Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 34


__ADS_3

      Angkasa, Akira dan Athena bersembunyi di lorong rahasia. Tentu saja Chelsea juga ikut bersama mereka. Angkasa kali ini menggendong Chelsea dari arah depan. Keamanan tubuh Chelsea juga sudah pasangkan jaket anti peluru. Chelsea memang bayi yang jenius, dia mengerti hanya diberi tahu sekali dua kali dan tidak rewel dibawa kemana pun. Asal dia bersama Angkasa.


     Akira membuka laptop miliknya yang berhasil meretas kamera cctv, markas Red Dragon. Layar itu memperlihatkan dua kubu yang saling berhadapan. Akira dan Angkasa hanya diam memperhatikan keadaan di sana.


*******


     Kubu Milan melawan kubu Roma. Meski ini markas Milan, tetapi jumlah personil jauh kalah jumlah. Roma yang memiliki dukungan yang banyak, merasa di atas angin.


"Kamu sudah terkepung. Menyerahlah!" perintah Roma.


     Milan hanya tertawa terkekeh mendengar ucapan dari Roma. Dia tidak peduli dengan itu. Mau dikepung atau tidak, itu bukan masalah bagi Milan. Bagi kelompok yang merasa lemah dalam kekuatan, maka mereka akan menggunakan otak untuk menutupi kelemahannya itu.


     Kelompok mafia Red Dragon membagi dirinya menjadi sepuluh tim. Tiap tim dikendalikan oleh seorang petinggi. Ruangan depan sudah dipenuhi oleh lima petinggi yang Pro Roma. Berarti enam dengan dirinya. Milan sengaja tidak menempatkan para anggotanya di dalam ruangan sana. Sebab, dia punya rencana tersendiri.


"Maaf saja. Aku bukan orang yang mudah untuk dikalahkan dan juga yang mudah menyerah," kata Milan dengan tenang.


     Roma dan petinggi lainnya terpancing emosi dengan kata-kata Milan. Maka, dalam satu menit berikutnya, tembakan terdengar di dalam ruangan itu. Selanjutnya, banyak asap yang keluar dari pentilasi udara. 


     Milan dan anggotanya langsung memakai masker anti gas. Asap yang keluar itu adalah gas beracun yang menyerang pernapasan dan akan mengakibatkan kematian.


"Berengsek, kau Milan!" Roma dan para anggota yang pro petinggi menembaki ke arah Milan, secara sembarangan. 


     Sementara Milan dan anggotanya pergi melalui pintu rahasia yang ada di dekat anak tangga, tanpa sepengetahuan lawannya. Pintu keluar dan jendela pun semuanya dikunci. Sehingga Roma dan beberapa petinggi dan anggotanya terperangkap di dalam ruangan itu.


"Semuanya cepat keluar! Ini gas beracun," teriak Roma.


"Pintu dan Jendela tidak bisa dibuka!" jawab beberapa orang dari anggotanya.

__ADS_1


"Hancurkan dulu kaca jendelanya! Agar asapnya keluar dari ruangan ini!" perintah Roma lagi kepada orang-orang yang ada di sana.


     Maka semuanya pun menghancurkan kaca jendela. Sedangkan yang sebagian lagi menembaki handle pintu, agar bisa di buka. Semua kaca jendela telah di pecahkan. Begitu juga dengan pintu berhasil dibuka. Banyak anggotanya yang menjadi korban bahkan petinggi yang berusia paruh baya meninggal di sana. Hanya sebagian kecil anggota yang bisa selamat, itu pun dalam keadaan lemah. Mereka tidak akan mampu melakukan perlawanan jika musuh menyerang.


"Hanya segini, yang masih ... bisa bertahan?" tanya Roma dengan napas yang tersengal-sengal.


"Iya, kita harus mundur dulu dan melakukan pengobatan," kata salah satu petinggi yang masih selamat.


"Iya, itu benar. Anggota yang masih bersisa pun kelihatan tidak bisa melakukan perlawanan," lanjut petinggi yang lainnya.


     Hanya ada tiga petinggi yang selamat dari sana. Sedangkan, sisanya yang tiga lagi sudah meninggal karena gas beracun. Saat itu terdengar suara beberapa mobil masuk ke sana. Kedatangan mereka membuat Roma dan kawan-kawannya, pasrah mati untuk saat itu juga.


     Alessio dan anak buahnya datang ke sana atas permintaan Akira. Barusan juga dia mendapat informasi kalau Milan menggunakan gas beracun di dalam ruangan itu. Jadinya, Alessio dan anak buahnya menunggu instruksi dari Akira. Kelompok mafia yang menjadi lawan bebuyutan mereka kini sedang berada di ambang batas kehancuran. Allecio sangat senang akan hal itu.


"Halo," sapa Alessio.


"Mau apa kamu datang kemari?" tanya salah seorang petinggi.


"Aku hanya ingin menyapa saja," jawab Alessio.


"Omong kosong!" kata petinggi yang lainnya.


     Maka dua petinggi itu langsung menembakan peluru ke arah Alessio dan anak buahnya. Tentu saja Alessio dan anak buahnya tidak akan tinggal diam, setelah mendapatkan serangan itu.


     Roma dan anggota miliknya memilih bersembunyi dari pertempuran dua kelompok mafia. Mereka sadar tidak akan selamat, jika ikut dalam pertempuran itu.


*******

__ADS_1


     Angkasa, Akira dan Athena menyaksikan pertempuran dua kelompok mafia itu lewat layar laptopnya. Ketiga orang itu hanya bisa menelan air liurnya, melihat pertempuran yang mirip pembantaian itu. Meski kelompok Red Dragon dalam keadaan lemah, tetapi masih bisa menjatuhkan lawannya meski hanya beberapa orang saja.


"Waw, Uncle Alessio. Makin tua semakin menjadi!" seru Angkasa saat melihat aksi dari Alessio.


"Ya, begitulah." Akira mencari jalan yang kira-kira dipakai oleh Milan saat kabur tadi.


"Apa sekarang kita sudah bisa keluar dari sini?" tanya Athena berharap segera keluar dari sana.


"Tidak. Jangan dulu! Situasi di luar belum aman," cegah Akira.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan Paris, sekarang?" Angkasa sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan istrinya.


******


Bagaimana keadaan Paris?


Dimana Paris berada sekarang?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2