Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 42


__ADS_3

     Paris menidurkan Chelsea, di kamarnya. Tanpa dia tahu kalau ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan di balik gorden. Setelah Paris keluar dari kamar, orang itu juga menampakan dirinya. Seorang wanita berseragam pelayan, langsung mendekati kasur di mana Chelsea sedang tidur. Wanita itu pun langsung menyuntikan obat bius ke tangan Chelsea, agar tidak terbangun saat dia membawanya nanti.


     Chelsea dimasukannya ke dalam keranjang cucian untuk baju kotor. Wanita itu keluar dari kamar Paris dengan tenang. Dia bahkan menyapa sesama rekan pelayan. Saat masuk ke dekat tempat laundry, dia mengeluarkan Chelsea dan memasukannya ke dalam box tempat belanja sayuran. Box sayuran itu nanti akan dibawa oleh agen penjual sayur dan buah-buahan yang selalu mengirimkan stok ke mansion milik Jonathan.


     Saat ada petugas pengiriman sayuran, wanita itu memberikan kode kepada rekannya.


"Anda pegawai baru? Aku baru lihat!" Kepala Pelayan menyapa seorang laki-laki yang berwajah asik. Beda dengan orang yang biasanya melakukan pengiriman.


"Iya, Tuan Kepala Pelayan. Biasanya tugas aku bagian mengirim sayuran ke restoran. Kebetulan hari ini, petugas biasa sedang sakit. Jadi, saya untuk sementara di tugaskan ke sini," jawab laki-laki baru itu.


     Laki-laki itu pun pergi dengan membawa kotak-kotak box yang berisi Chelsea dan sisanya kosong. Namun, Kepala Pelayan keluarga Jonathan menempelkan alat perekam ke saku jaket si pengirim sayuran.


     Chelsea yang berada di dalam box, dikeluarkan setelah mobil itu agak jauh dari mansion Jonathan. Ada dua orang di mobil boks itu. 


"Kita keluarkan dulu si bayi dari dalam kotak itu. Jangan sampai mati dulu!" perintah laki-laki tadi ke rekan kerjanya.


     Tanpa banyak bertanya, rekan sesama penculik itu pun keluar dari mobil begitu berhenti di bahu jalan. Kemudian, dia mengeluarkan Chelsea dari dalam box yang tidak tertutup. Bayi itu masih dalam keadaan belum sadarkan diri.


"Halo, Bos Madrid! Kita sudah berhasil mendapatkan anaknya Caracas." Lapor laki-laki tadi kepada Madrid lewat telpon.


[Bagus. Cepat bawa kemari!]


"Baik, Bos Madrid." 


     Kapela Pelayan keluarga Jonathan, mendengar percakapan laki-laki pengantar sayuran yang menelpon Madrid. Dia pun, melaporkan hal tersebut kepada Jonathan yang sedang menyiapkan senjata miliknya.


"Cek rekaman cctv seluruh ruangan yang ada di mansion dan cctv rahasia juga periksa. Aku yakin pasti ada tikus yang menyusup atau penghianat, di rumahku ini!" Jonathan memberikan perintah dan dia sendiri juga ikut memeriksa langsung lewat laptopnya.


     Tidak perlu waktu lama sampai ditemukan si pelayan yang memasukan Chelsea ke dalam keranjang cucian kemudian, memberikannya kepada seorang laki-laki pengantar stok sayuran. 

__ADS_1


     Orang yang menjadi kaki tangan Jonathan tanpa ampun langsung menembak mati wanita itu. Kepala pelayan sendiri pergi mengejar penculik Chelsea. Dia berangkat dengan empat anak buah Jonathan.


"Bereskan semua kekacauan ini! Aku tidak mau rumahku bau sama anyir darah." Jonathan memberi perintah kepada bawahannya.


     Setelah anak buahnya yang jumlah 150 orang, siap untuk melakukan penyerbuan ke markas Madrid Brazzaville. Jonathan meminta Paris dan Isabella untuk menjaga keamanan Mansion. Sampai nanti kepala pelayan, datang membawa Chelsea lagi.


