
Bintang dan Ghazali yang saling pandang dengan tatapan penuh cinta. Senyumnya tidak lepas dari wajah kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu. Seolah pelukan bagi mereka tidak cukup.
"Bintang, apa boleh aku menciummu?" tanya Ghazali dengan tatapan penuh harapnya.
"Om boleh mencium Bintang, jika kita sudah jadi suami istri," jawab Bintang sambil tersenyum malu dan kedua pipinya kini merona.
Ghazali yang melihat Bintang seperti itu menjadi sangat gemas pada gadis kecilnya. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin menjadikan Bintang sebagai istrinya.
"Kalau begitu kita kawin lari, yuk!" ajak Ghazali kepada Bintang dengan senyuman menggodanya.
"Eh! Kenapa meski kawin lari?!" tanya Bintang terkejut saat mendengar ucapan Ghazali barusan.
"Tentu saja, karena Aria tidak akan melepaskanmu," jawab Ghazali dengan suaranya sarat akan kesedihan mengingat betapa sahabatnya itu juga begitu sangat mencintai Bintang.
"Siapa bilang?!" Bintang tersenyum mengejek Ghazali dengan tatapan jahilnya.
"Maksud kamu?" tanya Ghazali dengan tatapan penuh selidik, karena dia tahu Bintang sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sebaiknya kita kembali ke Hotel Artemis dulu," Bintang menggandeng tangan Ghazali hendak menuju motornya. Namun dengan cepat Ghazali menarik tangan Bintang sehingga kembali ke pelukan Ghazali.
"Mau kemana mobilnya di sini!" kata Ghazali sambil mengarahkan pandangannya ke mobil sport miliknya. Bintang pun tersenyum malu.
"Terus motor itu?" tunjuk Bintang pada motor milik karyawan cafe Cantika.
"Itu biar si Michael yang bawa," kata Ghazali.
"Memangnya Uncle Michael tahu aku ada di sini?" tanya Bintang dengan sangat terkejut, karena dia tidak bisa merasakan keberadaan Michael.
"Ada tuh lagi sembunyi!" tunjuk Ghazali ke sebuah tempat di atas bangunan yang berhadapan dengan rumah sakit.
"Uncle Michael, tolong bawakan motor ini ke Hotel Artemis, ya!" teriak Bintang sambil mengacungkan kunci motornya dan membuat beberapa orang yang di parkiran menoleh ke arahnya.
Ghazali dan Bintang pun masuk kedalam mobil.
" Ayo katakan maksud perkataan kamu tadi?!" tanya Ghazali sambil memasangkan sabuk pengaman pada Bintang.
__ADS_1
"Om Aria bilang, jika Om Ghaza datang sebelum pertunangan Bintang. Lalu meminta Bintang padanya dengan cara yang baik, maka Om Aria akan melepaskan Bintang dan merelakannya untuk Om Ghaza," jawab Bintang sambil tersenyum ke arah Ghazali yang jarak wajah mereka berdua kurang dari sepuluh centimeter itu.
"Benarkah ada pembicaraan yang seperti itu," tanya Ghazali dengan suaranya yang pelan sambil melihat ke arah mata Bintang.
"Hm …," jawab Bintang.
"Oleh karena itu mintalah Bintang kepadanya dengan cara yang baik," lanjut Bintang dengan berbisik.
Ghazali merasa sangat bahagia saat mendengar berita ini. Memang pada dasarnya Ghazali itu belum ahli dalam mengendalikan dirinya jika berhadapan dengan Bintang. Dalam satu detik bibirnya itu langsung mencium bibir ranum milik Bintang, mengungkapkan perasaannya saat ini.
Bintang yang awalnya terkejut dengan serangan dadakan dari Ghazali, akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Ghazali. Sebab beberapa pukulan yang di layangkan olehnya kepada Ghazali itu tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Ghazali sepertinya tidak mau melepaskan sesuatu yang sangat disukainya ini. Dia mengakhirinya ketika napasnya sudah habis. Dia tidak sadar dengan perbuatannya itu sudah membuat Bintang jatuh lemas, untung sabuk pengamannya sudah terpasang. Napas keduanya memburu saling berebut oksigen.
"Kenapa Om melakukannya lagi?" suara Bintang jelas terdengar bergetar. Tatapannya menatap kecewa kepada Ghazali.
Ghazali yang baru saja sadar dengan perbuatannya itu, bisa membuat masalah baru lagi dengan Bintang. Dengan cepat Ghazali memegang tangan Bintang dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"Maaf Bintang … ku mohon maafkan aku, yang tidak bisa menahan diri jika sedang berhadapan denganmu," jujur Ghazali kepada Bintang.
