
Beberapa jam sebelumnya …
Ghazali dan Aurora baru sampai dari bandara, begitu sampai ke rumahnya. Ada salah seorang dari pelayan di rumahnya menghentikan langkah mereka.
"Maaf, Nyonya Aurora. Tadi tuan Khalid meminta saya untuk memberitahu kalau Nyonya pulang hari ini, ada undangan dari tuan Alex dan nyonya Cantika," kata pelayan wanita paruh baya itu yang sudah mengabdi pada keluarganya lebih dari tiga puluh tahun.
"Kapan itu Mbok?" tanya Aurora yang duduk di kursi ruang tamunya.
"Nanti malam, kalau tidak salah jam sembilan malam. Nona Bintang akan tunangan dengan kekasihnya yang ganteng itu," jawab Mbok Ayu, tanpa sadar ucapannya itu membuat Ghazali yang duduk bersandar pada punggung kursi yang didudukinya, itu langsung bangun duduk tegak.
"Barusan Mbok bilang apa? Bintang akan tunangan hari ini?!" tanya Ghazali dengan nada terkejut.
"Iya, Den Ghaza," jawab Mbok Ayu merasa bersalah karena lupa kalau tuan mudanya itu dikirim ke Italia oleh tuannya itu karena sudah jatuh cinta pada keponakannya sendiri.
"Bukankah harusnya besok acara pertunangan mereka itu?" lanjut Ghazali lagi.
"Apa kamu lupa kalau waktu di Indonesia lebih cepat dari Italia. Kamu nya saja yang salah lihat tanggal di kalender," balas Aurora.
"Kalau begitu tidak ada waktu lagi! kita harus bergegas!" kata Ghazali sambil melihat jam di dinding ruangan itu.
Walau tubuhnya masih capek, Aurora dan Ghazali mempersiapkan diri untuk ke acara pertunangan Bintang dan Aria. Karena masih ada waktu sekitar empat jam lagi, Ghazali dan Aurora mempersiapkan rencana yang sudah di susun oleh mereka berdua.
Ghazali juga mendatangi rumah Bintang, tapi tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Bahkan gerbang rumahnya di kunci. Begitu juga dengan rumah Erlangga, tidak ada siapa-siapa. Ketika ditanyakan kepada petugas penjaga kompleks, ternyata semua orang sudah pergi ke hotel tempat dilangsungkannya acara pertunangan Bintang.
Karena jalanan macet, Ghazali sampai ke rumah sehabis magrib menjelang isya. Khalid dan Aurora sudah menunggunya di rumah.
"Ghaza habis dari mana?" tanya Khalid kepada putra bungsunya itu.
"Habis dari rumah Bintang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana," jawab Ghazali dengan lesu.
"Tentu saja, mereka kan sudah berada di hotel sejak tadi siang," balas Khalid menahan tawanya karena Aurora menatapnya tajam.
Aurora memberitahu rencana Ghazali yang akan menggagalkan pertunangan Bintang dan Aria. Namun jika Bintang tetap pilihannya kepada Aria, maka Ghazali akan membuang perasaannya itu. Khalid sangat marah awalnya, tapi Aurora menjelaskannya secara detail. Ada keuntungan bagi mereka apapun hasilnya nanti. Daripada melihat Ghazali yang kehilangan semangat hidupnya. Akhirnya Khalid pun setuju, asalkan itu yang terbaik buat Ghazali. Sejujurnya dia juga sedih saat harus mengirimkan putranya itu ke Italia.
Ghazali sudah siap untuk berangkat ke hotel Artemis milik Alex. Walau dirinya memiliki sedikit peluang, tapi dia tidak akan menyerah. Demi mendapatkan Bintang, dia akan berjuang sampai akhir.
Khalid mengendarai mobilnya, dengan membawa Aurora dan Ghazali. Tadinya Ghazali yang ingin mengemudikan mobilnya, tapi Khalid tidak mengizinkannya. Bisa-bisa Ghazali mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan. Lagi-lagi mereka terjebak macet. Itu membuat Ghazali makin gelisah.
"Sudah kamu tenang saja, kalau jodoh tidak akan kemana," kata Khalid saat mendengar Ghazali terus merancu tentang kemacetan yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Tapi kita kan diwajibkan berikhtiar dulu, Papa," kata Ghazali kesal karena mobilnya nggak jalan-jalan.
