
"Angkasa!" Teriakan dari seorang yang diseganinya terdengar di tengah-tengah taman yang masih sepi.
Semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang laki-laki berwajah tampan meski hampir memasuki usia paruh baya. Jantung Angkasa dan Langit berdetak kencang saat melihat papa mereka berjalan dengan beberapa orang di belakangnya.
"Papa," sapa Angkasa dan Langit bersamaan.
Wajah Alex sangat tidak bersahabat, langkah kakinya yang lebar membuatnya cepat sampai ke arah putra sulungnya. Satu tamparan keras, Alex layangkan kepada Angkasa. Tindakannya itu membuat semua yang ada di sana terkejut.
"No, Papa!" teriak Chelsea yang berada dalam gendongan Bintang.
Angkasa baru pertama kali merasakan tamparan dari tangan papanya. Begitu sakit, panas, darah juga keluar dari sudut bibirnya dan telinganya pun berdengung. Paris yang melihat itu langsung berlari ke arah Angkasa. Diusapnya dengan lembut pipi yang kini berubah menjadi merah dan bekas telapak tangan tercetak begitu jelas di sana.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan kata-kata, Papa!" Alex menatap tajam dan kecewa kepada Angkasa.
"Peter, apa tugasmu untuk menjaga Angkasa terlalu berat?" tanya Alex sambil melihat ke arah Peter.
"Maaf, Tuan. Aku–" Peter merasa bersalah.
"Mulai sekarang kamu dibebaskan dari tugas! Kembali ke dalam kelompok kamu mulai besok!" Perintah Alex memotong pembicaraan Peter.
"Baik, Tuan." Peter pasrah atas perintah atasannya.
"Papa Alex, maafkan kita berdua. Itu karena—" Paris yang berdiri dekat Angkasa mencoba meminta maaf.
"Paris!" Suara teriakan yang lainnya memanggil Paris.
Paris melihat Daddy-nya berjalan dengan cepat ke arahnya. Namun, Angkasa lebih dahulu menarik tubuh Paris kebelakang tubuhnya. Dia tidak mau terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Hai, lihatlah tuan Alexander Green Andersson. Putramu sudah berani-beraninya mencuri putriku!"
"Mencuri! Tidak ada sejarahnya orang yang dalam tubuhnya mengalir darah Andersson, menjadi seorang pencuri!" Suara Alex yang meninggi membuat orang-orang yang berada di sana ketakutan. Bagi mereka ini pertama kalinya mendengar suara Alex yang sedang sangat marah.
"Aku tidak mengakui pernikahan mereka! Jadi, kembalikan putriku Angkasa! Aku tidak mau Keturunan Alaric bercampur dengan keturunan Andersson!" Helsinki menunjuk ke arah Angkasa.
"Kau pikir aku juga mau besanan sama penjahat seperti kamu! Tidak ada keturunan Andersson yang menjalin hubungan dengan keluarga penghianat!" Alex tidak kalah suara bentakannya.
"Bawa Paris pulang!" Helsinki menyuruh anak buahnya membawa Paris.
"Angkasa biarkan dia membawa anaknya!" Perintah Alex saat Angkasa mulai menghajar orang-orang yang hendak membawa Paris.
__ADS_1
"Tidak, Papa! Paris kini sudah menjadi istri Angkasa. Sudah menjadi kewajiban aku untuk melindunginya." Sambil berkelahi Angkasa menolak permintaan Alex.
"Kalian seret Angkasa dan Langit sekarang juga!" Perintah Alex kepada para pengawalnya untuk menarik kedua putranya yang sedang berkelahi demi melindungi Paris.
"Kak Al!" Ghazali mulai kesal melihat kelakuan para pria dewasa itu.
Helsinki berhasil menarik paksa Paris dan membawanya dengan paksa. Saat Angkasa berada dalam tawanan pengawal Alex.
"Darling!" teriaknya sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Daddy-nya. Paris menangis saat dirinya dipaksa pisah dengan Angkasa.
"Paris!" teriak Angkasa yang berada dalam tawanan para pengawal Alex.
"Papa, aku mohon! Jangan biarkan Paris dibawa olehnya!" pinta Angkasa dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Bawa Angkasa!" perintah Alex dan langsung berjalan menuju ke mobilnya.
"Mama ... Papa ...!" teriak Chelsea sambil menangis saat melihat Paris dan Angkasa ditarik saling menjauh.