"Apa kamu tidak menyukai saat aku menciummu?" tanya Ghazali dengan suaranya yang pelan dan terdengar sangat terluka.
"Kalau begitu kita menikah malam ini juga!" ajak Ghazali dan itu membuat Bintang terkejut.
"Kita harus mempersiapkan dulu segala sesuatunya Om," jawab Bintang, " lagian mau sampai kapan kita berada di parkiran ini?"
"Sampai kamu bilang ingin menikah hanya denganku," kata Ghazali sambil tersenyum jahil.
Mendengar perkataan Ghazali barusan membuat jantung Bintang makin berdebar kencang. Mukanya juga sudah merah merona. Dengan bibirnya yang bergetar Bintang berbicara.
"Bintang ingin menikah sama Om Ghaza, hanya sama Om Ghaza. Tidak mau sama yang lain!" jawab Bintang dengan menahan rasa malunya.
"Baiklah ayo kita ke Hotel Artemis, untuk meminta kamu kepada Aria!" Ghazali langsung melajukan mobilnya menuju ke Hotel Artemis tempat semua orang sedang berkumpul. Dengan hati yang berbunga-bunga dan bibir yang terus tersenyum, Ghazali sudah tidak sabaran ingin menghalalkan Bintang.
*******
__ADS_1
Bintang dan Ghazali sudah sampai ke Hotel Artemis, dan ternyata masih banyak para tamu undangan di sana. Kehadiran mereka berdua membuat kegaduhan baru di sana. Terutama keluarga Alex, Khalid, dan Andi.
"Kalian ini, membuat kami cemas saja!" kata Aurora begitu melihat dua sejoli yang baru saja meresmikan hubungan mereka.
"Bintang kenapa tadi kamu kabur?" tanya Cantika yang masih sembab wajahnya akibat menangis tadi.
"Tadi ada yang menelepon Bintang. Dia bilang kalau Om Ghaza mengalami kecelakaan di jalan raya. Bintang panik takut terjadi apa-apa kepada Om Ghaza. Setahu Bintang, harusnya Om itu ada di Italia. Namun Isabella, tadi bilang Om Ghaza juga rencananya mau ke sini. Jadi Bintang takut kalau Om beneran mengalami kecelakaan itu," jelas Bintang.
"Aku kira kamu kabur di hari pertunangan ini, karena sudah tidak mau lagi dengan Aria. Serta memilih laki-laki lain?!" sindir Andi, Om-nya Aria.
Mendengar kata-kata dari Andi barusan, hati Bintang merasa sakit. Benar dia ingin menggagalkan pertunangan ini, dan memilih Ghazali sebagai laki-laki yang akan menjadi suaminya. Bintang hanya diam saja, bingung mau bicara apa. Hanya matanya yang berkaca-kaca mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Apa maksud kamu?!" Alex tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Andi kepada putrinya.
"Tanyakan saja kepada putri kesayangan kamu itu?!" balas Andi karena kecewa kepada Bintang.
"Aria! Aku akan mengatakan semuanya. Kalau kamu akan menyerahkan Bintang kepadaku, seandainya aku memintanya kepadamu secara baik-baik," kata Ghazali yang berada di tengah kerumunan keluarga mereka.
"Aku minta kepadamu lepaskanlah Bintang sesuai keinginannya itu, dan tepati janjimu sebagai laki-laki. Serahkan Bintang kepadaku, karena aku akan membuat hidupnya lebih bahagia," kata Ghazali lagi, tanpa takut atau malu dengan omongan orang lain karena telah merebut calon tunangan orang lain.
Semua orang yang ada di sana langsung gaduh karena ucapan Ghazali barusan. Para tamu undangan yang ada di ruang aula pun keluar ruangan ingin melihat apa yang terjadi di lobi hotel. Termasuk para sahabat Bintang yang penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada Bintang. Kenapa sampai ada kejadian seperti ini juga. Serta penasaran dengan laki-laki yang berada di sisi Bintang.
"Apakah laki-laki tampan itu yang dulu, sempat di bicarakan oleh Bintang dan wanita yang menemuinya di cafe itu?" tanya Luna kepada Selena.
"Ya, dia adalah Om Ghazali yang sangat disayangi oleh Bintang," jawab Selena.
"Bukannya dia itu seorang dokter muda berbakat yang terkenal itu?" kata Bryan tiba-tiba ikut menimpali omongan teman istrinya itu.
"Hubby, kamu kenal dia?!" tanya Husna kepada suaminya bule-nya.
"Dia itu ... "
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.