Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 32


__ADS_3

     Angkasa menatap Roma, tidak percaya kalau temannya itu mengenali Chelsea. Angkasa tidak mau gegabah karena saat ini nyawa Chelsea dalam bahaya. Dia tidak akan mempercayainya begitu saja, apa yang dikatakan oleh orang lain.


"Cheche ini uncle Roma," katanya sambil memegang tangan Chelsea. Namun, Chelsea hanya diam saja bahkan memalingkan mukanya.


"Sepertinya, dia tidak mengenalimu." Angkasa langsung membayar dan beranjak pergi begitu saja dengan langkahnya yang lebar.


"Hei, Angkasa dia itu keponakan aku. Mana mungkin aku akan berbuat jahat padanya!" Roma berteriak karena Angkasa telah berjalan agak jauh dari sana.


     Angkasa tidak menggubris teriakan Roma. Baginya kini harus cepat ke tempat Paris di sekap. Chelsea juga tidak memberikan respon untuk Roma. Angkasa pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya.


     Ternyata Roma mengikuti Angkasa dengan kecepatan penuh juga. Angkasa tidak mau berhenti meski Roma sudah memberikan sinyal untuknya. Justru Angkasa malah semakin cepat laju mobilnya saat di jalanan kosong.


******


     Bintang dan Langit kini memeriksa kamar utama, yaitu milik Caracas dan Wina. Kamar tidur yang luas dan mewah itu dalam keadaan berantakan. Seperti, habis ada yang membongkar karena mencari sesuatu. Barang-barang dari dalam lemari juga banyak yang berhamburan. Laci meja semua terbuka.


"Sepertinya, ada orang-orang yang melakukan penggeledahan. Mereka mencari sesuatu yang sangat penting." Langit berkeliling kamar untuk mencari petunjuk atau informasi baru.


"Iya, kamu benar. Sesuatu itu tidak berhasil mereka temukan sehingga dia benar-benar sangat marah dan menendang guci keramik antik ini," kata Bintang yang berjongkok di dekat guci yang sudah pecah.


     Langit pun membuka pintunya yang ke arah balkon. Udara hangat langsung terasa menerpa Langit. Saat dia berdiri di balkon ada sesuatu yang tersimpan di sana.


      Bintang pun mengikuti jejak Langit untuk ikut menikmati hangatnya sinar matahari. Keduanya pun mengedarkan arah pandangan mereka ke segala penjuru. Terasa lenglang dan sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.


"Sebaiknya kita pulang. Atau kita kunjungi wanita yang memberikan Chelsea," kata Langit.


"Oh, wanita yang diselamatkan oleh Angkasa?" tanya Bidan.


     Langit dan Bintang pun memutuskan pergi ke rumah sakit. Untuk mengetahui kondisi wanita itu.


******


"Kenapa ada foto Kakek San Marino di pajang di sini?" gumam Athena tapi masih bisa di dengar oleh Akira.

__ADS_1


"Apa kamu mengenal orang ini?" tanya Akira menunjuk pada foto yang terpasang di atas.


"Iya, dia kakekku. Tapi kenapa fotonya dipasang di sini?" tanya Athena tidak tahu.


"Sudah aku bilang tadi kalau foto yang terpasang di sini itu adalah para petinggi, kelompok Red Dragon." Akira memberitahu Athena.


"Kalau begitu, aku turunan mafia, dong!"


"Ya, bisa jadi."


"Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau masuk ke keluarga mafia!" Athena merengek seperti anak kecil.


"Keluarga aku juga, Yakuza." Akira berjalan meninggalkan Athena.


"Tunggu, aku!"


     Akira dan Athena memasuki salah satu kamar pelayan. Mereka berganti pakaian dan menyamar menjadi pelayan di sana.


     Athena yang terpesona akan tubuh milik Akira, tanpa sadar melangkahkan kakinya. Tangannya meraba tubuh Akira dengan penuh damba. Sementara, Akira malah bengong dan diam saja.


"Ah, Paman Akira. Kenapa tubuhnya bagus sekali?" Athena yang tidak tahu malu terus meraba perut eight pack dengan gerakan pelan.


"Athena, kamu jangan mulai. Kita sedang menjalakan misi." Akira menahan dirinya dari godaan Athena.


     Athena pun melepaskan tangannya, kemudian tersenyum lebar. Dan penuh dengan kekecewaan.


'Sabar ... sabar! Nanti akan tiba waktunya aku bisa pegang-pegang sepuasnya.' batin Athena.


"Sebagai gantinya, satu ciuman, ya!" pinta Athena.


     Akira dengan senang hati memberikan satu ciuman panas untuknya. Athena membalasnya dengan penuh semangat. Ciuman Akira, membuat Athena mabuk kepayang karena senang.


"Sudah, sekarang kita lanjutkan lagi misinya!" perintah Akira dan Athena menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


     Keduanya pun berbaur dengan para pekerja di sana. Tidak banyak bicara orang-orang di sana. Menjadikan, keduanya mudah menyusup dan mencari informasi. Akira menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pura-pura sebagai pekerja, Akira mencari kamar tempat penyekapan Paris.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sana?" Terdengar suara laki-laki yang berat dengan bentakan.


     Akira diam mematung saat ada seseorang yang menegurnya. Dia pun memasang wajah ketakutan. 


"Maaf, tuan. Aku sedang bertugas membersihkan tempat di lantai dua ini." Akira tahu betul siapa yang berdiri di hadapannya sekarang. Dia adalah salah satu jajaran petinggi di kelompok Red Dragon.


"Apa kamu, pegawai baru?" tanya Milan.


"Saya, hanya di pindah tugaskan ke sini, hari ini. Biasanya saya di bagian dapur, Tuan," jawab Akira.


"Apa kamu tidak tahu, kalau dilarang naik ke lantai dua!"


"Maafkan aku, Tuan. Kepala Pelayan tidak memberitahu itu, tadi."


"Baiklah, tapi jangan kamu ulangi!" Milan berjalan dan mengeluarkan kunci dari sakunya. Kemudian, masuk ke dalam sebuah kamar.


     Akira memperhatikan itu dan bergumam, "apa itu kamar tempat Nona Paris, di sekap?"


*******


Apakah benar kamar yang dimasuki oleh Milan adalah tempat Paris berada?


Tunggu kelanjutannya ya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2