Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 49


__ADS_3

    Bintang yang menemani Luna di rumah sakit. Karena Luna hidup sebatang kara, semenjak SMA. Orang tuanya sudah meninggal saat dia masih kecil, kemudian dia dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Keduanya meninggal dalam satu tahun berturut-turut. 


     Luna, menjadi perempuan yang mandiri. Dia kuliah dengan beasiswa, dan bekerja paruh waktu di berbagai tempat untuk biaya hidupnya. Itu jugalah yang membuat seorang pengusaha muda jatuh cinta kepadanya dan menikahinya. Rumah tangganya hanya berjalan lima tahun, karena adanya seorang perempuan yang menggoda suaminya. Sehingga sering terjadi pertengkaran diantara mereka. Akhirnya terjadi perceraian, karena suaminya menikahi wanita lain.


    Setelah cerai dari suaminya, Luna merintis usaha sendiri. Dia membuat sebuah butik dan kedai kopi yang tempatnya berdampingan. Dia dan anaknya juga tinggal di tempat itu. Dalam satu tahun usahanya berkembang dengan pesat, karena dia punya banyak kenalan orang-orang kalangan atas yang sering memberikan dukungan kepadanya.


    Ternyata istri mantan suaminya itu, masih ingin melenyapkan Luna. Sepertinya belum cukup dengan merebut suami Luna dulu.


"Luna, syukurlah semuanya dalam keadaan baik. Tinggal fokus dengan kesembuhan kaki dan luka-luka yang ada di tubuh kamu." Bintang menggeram tangan Luna.


"Terima kasih. Maaf sudah membuat kamu repot. Bahkan di hari pesta pernikahanmu," kata Luna sambil meneteskan air matanya di pipinya yang mulus.


"Tidak apa-apa, kita 'kan teman!" Bintang menggelengkan kepalanya.


    Luna tersenyum tipis karena masih dalam keadaan lemah. Tak lama datang Husna, untuk menjenguk. Luna sangat senang sekali saat melihat teman-teman begitu perhatian terhadap dirinya.


"Luna, aku sudah melaporkan kejadian semalam kepada pihak kepolisian. Sekarang mereka sedang menyelidikinya," kata Bintang saat Luna sudah selesai makan obatnya.


"Terima kasih Bintang," balas Luna.


"Anak kamu juga sudah aku bawa dari rumah. Jangan sampai si Mak Lampir itu, menculik Amora." Husna yang sudah mengenal baik anak Luna, membawanya untuk tinggal sementara di rumahnya.


"Terima kasih, ya. Aku sangat senang punya sahabat yang begitu perhatian kepadaku," Luna malah menangis terharu. Ketiga perempuan itu kini berpelukan.


******


    Bintang menugaskan Michael untuk menjaga Luna di rumah sakit. Dia sengaja memberi tugas itu kepada Michael karena kedua orang itu diam-diam menjalin hubungan. Bintang ingin Michael mempunyai pendamping hidup di usianya yang sudah terlalu matang. Luna juga memerlukan seorang yang bisa menjaga dan melindungi dia dan anaknya.


    Ghazali yang sedang cuti pun, tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Apalagi seminggu kemarin dia sudah mengambil jatah cuti setahun miliknya. Kini tinggal empat hari lagi. Maka dia tidak mau melewatkan bulan madunya. Dia membawa Bintang pergi berbulan madu ke Lombok. 


    Waktu libur yang singkat, tidak akan bisa membawa Bintang untuk pergi bulan madu ke pulau pribadinya. Pemberian Christopher dulu saat masih hidup. Pulau pribadi yang sudah dia siapkan untuk anak dan cicitnya, sebagai hadiah pernikahan. Kemarin secara resmi pengacara keluarga Green memberikan dokumen kepemilikan pulau pribadi atas mana Ghazali.

__ADS_1


     Selama empat hari itu dimanfaatkan oleh Ghazali untuk memupuk cinta Bintang kepadanya. Agar semakin kuat dan kokoh. Bintang yang masih labil dalam segala hal, begitu menurut kepada suaminya. Dia mencontoh mamanya, yang selalu menurut apa kata papanya. Selagi itu masih dalam ridho Allah.


    Bintang dan Ghazali sangat puas menjalani kegiatan bulan madunya, walau hanya empat hari. Itu juga sudah termasuk dalam perjalanan pergi dan pulang.


*******


    Selagi Bintang pergi berbulan madu. Si Mak Lampir, atau wanita yang bernama Hera. Sedang merencanakan suatu pembalasan kepada Bintang. Karena Bintang sudah menjebloskan kakak laki-lakinya ke dalam penjara.


