya Alex masih memeluk mereka dengan erat.
" Iya, kita semua baik - baik saja!" Jawab Angkasa mewakili saudara - saudaranya itu.
" Papa hampir gila saat tahu bus wisata kalian mengalami kecelakaan. Apalagi jatuh ke jurang." Kata Alex sambil memandang wajah anaknya satu persatu.
" Alhamdulillah kita semua dapat selamat, Pah. Walau Langit sempat menghilang, karena terlempar dari dalam bus." Kata Langit terselip rasa bangga.
" Iya, Papa sudah dengar dari guru kalian"
Alex tersenyum mendengar cerita Langit, yang merasa bangga masih bisa selamat walau dirinya terlempar dari bus wisata itu.
" Apa anda ayah dari mereka bertiga?" Tanya Danang yang baru keluar dari dalam rumahnya.
" Ah, iya benar Pak. Saya Papanya mereka bertiga." Jawab Alex dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Danang.
" Perkenalkan nama saya, Alex."
__ADS_1
" Nama saya Danang."
" Loh, Pak. Siapa mereka ini?" Tanya Lastri yang merasa kaget dengan banyaknya orang yang berseragam di depan rumahnya.
" Kenalkan, Bu. Dia Papanya si kembar!" Kata Danang.
" Oh, pantesan si kembar wajahnya bule. Papanya yang orang asing." Lastri tersenyum ramah pada bule tampan di depannya itu.
" Nona Bintang!" Panggil Michael saat dirinya baru sampai. Dia berlari sekuat tenaga, saat Alex memberitahu keberadaan anak - anaknya. Karena pada saat itu Michael berpisah dengan Alex.
" Michael!" Teriak Bintang langsung berhambur memeluknya.
" Nona, apa anda baik - baik saja?" Tanya Michael dengan matanya yang berkaca - kaca.
" Iya, kita semua baik - baik saja, Michael." Jawab Bintang.
Alex senang melihat wajah Michael yang tersenyum lagi pada Bintang. Karena hanya saat bersama Bintang lah, Michael bisa tersenyum.
" Saya mengucapkan banyak terimakasih, atas pertolongan dan bantuan Bapak, Ibu sekeluarga. Terhadap ketiga anak saya, dan mohon maaf sudah merepotkan kalian." Kata Alex bersungguh- sungguh.
" Tidak apa - apa kok Mister. Justru saya sangat senang bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka." Danang merasa canggung bicara sama bule yang fasih bicara bahasa Indonesia.
" Mari masuk Mistar," Ajak Danang kepada Alex.
Alex dan Si Trio Kancil ikut masuk ke dalam rumah. Dan didalam mereka sempat berbincang - bincang. Alex pun menawarkan pekerjaan kepada Danang. Untuk menjaga dan merawat rumah miliknya yang akan di tinggalkan selama mereka tinggal di Amerika.
Awalnya Danang menolaknya, tapi Lastri membujuknya supaya menerima pekerjaan itu. Karena pekerjaannya ringan dan tidak beresiko seperti saat dia pergi ke tengah lautan untuk mencari ikan. Apalagi mereka sekeluarga akan ikut tinggal di rumah itu. Danang pun menyetujuinya saat istri dan anak - anaknya setuju.
" Pah, tadi kita main ke rumah hantu yang ada di atas tebing itu!" Kata Langit.
" Oh,ya? Kalian ngapain main kesana?" Tanya Alex penasaran.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
KASIH BINTANG LIMA JUGA DAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
DUKUNG AKU TERUS YA.
TERIMA KASIH.
MAMPIR KE KARYA AKU YANG LAINNYA. NGGAK KALAH SERU....
MAMAKU WANITA SUPER & PAPAKU SUPER GENIUS.
__ADS_1