******


     Peter agak terkejut juga, saat Madrid berkata kalau Chelsea telah dia dapatkan. Setahu dia pertahanan kekuatan Jonathan sangat kuat. Kecuali, ada penghianat atau penyusup dari awal yang sengaja dikirim ke sana.


     Peter melihat Madina duduk dengan tenang dan melihat kepadanya. Rasanya dia ingin berlari kearahnya, untuk membuka ikatan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.


"Kenapa? Kamu sudah tidak sabar ingin melepaskan ikatan tali ini!" Madrid tertawa terkekeh dan melihat ke arah Peter.


"Aku berpikir, apa untungnya bagi kamu menyekap Madina. Dia tidak ada hubungannya sama sekali Kelompok Red Dragon. Dia juga bukan orang yang bisa memberikan ancaman kepada kalian. Dia juga tidak bisa memberikan banyak keuntungan untuk kelompok kalian," balas Peter.


     Madrid Brazzaville kini berjalan ke arah Peter. Seringai di wajahnya tidak hilang, masih terpasang sehingga membuatnya terlihat semakin menyebalkan. 


"Tapi, sepertinya perkiraan kamu salah, ya. Buktinya sekarang aku tidak membawa Chelsea bersama aku ke sini." Peter pun tertawa mengejek kepada Madrid.


     Suara pintu dibanting dengan sangat kuat dan seseorang berlari dengan napas putus-putus. Keringatnya bercucuran sangat banyak."Tuan Madrid!" teriaknya.


"Ada apa dengan kamu?" tanya Madrid sesaat dia lengah pengawasannya terhadap Peter.


     Peter tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung menarik pistol milik Madrid dan menembakan kepada laki-laki yang baru saja datang. Dua tembakan ke kaki dan perut laki-laki yang barusan datang dengan mendobrak pintu.


"Si_al! Berani-beraninya kamu merebut senjata kesayangan aku." Madrid memekik marah ketika pistolnya berhasil direbut oleh Peter.


     Peter tersenyum mengejek, kemudian dia menembakan pistol itu ke arah Madrid. Namun, pistol itu sudah tidak memiliki anak peluru lagi di dalamnya.

__ADS_1


     Kini giliran Madrid yang tersenyum mengejek Peter. Dia mengeluarkan peluru dari saku kanan jas.


"Kamu membutuhkan ini?" kata Madrid mengejek Peter.


"Tidak! Aku membutuhkan ini." Peter melemparkan pistol itu keluar jendela.


"Tuan! Di luar sana ada tiga orang yang membuat kekacauan," kata laki-laki tadi di sisa-sisa kesadarannya.


     Peter senang mendengar laporan itu. Dia yakin kalau mereka bertiga yang dimaksud adalah si Trio Kancil.


"Apa maksud kamu?" tanya Madrid dengan marah karena ada orang yang berhasil menyusup.


     Peter pun menendang Madrid agar menyingkir dari hadapannya. Peter tidak masalah mau berkelahi dengan tangan kosong.


     Madrid pun menyerang Peter balik, dia tidak terima akan serangan mendadak yang dilancarkan oleh lawannya yang secara tiba-tiba. Menurut dia, perbuatan Peter tidak jantan.


     Keduanya pun berkelahi dengan tangan kosong. Saling memukul dan menangkis dengan tangan, kadang bagian wajah pun menjadi sasaran. Menendang bagian kaki, paha dan perut lawan. Tidak ada yang mau mengalah. Wajah kedua orang itu sudah memar di sudut bibir dan ujung mata. Madrid pun sampai mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.


"Hebat juga kamu!" Puji Madrid kepada Peter.


"Terima kasih atas pujiannya. Tetapi, aku merasa tidak tersanjung," balas Peter.


"Sombong sekali kamu!"


     Madrid pun menggunakan pisau lipat yang ada di jasnya dan mengenai tangan Peter. Tujuan awalnya adalah bagian perut. Namun, tangan Peter berhasil menggenggam pisau itu. Jadi, dia hanya luka di telapak tangannya. Peter pun menggenggam kuat pisau itu dan sebelah tangannya lagi menonjok ditengah-tengah wajah Madrid. Hidung, mata dan kening menjadi sasaran dalam sekali serangan.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


__ADS_2