
Hari ini Bintang main ke rumah Khalid, niatnya ingin bertemu dengan Ghazali. Sudah satu Minggu mereka tidak bertemu, dan itu membuat dia jadi kepikiran. Takut telah terjadi apa-apa kepadanya.
Dengan membawa jus jambu merah kesukaan Ghazali. Bintang berjalan di teras kediaman Khalid yang sangat besar dan megah. Saat akan mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam.
"Bintang … ternyata sudah datang! Ayo masuk," ajak Aurora sambil menggandeng tangan Bintang.
"Oma, kok sepi. Pada pergi kemana?" tanya Bintang sambil mengarahkan pandangan melihat sekeliling.
"Opa Khalid, sedang pergi ke rumah temannya. Kalau Ghazali … sepertinya dia ada dikamarnya," jawab Aurora dan mengajak Bintang duduk.
"Kebetulan Bintang punya buah jambu merah. Ingat kalau Om Ghaza suka sama jus jambu, jadi Bintang buatkan," Bintang menyodorkan tiga botol berukuran sedang yang berisi jus jambu, ke arah Aurora.
"Oma boleh nggak, Bintang naik ke atas. Mau bertemu sama Om Ghaza?" tanya Bintang dengan tatapan penuh harap.
"Ya, tentu saja! Dia lagi di kamarnya. Mungkin sedang main game," jawab Aurora sambil melihat ke arah lantai atas.
Bintang pun dengan cepat menaiki anak tangga. Saat di depan pintu kamar Ghazali, dia mengetuk pintu dengan ragu-ragu.
"Siapa?" tanya Ghazali sesaat setelah Bintang mengetuk pintunya.
"Ini aku Om, Bintang!" jawab Bintang dengan suara tercekat.
Kemudian pintu kamar pun terbuka, dan menampilkan sosok yang Bintang rindukan seminggu ini. Tubuh Bintang refleks langsung memeluk Ghazali.
"Tumben, main kesini?" tanya Ghazali saat melihat Bintang yang berdiri di depannya.
"Bintang rindu sama Om," jawab Bintang dengan khas suara manjanya.
Bintang melepaskan pelukannya, karena tidak merasakan balasan dari Ghazali. Setelah Bintang melepaskan pelukannya Ghazali berjalan ke sofa yang ada di dalam kamarnya, dan membiarkan pintu itu terbuka.
Bintang pun mengikutinya, dan duduk di depannya. Diperhatikannya wajah Ghazali yang terasa dingin, tidak ada senyum jahilnya. Sorot matanya juga terlihat lebih tajam dan dalam.
__ADS_1
"Om … baik-baik saja kan?" tanya Bintang sambil terus memperhatikan Ghazali.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Ghazali yang matanya tidak lepas dari laptop yang berada di pangkuannya.
"Sepertinya Om sedang marah kepadaku?" suara Bintang yang pelan masih mampu didengar oleh Ghazali.
"Tidak, kenapa aku harus marah kepadamu?" bantah Ghazali, matanya masih saja terpaku menatap layar laptopnya.
"Lalu kenapa Om, sulit sekali dihubungi?" tanya Bintang lagi. Sungguh Bintang ingin menjadi laptop yang ada di pangkuan Ghazali. Biar di lihat seperti itu oleh Ghazali.
"Aku, sedang sibuk seminggu belakangan ini. Kalau nomor telepon, aku ganti sama no yang baru. Nanti aku kasih nomor baru," jawab Ghazali tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Nggak perlu, sekalian saja nggak usah bertemu lagi selamanya!" Bintang langsung berdiri dan berjalan keluar kamar, tapi dengan cepat Ghazali menarik tangannya.
"Apa maksudnya?" tanya Ghazali dengan pandangan terluka saat mendengar kata-kata Bintang barusan.
"Sepertinya Om sudah tidak mau melihatku lagi!" Bintang menatap wajah Ghazali yang sudah dirindukannya seminggu ini.
"Sejak tadi Bintang duduk di depan, Om. Sementara Om sendiri malah asik dengan laptop," jawab Bintang masih dengan air matanya yang berderai. Bintang merasa sakit hati karena keberadaanya di abaikan oleh Ghazali.