    Selain Luna, kini Hera menjadikan Bintang sebagai target barunya. Orang yang harus disingkirkan olehnya. Hera ingin menyingkirkan Luna, karena tanpa sengaja dia menemukan sebuah dokumen rahasia milik suaminya. Kalau harta kekayaannya akan diberikan semuanya kepada Luna. Maka Hera pun berusaha melenyapkan Luna, agar dia yang akhirnya bisa menguasai harta kekayaan suaminya itu.


    Hera meminta bantuan kakak kandungnya, untuk membereskan Luna. Namun siapa sangka kalau temannya Luna akan melakukan pembalasan untuk kakaknya.


    Hera yang menyelidiki Bintang dengan diam-diam. Dia akan menunggu waktu yang pas untuk membalas dendam kepada Bintang. Apalagi saat ini Bintang sedang pergi berbulan madu.


*******


    Bintang yang baru pulang berbulan madu dengan Ghazali, wajahnya berseri-seri memancarkan cahaya kebahagian. Dia juga menularkan kebahagiaan itu kepada semua orang yang ada di dekat dirinya.


    Ghazali yang langsung memboyong ke mansion utama keluarga Hakim. Di sana mereka akan menjalani hari-harinya sebagai pasangan suami istri. Walau Bintang masih berusia belia, di sudah mampu mengatur pengelolaan keluarga Hakim. Dia mengurus banyak orang yang bekerja di sana. Baik itu pelayan atau pasukan tim keamanan yang markasnya masih berada di bukit yang sama dengan mansion utama Hakim.


"Iya, nanti kita makan siang bersama, ya!" Ghazali memeluk dan mengusap kepala Bintang.


    Bintang pun mencium tangan Ghazali sebelum berpisah, karena mereka menaiki mobil masing-masing."Semoga Allah selalu meridhoi setiap usaha Abang," kata Bintang.


" Aamiin … semoga istriku yang cantik ini juga selalu berada di dalam ridho-NYA." Ghazali mencium ubun-ubun Bintang, dan di aamiin 'kan oleh istrinya itu.


*******


    Hera yang selalu mengintai Bintang semenjak masuk kuliah. Dia terus membuntuti kemana Bintang pergi. Saat Bintang ke rumah sakit untuk menemui Luna. Hera pun tersenyum senang.


"Akhirnya aku juga bisa menemukan kamu, Luna!" Hera yang bersembunyi di balik jendela kaca saat Bintang memasuki ruang inap milik Luna.

__ADS_1


"Hahaha … ternyata Dewi Keberuntungan masih berpihak kepadaku," gumam Hera dengan matanya yang tidak pernah meloloskan dari pandangan Luna dan Bintang.


******


    Luna menyambut kedatangan Bintang dengan suka cita. Selama pergi bulan madu, Bintang tidak menerima panggilan telepon. Ghazali menonaktifkan ponsel milik Bintang dan juga miliknya.


"Hm … yang sudah pergi bulan madu, terlihat benar rona kebahagiaannya. Tularkan kepada aku juga dong!" canda Luna sambil tersenyum lebar.


"Bukannya kamu juga sedang berbahagia, karena selama ini Hot Daddy selalu menemani kamu setiap hari sepanjang waktu dua puluh empat jam!" Husna yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu, mengatakan hal yang membuat Luna malu. Sampai-sampai mukanya berubah merah.


"Iya, kemarin saat aku masuk ke sini. Aku melihat mereka berdua--" Selena mengadukan jari-jari tangannya yang mengisyaratkan berciuman.


   Keempat perempuan itu tertawa bersama. Mereka berbincang sampai jam makan siang. Karena Bintang sudah janjian dengan suaminya mau makan siang bersama.


"Uh … yang sudah punya suami. Bawaannya selalu ingin bersama-sama dalam melakukan apapun itu," goda Husna sambil tersenyum menggoda Bintang, dan diiringi tawa yang lainnya.


"Biarin! Kalian itu cuma iri sama aku!" balas Bintang sambil menahan tawa, dan cepat-cepat pergi meninggalkan kamar temannya itu.


    Saat Bintang akan menuju lift, yang bersebelahan dengan tangga darurat. Ada seseorang yang mendorongnya, sehingga dia terjatuh ke tangga bawah.


"Ahk….!" terika Bintang begitu dia didorong ke arah bawah tangga.


"Ahk … sakit!" Bintang memegangi perutnya.


Bintang merasa ada yang keluar dari daerah intinya. Kemudian tangannya meraba kebelakang bokongnya, dan dia melihat darah membasahi gamisnya di bagian sana.


"Tidak!" teriak Bintang sebelum dia pingsan.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV,, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2