
Seorang gadis bule berparas cantik, sedang memandang langit biru dan awan berarak diatas sana. Badannya yang berbalut gamis dan hijab dibiarkannya saat terkena panasnya sinar matahari. Kehangatan yang sering dirindukannya, saat pulang kampung. Setelah sebelas tahun dirinya menetap di negara asal Papa-nya, kini dia memutuskan untuk tinggal kembali di Indonesia.
"Bintang!"
Ya, gadis bule berparas cantik itu adalah Bintang. Salah satu dari Si Trio Kancil, yang kini sudah berusia tujuh belas tahun.
Saat mendengar seseorang memanggil namanya, Bintang mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dilihatnya Didi dan Dodo sedang berjalan sambil membawa dua kantong kresek makanan.
"Kenapa kalian lama?" tanya Bintang sambil mengulurkan tangannya menerima dua kantong kresek berwarna putih.
"Antri Kak Bintang!" jawab Dodo sambil duduk di samping Bintang.
"Mana yang punya aku?" tanya Bintang saat melihat bungkus plastik cilok itu sama semua.
"Terserah kakak mau yang mana? Karena disamakan semuanya," jawan Dodo sambil melihat ke arah Bintang yang sedang mengeluarkan jus alpukat pesanannya.
"Nih, kalian juga ayo makan. Jangan tunggu sampai dingin," kata Bintang sambil menyerahkan sebungkus cilok kepada Didi dan Dodo.
"Jus jeruk punya siapa?" tanya Bintang sambil memegang cup gelas plastik di tangan kanannya.
"Itu punya ku!" jawab Didi. Bintang pun memberikannya kepada Didi.
"Berarti jus strawberry punya Dodo?" Bintang menyerahkan segelas jus strawberry itu kepada Dodo.
Didi yang duduk disamping Bintang, hanya bisa menundukkan kepalanya. Jantung dia berdetak berkali-kali lipat dari biasanya. Didi tahu kalau dia sudah jatuh cinta kepada nona mudanya itu. Tapi dia hanya bisa memendamnya saja. Karena dia tahu kalau nona mudanya ini sudah punya pacar atau calon suami.
Bintang yang duduk diapit oleh Didi dan Dodo, menunjukkan rona wajah yang bahagia. Karena sekarang dia bisa bermain bersama lagi dengan mereka berdua. Biasanya saat liburan sekolah mereka hanya bisa menghabiskan waktu cuma dua sampai tiga hari saja untuk bermain bersama. Sisanya sering digunakan untuk bersilaturahmi pada keluarga pihak mamanya, Cantika.
"Eh, bukankah itu Om Aria?" tanya Bintang dan langsung berdiri saat melihat seorang laki-laki yang sudah di klaim-nya sejak masih duduk di bangku SD.
"Om Aria!" teriak Bintang sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Aria yang merasa dipanggil namanya pun, langsung balik melambaikan tangannya sambil tersenyum bahagia. Bintang pun berlari ke arahnya, dan Aria pun sama dia menghampiri Bintang dengan berjalan kaki. Saat mereka akan berpelukkan, ada tubuh seseorang yang menghalangi mereka berdua. Jadinya Bintang memeluk tubuh orang itu.
"Kalian mau ngapain! Berpelukan? Nggak boleh! Haram!" ucap orang itu dengan suaranya yang tegas dan terkesan dingin.
Bintang yang merasa kesal dengan orang yang sedang dipeluknya itu, mendongakkan kepalanya. Dilihatnya pemuda campuran bule berwajah tampan, kini sedang tersenyum mengejeknya. Karena telah berhasil menggagalkan aksi dari keponakannya itu.
"Ih, Om Ghaza ngapain sich, gangguin orang yang lagi melepas rindu," sewot Bintang kepada Ghazali, pemuda yang selalu menjahilinya dan menganggapnya selalu anak kecil.
"Kan kita berdua juga sedang melepas rindu. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu?" tanya Ghazali kepada Bintang yang masih ada dalam pelukannya. Mata biru langit mereka saling memandang.
"Kamu itu minggir!" Aria memisahkan mereka berdua, dan menarik Bintang kearahnya.