"Sudah ... kamu itu kalau ingin cepat-cepat sampai, kenapa tadi nggak naik helikopter saja!" kata Aurora.
"Benar juga, kenapa nggak kepikiran tadi, ya?!" kata Ghazali sambil menepuk keningnya.
"Lihat sifat tidak sabarannya itu mirip kamu banget," kekeh Khalid menggoda istrinya.
"Tapi cinta sama aku kan?" balas Aurora dengan tatapan dan senyum jahilnya.
"Itu karena tidak ada yang lain lagi selain kamu," balas Khalid sambil mengedipkan matanya.
"Ya, karena aku orangnya nggak sabaran, makanya kamu jadi bisa bergerak cepat dalam segala hal," balas Aurora kemudian mencium bibir suaminya karena gemas.
"Terus saja kalian bermesraan, biarkan saja anak kalian ini," kata Ghazali kalau melihat Khalid dan Aurora bermesraan.
"Iri banget kamu itu jadi anak," kata Aurora sambil manyun, sedangkan Khalid hanya tersenyum senang.
"Lagian kalian berdua itu sudah tua, tapi masih saja kayak yang lagi puber," balas Ghazali.
"Lah kita berdua kan lagi puber ke tiga, iyakan Yang?!" Aurora meminta dukungan pada suaminya itu.
Setelah hampir satu jam terjebak macet, akhirnya mobil mereka bisa melanjutkan lagi perjalanan mereka menuju Hotel Artemis. Tanpa mereka sadari saat akan masuk ke area parkir hotel, Bintang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Ada apa ini?" kata Khalid saat melihat banyak orang di luar dan lobi hotel.
"Mereka sedang apa sich berkerumun di lobi hotel? Apa acaranya belum dimulai?" tanya Aurora sambil menggandeng tangan Khalid dan berjalan memasuki lobi hotel.
"Jeng Bintang … Jeng Venus ada apa ini? Kenapa kalian semua disini?" tanya Aurora yang kebetulan bertemu dengan Venus dan Bintang, Tante-tantenya Cantika yang sedang berdiri disana bersama para suami mereka dan anak-anaknya.
"Loh Ghazali, kok kamu disini?!" tanya mereka berdua begitu melihat Ghazali yang berdiri di samping Aurora.
Semua orang yang ada di sana juga terkejut saat melihat Ghazali datang bersama orang tuanya. Bahkan kondisinya baik-baik saja.
"Iya, Ghaza baru saja datang dari Italia tadi sore," jawab Aurora sambil tersenyum ramah.
"Bukannya kamu kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit?!" tanya Tante Bintang.
"Kata siapa?!" tanya Aurora penasaran.
__ADS_1
"Ghaza! kamu nggak apa-apa?!" tanya Alex yang menggandeng Cantika baru saja ikut gabung di sana.
"Memangnya ada apa sih, ini?" tanya Aurora penasaran.
"Barusan Bintang mendapatkan telepon katanya Ghaza mengalami kecelakaan di jalan raya, dan dibawanya ke rumah sakit oleh ambulan," jawab Cantika.
"Tapi Ghaza baik-baik saja," balas Galaksi yang ada di samping Venus dan Sakti.
Mendengar itu, Ghazali merasa ada yang tidak beres. Dia takut terjadi apa-apa sama Bintang.
"Pah, mana kunci mobilnya, Ghaza akan susul Bintang," kata Ghazali.
********
Setelah mendapatkan kunci mobilnya, Ghazali berlari dengan cepat menuju ke parkiran hotel dan disaat yang bersamaan Aria melihat dia kemudian mengikutinya. Ghazali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seperti halnya Bintang, Ghazali pun mendatangi rumah sakit umum milik pemerintah.
Begitu sampai di area parkir rumah sakit, Ghazali melihat sosok wanita cantik yang berjalan dengan gontai sambil menundukan kepalanya.
"Bintang!" Ghazali memanggil gadis pujaan hatinya itu.
"Bintang," panggilnya lagi dan dia sangat senang saat melihat Bintang berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Om … Bintang kangen!" kata Bintang yang buat hati Ghazali melambung tinggi. Dia memeluk gadisnya dengan saat erat.
*******
BACA JUGA KARYA AKU YANG BARU,
Tentang rumah tangga Fatih, Mentari dan Zahra
dalam novel berjudul " DIPAKSA MENIKAHI CUCU MANTAN SUAMI"
********
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1