
Angkasa membawa Chelsea kembali ke apartemen, tapi bayi itu menangis terus tidak mau diam. Sudah berbagai cara dilakukan oleh Angkasa. Hal yang dulu selalu bisa membuat adik-adiknya terdiam, tidak mempan terhadap Chelsea. Hal-hal konyol yang selalu dilakukan oleh Langit saat mengasuh adiknya pun sudah dia coba. Namun, hasilnya masih saja nggak mempan.
"Chelsea, sudah dong! Capek kalau nangis terus," rayu Angkasa sambil memberikan biskuit bayi untuknya.
"Ma ... ma ...!" Chelsea menggoyang-goyangkan kepala dan tubuhnya.
Angkasa tahu apa maunya Chelsea, tapi dia terlalu gengsi untuk menelpon Paris agar datang ke apartemennya. Maka, Angkasa pun membawa Chelsea ke balkon kamarnya. Mencoba merayunya dengan memperlihatkan awan yang bergerak, tapi malah semakin kencang tangisan Chelsea.
"Halo, ice prince! Ada apa dengan baby?!" Tiba-tiba Venesia, bertanya dan mengejutkan Angkasa.
"Kemana kekasihmu? Kemarin Chelsea anteng aja main sama dia!" Kali ini Athena yang bertanya.
"Tidak ada! Dan bukan urusanmu!" jawab Angkasa dengan nada kesal, lagi-lagi orang disekitarnya selalu mengingatkan Paris.
"Wah ... jangan-jangan kalian bertengkar, ya?!" Athena malah tersenyum ngejek.
Angkasa menatap tajam kepada Athena. Dia tidak suka saat ada yang merendahkannya. Termasuk senyuman yang mengejek dirinya.
"Oh, lihat! Tebakan aku benar ternyata!
" Kamu itu sudah membiarkan seorang wanita menunggu berjam-jam di depan pintu apartemen kamu sambil menggendong bayi.
"Kamu, tidak tahu! Kalau ada beberapa teman laki-laki, dari si tetangga sebelah, kemarin telah menggoda kekasihmu.
"Seharusnya kamu kasih kode apartemen kepadanya, biar menunggu di dalam jangan diluar.
"Oh. Atau jangan-jangan ada kekasih lain yang kamu sembunyikan di dalam kamar apartemen kamu!"
Athena terus nyerocos dan membuat Angkasa semakin marah dan jelek moodnya. Tidak ada satu ucapan pun yang keluar dari mulutnya. Angkasa lebih memilih masuk kamar.
Athena dan Venesia terdiam dan bengong saat Angkasa masuk lagi ke kamarnya. Tingkah Angkasa malah terlihat lucu di mata kedua orang itu.
"Dia pasti lagi merajuk!" Venesia tertawa lepas dan itu bisa didengar oleh Angkasa yang sedang berdiri di dekat pintu mau menguncinya.
"Iya. Sepertinya, dia sedang marahan sama kekasihnya." Athena masih saja memperhatikan balkon kamar Angkasa.
"Jadi, beneran dia sudah punya pacar? Ah, nggak jadi deh aku mau PDKT." Venesia memasang wajah sendunya. Sementara Athena malah tertawa lepas.
*******
Angkasa pun akhirnya, menghubungi Peter, dan menyuruh Paris agar datang ke apartemennya. Dia sudah menyerah tidak bisa mendiamkan Chelsea. Angkasa pun hanya bisa mondar-mandir di ruang tengah sambil memeluk tubuh Chelsea.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu di buka. Begitu terlihat sosok Paris, Chelsea langsung, minta digendong.
"Ma ... ma!" Panggilannya sambil menangis.
"Chelsea, Sayang. Ada apa! Kenapa menangis?" Paris langsung mengambil alih Chelsea dari gendongan Angkasa.
Angkasa merasa kesal karena begitu Paris menggendongnya Chelsea, langsung diam. Peter yang melihat itu, hanya diam menahan senyumannya. Meski dia tadi sempat kesal karena baru saja sampai flat, mengantarkan Madina. Angkasa menelponnya untuk membawa Paris kepadanya. Bagi Peter, Angkasa itu masih seperti bocah, yang mudah merajuk dan mudah dibujuk.
__ADS_1
"Darling, makanan milik Chelsea di simpan di mana?" tanya Paris saat melihat Chelsea seperti kelaparan.
"Peter, kasih tahu di mana letak menyimpan biskuit dan makanan lainnya milik Chelsea!" Perintah Angkasa kepada Peter.
Peter dan Paris saling tatap, melihat keanehan yang terjadi kepada Angkasa. Kedua orang itu seolah sedang bicara lewat mata. 'Apa sesuatu yang terjadi, kepada Angkasa?'
"Peter mau sampai kapan kalian saling pandang begitu?!" Suara Angkasa yang tinggi menunjukan apa yang sedang dilakukan oleh Peter, dia tidak menyukainya.
"Darling, lagi marah!" Paris bicara tanpa suara hanya gerak mulutnya saja.
'Yang benar, dia sedang cemburu nona,' batin Peter.
Paris pun lebih memilih mengikuti Peter, dari pada di sana ditatap tajam terus oleh Angkasa. Paris dan Peter yang berdiri berdampingan ditambah Chelsea yang didudukan di meja, terlihat seperti sebuah keluarga.
"Peter, mana laporan bulanan milikku?!" tanya Angkasa agar Peter mendatangi dirinya dan menjauh dari Paris.
"Bukannya kemarin lusa sudah saya berikan kepada Anda, dan sudah selesai di periksa," jawab Peter.