"Dasar Om cabul, sama keponakannya sendiri suka main peluk-peluk!" Aria masih saja ngedumel ke Ghazali karena sudah mengganggunya dengan calon tunangannya itu.
"Apa kamu bilang? Aku Om-om cabul. Lalu kamu?" tanya Ghazali dengan menatap tajam ke arah Aria.
"Tentu saja bukan, karena aku tidak pernah cium-cium Bintang tuh!" balasnya dengan perasaan dongkol, karena dulu mereka berdua ditambah Erlangga sering berbagi cerita. Saat Aria tahu, kalau Ghazali dan pacarnya belum pernah berciuman. Erlangga dengan tanpa dosa bilang kalau ciuman pertama Ghazali telah diambil oleh Bintang. Sambil tertawa Erlangga juga bercerita, entah berapa kali Bintang mencium bibir Ghazali.
Perkataan Ghazali barusan membuat geram Aria, dan membuat malu Bintang. Bintang itu punya kebiasaan buruk saat masih kecil, suka meniru apa yang dilakukan Alex dan Cantika. Bintang sering mencium Ghazali, hanya untuk menghilangkan rasa kesal dan kecewa yang sedang dialami oleh Ghazali. Kegiatannya itu sering Bintang lakukan sampai usia baligh. Karena Alex dan Cantika sering menasehatinya. Dan Ghazali terakhir kali merasakan lembutnya bibir Bintang, empat tahun yang lalu, saat usia bintang tiga belas tahun.
"Sudah kalian berdua hentikan! Malu sama umur!"
Bintang, selalu pusing bila kedua orang ini sedang beradu argumen. Akhirnya Bintang pun pergi meninggalkan keduanya, dan berjalan ke arah Didi dan Dodo yang sejak tadi duduk sambil memperhatikan mereka bertiga.
*******
Bintang, Didi, dan Dodo pulang dengan mengendarai mobil, yang disopiri oleh Didi.
"Didi, mau lanjut kuliah atau kerja?" tanya Bintang kepada Didi, yang duduk di kursi kemudi.
"Aku maunya langsung kerja aja, apalagi Om Erlangga memintaku untuk bekerja di anak perusahaannya," jawab Didi masih dengan pandangan fokus ke depan.
__ADS_1
"Ah, aku kira kamu mau melanjutkan lagi kuliahmu sampai S3," harap Bintang karena dia ingin punya teman saat melanjutkan kuliah S2-nya di Indonesia.
Walau usia Bintang masih tujuh belas tahun, tapi dia sekarang sedang kuliah pasca sarjana. Bintang sengaja ingin melanjutkan kuliahnya di Indonesia agar dia bisa sering bertemu dengan Aria. Karena kedua orang itu hanya bisa berkomunikasi lewat telepon atau video call saja.
Aria menepati janjinya akan melamar Bintang saat sudah besar. Sebenarnya Bintang yang selalu mengingatkan Aria akan hal itu. Apalagi saat Bintang ulang tahun, pasti akan mengingatkannya.
Aria bilang akan melamarnya saat umur Bintang delapan belas tahun, dan akan menikahinya saat berumur dua puluh tahun. Kini tinggal satu tahun kurang, Bintang akan dilamar oleh Aria. Kedua orang tua masing-masing pun sudah tahu, dan pada saling mengenal.
"Bintang apa benar kamu akan tunangan dengan Om Aria?" tanya Didi dengan suaranya yang tercekat.
"Iya, do'akan ya. Mudah-mudahan aku dan Om Aria berjodoh," pinta Bintang kepada Didi.
"Hem ...," jawab Didi tersenyum, dengan tangan memegang erat stir mobil.
"Didi apa kamu sudah punya pacar?" tanya Bintang sambil melihat ke arah Didi.
"Tidak!" jawab Didi dengan tegas.
"Kalau gadis yang kamu sukai? Ada?" tanya Bintang lagi karena penasaran dengan kehidupan pribadi milik Didi.
"Ya, ada. Tapi sayangnya dia sudah menyukai laki-laki lain," jawab Didi sambil tersenyum kecut.
********
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.
TERIMA KASIH.
__ADS_1