Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 39


__ADS_3

Alex menjemput anak - anak kesekolah ditemani Arthur. Saat dia masuk ke lingkungan sekolah dia bertemu dengan Ibu Kepala Sekolah.


" Dad, kenalkan ini Ibu Wati Kepala Sekolah disini. Dan juga guru Alex waktu SD dulu ", 


" Hallo senang bertemu dengan anda ", Arthur mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik.


" Senang bertemu dengan anda juga Tuan ", Ibu Wati tersenyum ramah.


" Alex apa mau menjemput si Trio Kancil ? " tanyanya sambil tersenyum.


" Iya, Bu. Apa mereka sudah bubar, ya ? Kok sudah pada sepi ", tanya Alex saat mendapati suasana sekolah sudah sepi.


" Iya, tadi sekolah dibubarkan sampai jam istirahat. Dan anak - anakmu sudah pulang di jemput Mentari ", kata Kepala Sekolah.


" Oh, kalau begitu saya permisi, Bu ", Alex dan Arthur pamit dan berjalan menuju mobil.


" Alex hubungi Cantika dulu, Dad ", Alex pun mentelphone Cantika mencari tahu keberadaan anaknya.


     Alex berusaha mentelphone Cantika, tapi tidak juga diangkat. Sudah beberapa kali dia mencoba terus mentelphone, panggilan tersambung tapi Cantika tidak juga mengangkatnya. Dan itu makin membuat Alex khawatir.


     Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju cafe. Saat sampai di cafe dilihatnya para pegawai sedang panik.


" Ada apa ini ?" tanya Alex begitu masuk ke dalam cafe.


" Itu Mister, anak - anak mengalami kecelakaan bersama Mbak Mentari ", jawab salah seorang pegawai.


" Apa...!!! ", Alex begitu terkejut.


" Sekarang mereka berada di mana ?",


" Di Rumah Sakit HARAPAN ",


" Dad, ayo kita ke Rumah Sakit ", Alex dan Arthur berlari ke arah parkiran tempat mobilnya di parkir.


    Alex melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Untung keadaan jalanan sudah lengang. Alex terus berdo'a di dalam hati, untuk keselamatan anak - anaknya.


    Begitu sampai di halaman Rumah Sakit, Alex asal - asalan memarkirkan mobilnya. Dia buru - buru berlari ke arah IGD. Dan dilihatnya Cantika sedang berdiri di dekat pintu masuk. Alex pun datang menghampiri.


" Cantika, bagaimana keadaan anak - anak ?" terdengar nafas Alex yang memburu akibat berlari.


" Mereka hanya mengalami luka memar ", jawab Cantika.

__ADS_1


" Tidak membahayakan nyawanya kan ?",


" Alhamdulillah tidak, karena Mentari menjalankan mobilnya dengan pelan ",


" Kenapa mereka bisa mengalami kecelakaan ?",


" Kita bisa bertanya pada mereka nanti ".


     Pembicaraan Alex dan Cantika terhenti saat Angkasa dan Langit datang menghampiri mereka.


" Sayang kalian tidak merasakan sakit yang amat sangat, di kepala atau di badan ?" Alex berjongkok menjajarkan tubuhnya dengan dua anaknya itu.


" Tidak, Pah " jawab Langit.


" Kita baik - baik saja " jawab Angkasa.


" Apa perlu kita lakukan CT scan ?" Alex mengalihkan pandangannya pada Cantika meminta pendapat.


" Tadi sudah di usulkan ke dokter. Tapi katanya tidak perlu. Karena tidak ada luka yang serius ",


" Kita itu jangan menyepelekan segala sesuatu ", Alex berpendapat kalau lebih baik dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


" Bisa saja diluar terlihat baik - baik saja nggak ada luka. Tapi di dalam ada bagian tubuh yang terluka. Dan itu lebih berbahaya ", lanjut Alex.


     Mentari dan Bintang yang duduk di kursi depan yang langsung kena dampak dari kecelakaan itu. Mentari terluka di kening dan hidungnya. Sedangkan Bintang hanya keningnya saja yang memar. Sedangkan Angkasa dan Langit tidak mengalami apa - apa walau keningnya tadi kena benturan kursi depan.


     Alex dan kedua anak laki - lakinya menghampiri Bintang yang selesai di obati perawat. Sedangkan Cantika menghampiri Mentari, yang juga sudah selesai diobati oleh perawat lainnya.