*******
Angkasa merasa malu sendiri, dia akhirnya memilih masuk kamarnya dan mandi. Mungkin dengan begitu, pikiran dia akan lebih tenang dan bersih dari bayang-bayang menyeramkan baginya. Meski dia sudah berendam hampir setengah jam bayangan Paris, Peter dan Chelsea, terus saja kebayang. Angkasa merasa dirinya menjadi aneh, setelah dia mencium Paris dengan kasar. Kebencian dia kepadanya, malah membuat bayangan gadis itu semakin menguat.
"Tidak … tidak! Aku harus bisa mengatasi ini secepatnya. Jangan biarkan bayangan mereka menguasai pikiranku!"
*******
Angkasa selesai mandi niatnya mau makan siang. Namun, apa yang dilihatnya begitu membuka pintu kamarnya adalah Paris berada diatas tubuh Peter. Melihat itu Angkasa menjadi sangat murka.
"Kau! Semalam bilang aku seorang gigolo! Lalu kamu sendiri apa? Kamu juga sama dengan wanita malam, yang jatuh dari satu pelukan laki-laki ke pelukan laki-laki lainnya!
"Menjijikan! Pergi dari sini!" Usir Angkasa kepada Paris, tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
"Darling … deng--" ucapan Paris terpotong.
"Diam! Jangan pernah panggil aku seperti itu lagi. Jijik aku mendengarnya!" Angkasa memotong pembicaraan Paris.
Paris yang merasa sakit hati, akhirnya pergi dari sana. Namun, dia kembali lagi ketika Chelsea memanggil dan berjalan ke arahnya. Paris pun pergi dengan membawa Chelsea bersamanya.
Angkasa bisa melihat dengan jelas derai air mata dari Paris. Namun, saat ini emosi sedang menguasai hatinya.
"Tuan Muda Angkasa, sepertinya sudah salah paham. Tadi, itu--"
"Diamlah Peter! aku sedang tidak mau berbicara denganmu!" Angkasa langsung memotong pembicaraan Peter dan masuk ke kamarnya.
*******
Paris yang masih sakit hati dan menangis, sambil menggendong Chelsea. Dia duduk di taman, yang kebetulan siang ini sangat sepi. Paris, menangis dengan kencang. Tidak malu karena tidak ada orang lain kecuali Chelsea. Paris yang menangis histeris karena sakit hati dengan ucapan Angkasa, yang tidak mengizinkan memanggil dia dengan panggilan sayang. Chelsea menghapus jejak air mata Paris, di pipinya.
"Chelsea, kalau sudah besar jangan seperti dia, ya?!"
__ADS_1
"Pa … pa."
"Iya. Jangan seperti papa! Kamu harus jadi orang baik kayak mama."
"Ma … ma."
"Halo, Miss. Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya seorang laki-laki yang baru saja berdiri di depannya.
"Tentu saja sedang bermain bersama putriku!" jawab Paris ketus karena mood lagi jelek, jadi laki-laki itu menjadi pelampiasan kekesalan dirinya.
"Siapa nama gadis cantik ini?"
Paris memperhatikan laki-laki itu. Dia berperawakan tinggi dan badannya kekar. Bisa dilihat dari lengan yang berotot, dada bidang, dan bahunya yang lebar karena dia memakai kaos pas body. Wajahnya terlihat ramah, senyuman dan lesung di pipinya langsung mencuri perhatian, Paris.
"Maaf, saya tidak kenal Anda. Permisi," kata Paris langsung berdiri dan beranjak dari sana.
"Hei, Miss. Tunggu! Anda mau kemana?" tanya laki-laki itu sambil mengikuti Paris.
Paris yang teringat kalau nyawa Chelsea, sedang ada yang mengincar. Dia tidak boleh dekat dengan sembarang orang apalagi orang asing dan tidak dikenal olehnya. Paris melangkah dengan cepat bahkan cenderung berlari. Begitu dia akan masuk ke dalam mobilnya, dia melihat ada Angkasa dan Peter di sana.
Angkasa dan Peter yang akan pergi ke salah satu perusahaan game miliknya, dikejutkan oleh panggilan dari Paris. Kedua orang itu melihat Paris yang berjalan dengan tergesa-gesa dan diikuti oleh seorang laki-laki.
"Sayang, sudah selesai, ya! Pekerjaannya bereskan?" tanya Paris begitu dekat dengan Angkasa dan Peter.
"Oh, Miss. Kamu membuat aku khawatir. Aku kira ada apa? Kenapa, kamu sampai jalan dan berlari seperti itu." Laki-laki yang mengikuti Paris pun berdiri di dekat mereka bertiga.
Tadinya Paris mau berlindung ke belakang tubuh Angkasa. Namun, ingatan tadi kembali membayangi dirinya. Jadi, Paris memilih ke arah Peter saja.
"Oh, apa Anda kekasihnya?" tanya laki-laki itu kepada Peter.
Peter bingung mau jawab apa. Kalau dia membenarkan, nanti Angkasa marah. Jika sebaliknya, takut Paris kenapa-kenapa.
"Iya, dia suamiku. Ayah dari bayi ini!" Kata Paris menjawab pertanyaan dari laki-laki itu.
Angkasa membelalakan matanya dan melihat ke arah Paris yang mendekap Chelsea dengan erat. Dia langsung kesal kepada Paris. Menurutnya, gadis itu semakin menyebalkan.
*******
Nah loh Angkasa, Paris mengumumkan Peter suaminya dan Chelsea adalah anaknya. Lalu bagaimana reaksi Angkasa selanjutnya?
Siapa laki-laki yang mengikuti Paris?
Tunggu kelanjutannya ya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.