"Maaf, aku sedang mengecek laporan keuangan rumah sakit. Ada beberapa orang yang melakukan penggelapan dana pembelian alat medis dan obat-obatan. Aku sudah dua malam ini lembur, dan sekarang di hari libur pun, aku harus menyelesaikan ini semua. Beberapa hari kedepan jadwal operasi juga agak padat," kata Ghazali.
Ghazali memang sibuk belakangan ini, soal nomor teleponnya yang diganti, itu karena Amara terus saja meneleponnya tidak kenal waktu. Ghazali sendiri menyayangkan hubungannya dengan Amara yang terjalin hampir dua belas tahun, harus berakhir. Amara adalah cinta pertama baginya, dan banyak kenangan indah saat bersamanya.
Dulu saat Amara selesai kuliah, mengajak Ghazali untuk menikah. Berbeda dengan Ghazali yang belum menyelesaikan kuliahnya, apalagi dia melanjutkan dengan menjadi dokter spesialis jantung. Ghazali nggak masalah menikah saat itu, tapi Amara tidak mau diajak tinggal di Jerman. Jadinya mereka menangguhkan pernikahan ini sampai Ghazali menyelesaikan kuliahnya. Justru setelah mereka membicarakan masalah pernikahan hubungan mereka menjadi renggang. Apalagi, Ghazali sering mendapatkan laporan dari teman-temannya soal kedekatan Amara dan Andre. Ghazali tidak ambil pusing karena mereka memang sudah dekat dari dulu, semenjak Amara menjadi pacarnya.
Kini Bintang kembali lagi duduk di sofa, tetapi kali ini disamping Ghazali. Bintang bersandar di bahu Ghazali sambil memainkan game di handphone-nya. Sedangkan Ghazali masih sibuk dengan hasil laporan keuangan di rumah sakit yang kini menjadi tanggung jawabnya.
"Ah, Om tadi Bintang buatkan jus jambu. Tunggu Bintang ambilkan!" Bintang baru ingat dengan jus jambu buatannya.
Tak berapa lama Bintang pun membawa dua gelas jus jambu merah.
__ADS_1
"Ini Om, minum dulu!" Bintang menyerahkan segelas jus jambu yang dia bawa kepada Ghazali.
"Terima kasih, kalau seperti ini sudah layak menjadi istri yang Sholeha," kata Ghazali sambil tersenyum manis pada Bintang.
Dikatain seperti itu oleh Ghazali, jantung Bintang serasa ingin melonjak keluar. Senyum di wajah Bintang tak berhenti, karena saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.
Bintang yang bersandar di bahu Ghazali tanpa sadar dia jatuh tertidur. Begitu juga Ghazali karena kelelahan bekerja dia juga sama jatuh tertidur. Kedua orang itu tidur di atas sofa sambil duduk, dengan posisi saling bersandar satu sama lain.
Kedua orang itu tidur dengan pulasnya sampai Aurora membangunkan mereka.
"Ghaza, kamu sudah sholat Dzuhur, apa belum?" tanya Aurora, karena tadi dia merasa tidak melihat Ghazali pulang dari masjid.
Ghazali yang terkejut langsung bangun, dan pergerakannya yang tiba-tiba itu membuat Bintang juga terkejut. Keduanya melihat jam dinding yang ada di kamar Ghazali. Jam itu sudah menunjukkan pukul satu lebih. Itu berarti keduanya tertidur lebih dari satu jam. Saat mereka tidur tadi belum masuk waktu Dzuhur. Akhirnya Ghazali dan Bintang sholat berjamaah.
Kini Ghazali makan siang bersama Bintang berdua saja, karena yang lain sudah makan dari tadi. Bintang pun melayani Ghazali saat makan siang. Seperti yang sering Mama-nya lakukan saat makan bersama keluarganya.
"Ghaza, apa benar kamu sudah putus dari Amara?" tanya Aurora tiba-tiba, begitu masuk ke ruang makan.
Sontak itu membuat Bintang terkejut, sedangkan Ghazali tersedak oleh makanannya. Bintang langsung memberikan air di gelas miliknya kepada Ghazali, dan langsung diminum habis.
"Mama tahu darimana?" tanya Ghazali sambil melihat kearah Aurora.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
MAMPIR JUGA YA KE KARYA AKU YANG BARU
__ADS_1