" Sayang mana yang sakit ?" Alex bertanya pada Bintang dengan tatapan khawatir.


" Tidak terlalu sakit, kok. Pah ", jawab Bintang sambil tersenyum.


" Tapi sayang itu memar di kening pasti sakit ?" Alex menatap Bintang dengan sorot mata yang khawatir.


" Luka segini nggak ada apa - apanya. Karena Bintang itu anak yang kuat ", Bintang mulai sombong.


" Bilang sama Papa kalau dirasa ada yang sakit, ya ". Alex tersenyum mendengar penuturan putrinya itu.


     Bintang hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia turun dari brankar pasien yang di bantu oleh Alex.


" Ini gimana kejadiannya sampai kalian bisa ngalamin kecelakaan ?" tanya Arthur yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka.

__ADS_1


                  * * * * * * *


Tiga jam yang lalu, 


     Mentari mengendarai mobilnya untuk menjemput anak - anak di sekolah. Karena dia tadi menerima telephone dari sekolah keponakannya itu. Memberitahu bahwa anak - anak minta di jemput karena sekolah dibubarkan. Pihak sekolah selalu mengabari orang tua atau wali murid bila sekolah dibubarkan. Ini untuk mencegah para murid berkeliaran atau main diluar tanpa sepengetahuan orang tuanya atau gurunya.


" Anak - anak ayo kita pulang !!!", Mentari memanggil keponakannya dengan penuh suka cita.


" Kok Tante Mentari yang jemput ?" tanya Bintang.


" Tante nggak pergi kerja ?" Langit menatap wajah Tantenya penuh tanya.


" Tante nggak kerja, karena jemput kalian ", Mentari membukakan pintu belakang mobil untuk kedua bocah laki - laki masuki. Sedangkan Bintang duduk di kursi depan bersamanya.


" Kalau Tante lagi kerja seharusnya jangan jemput kami ! ",  protes Angkasa.


" Iya, nanti kita di marahi Kakek Ja'far karena Tante bolos kerja ", Langit ikut - ikutan sewot.


" Eh, maksudnya karena Tante sedang nggak kerja, jadi datang menjemput. Karena Mama kalian tidak bisa dihubungi tadi ", Mentari memberikan alasan.


" Tante bisa mampir dulu ke toko buku ?! ", pinta Bintang.


" Siap, Bos....!!!" Cantika menyetujui ajakan Bintang.


                   * * * * * * *


     Setelah mengantar Bintang ke toko buku, Mentari melajukan mobilnya menuju cafe, untuk mengantarkan anak - anak. Saat di pertigaan jalan ada mobil berwarna merah dari arah berlawanan melaju dengan kencang menuju ke arahnya, padahal jalanan sedang lenggang. Sontak saja Mentari yang terkejut langsung banting setir mobil. Dan akhirnya menabrak pagar rumah warga. Sedangkan mobil yang hendak menabraknya itu kabur dengan kecepatan tinggi. Tabrakan mobil Mentari dengan pagar terdengar bunyinya keras. Sehingga mengundang orang yang punya rumah datang keluar melihat apa yang sedang terjadi.


     Mark yang waktu itu bertugas menjadi pengawas anak - anak. Menolong Mentari dan anak - anak yang shock, akibat kecelakaan itu. Mark langsung membawa mereka semua masuk ke dalam mobilnya. Dan membawa mereka ke Rumah Sakit, karena melihat Mentari terluka dan mengeluarkan darah di kepalanya. Mark juga sempat meminta maaf pada pemilik rumah, dan nanti akan kembali lagi untuk tanggung jawab ganti rugi atas kerusakan pagar akibat dari tabrakan mobil Mentari.


     Mark tidak bisa menghubungi Alessio atau Akira, karena batu handphonenya habis. Mark juga mengingat plat nomor mobil yang berusaha menabrak mobil Mentari.


" Aaaah sial... " Mark merutuki kebodohannya karena lupa mencharge handphonenya.


" Ada apa uncle ? " tanya Angkasa yang duduk disampingnya.


Mark yang sedang mengemudikan mobilnya memalingkan wajahnya sekilas ke arah Angkasa. Lalu kembali lagi fokus menyetir.


" Batu ponsel Paman habis lupa di charge tadi " kata Mark.


" Pakai ponsel Angkasa saja. Nih !! " Angkasa memberikan ponselnya.

__ADS_1


Begitu sampai Rumah Sakit, Mark langsung membawa mereka semua ke IGD.


* * * * * * *


__ADS_2