Chelsea meronta berusaha melepaskan diri dari gendongan Bintang. Namun, dekapan Bintang sangat kuat. Sehingga, Chelsea tidak bisa lepaskan diri.
"Tunggu, Kak Al!" Ghazali berjalan dan menghadang para pengawal Alex.
"Ghaza, jangan ikut campur dalam urusan keluargaku!" Alex tidak suka saat ada yang mengganggu dirinya saat ini.
"Apa mau kamu?" Tatapan dingin Alex berikan kepada Ghazali.
"Lepaskan Angkasa dan Langit. Toh, Paris juga sudah dibawa pergi entah kemana!" pinta Ghazali.
"Jangan melebihi batas Ghazali!" Alex sudah benar-benar marah sekarang. Satu pukulan di layangkan kepada perut Ghazali.
Meski sempat mengelak tetap saja pukulan Alex mengenainya. Ghazali pun meringis merasakan sakit di perutnya. Apalagi kalau dia tidak sempat memundurkan langkahnya. Sudah dipastikan Ghazali akan terpental jauh. Ghazali langsung menendang pinggang Alex.
"Bagus, Ghaza. Sudah lama sekali aku tidak berkelahi. Sepertinya kamu lawan yang cocok, untuk melakukan pemanasan," kata Alex sambil tersenyum kecut.
"Papa! Abang! Sudah hentikan!" teriak Bintang.
Semua yang ada di sana langsung mengalihkan perhatiannya kepada Bintang. Tangan Bintang yang satu menggendong Chelsea dan satunya lagi memegang handphone miliknya yang tersembul video call dengan Cantika.
"Mama, sudah lihat semuanya!" kata Bintang masih dengan suaranya yang nyaring.
__ADS_1
"Sayang, aku tunggu kepulangan kamu, di rumah. Angkasa bawa mantu Mama, ke rumah, Ya! Bintang kalau kamu masih betah bermain, biarkan Ghazali pulang. Kasihan pasien yang selalu menunggunya. Langit kamu bantu Angkasa bawa kembali Paris. Biar Alma sama Mama saja di sini." Cantika memberi instruksi kepada anak, menantu dan suaminya.
"Ma, Alma harus sekolah. Jadi, belum bisa diajak bermain di sana," kata Langit.
"Ya sudah nggak apa-apa." Cantika tersenyum.
"Tapi, buat yang lainnya kalian jangan lupa pesan Mama, ya! Assalamu'alaikum." Cantika mengakhiri pembicaraannya.
"Papa tunggu kalian semua di rumah!" Perintah Alex sebelum dia pergi.
"Bintang, pilihan tepat menghubungi Mama!" Langit memberikan dua jempol tangannya.
"Cuma Mama yang bisa nenangin Papa," kata Bintang sambil tersenyum jahil.
*******
Kini semua orang berada di apartemen milik Angkasa. Peter telah siap-siap untuk kembali ke Amerika. Angkasa merasa sangat kehilangan karena orang yang selalu mendampinginya selama dua belas tahun, kini harus berpisah.
"Tuan Angkasa jaga diri baik-baik, ya! Aku juga mau titip Madina. Kalau ada apa-apa tolong bantu dia. Apalagi aku belum membicarakan semuanya tentang Sofia Praha," kata Peter kepada Angkasa.
"Iya, aku akan bantu sebisa mungkin. Lebih baik kamu juga berpamitan sama Madina. Mungkin dia akan bertanya-tanya atau cemas kalau kamu tiba-tiba menghilang begitu saja." Angkasa menepuk pundak Peter.
"Iya, Tuan. Aku akan menemuinya sebelum pergi," lanjut Peter.
"Sekalian aja kamu menyatakan cinta untuknya. Jika, dia menerima kamu dan kalian mau serius sampai ke jenjang pernikahan. Maka, saat ke Amerika mintalah pemberhentian menjadi pasukan shadow. Kayak Michael dia kini sudah hidup bahagia dengan istrinya." Bintang memberikan solusi kepada Peter.
"Iya, Nona Bintang. Terima kasih atas perhatiannya. Jika, Madina mau menerima aku. Maka, akan melakukan apa yang Nona, sarankan barusan." Peter tersenyum bahagia karena semuanya begitu perhatian padanya.
******
Bagaimana keadaan Paris setelah dipisahkan dengan Angkasa?
Akankah Paris dan Angkasa bisa secepatnya bersatu?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.