Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 28


__ADS_3

"Permintaan aku yang ketiga adalah bolehkah aku lihat semua hasil karyamu?" tanya Langit.


"Boleh, ayo ikut!" ajak Mazda sambil berdiri. Mereka pun berjalan beriringan di dampingi para robot Android, yang terlihat kaku di mata Langit.


     Kemudian mereka memasuki ruangan yang sangat luas dan banyak berbagai jenis senjata dan ada beberapa kendaraan mobil dan motor yang berada di ruang bawahnya.


"Mobilnya keren!" teriak Bintang begitu melihat ke arah lantai bawah.


"Justru aku tertarik dengan motor hitam itu," kata Angkasa, sambil menunjuk ke arah motor berukuran agak besar.


"Mazda san, aku ingin motor hitam itu!" pinta Langit dengan tatapan penuh harap. Dia juga langsung jatuh hati saat melihat kendaraan roda dua itu.


"Itu motor buatan Alex, yang di buatkan untukku." Mazda mengalihkan perhatiannya ke motor berwarna hitam, yang telah membuat Angkasa dan Langit tertarik.


     Si Trio Kancil kemudian, melihat ke arah Mazda. Mereka merasa tidak percaya, dengan apa yang dibicarakan olehnya. Sebab, motor canggih papanya juga, di buatkan oleh Grandpa Arthur.


"Anda, tidak bohong 'kan? Kalau motor itu buatan papa?" tanya Langit masih tidak percaya.


"Iya, kalian tidak percaya?!" tanya Mazda sambil melihat ke arah ketiga anak Alex yang menatapnya.


"Kami tidak tahu kalau papa, bisa membuat motor sekeren itu!" Langit hanya tertawa garing karena masih tidak percaya dengan apa yang baru diketahuinya barusan.


"Aku akan minta sama papa, untuk membuatkan motor seperti itu juga!" Lanjut Langit menatap kagum pada motor hitam itu. Padahal ada banyak mobil yang berjajar di sana.


"Kalau mau, kalian boleh ambil mobil yang ada di sana," kata Mazda.


"Tidak! terima kasih." Si Trio Kancil menjawab dengan kompak.


     Ketiga anak Alex, berkeliling melihat-lihat hasil karya dari buatan Mazda. Langit membawa beberapa alat yang dianggapnya nanti akan berguna untuknya. Juga membawa beberapa racun dan obat penawarnya. Pistol yang tadi diminta pun, tidak lupa dibawa olehnya.


"Mazda san terima kasih. Banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari Anda, hari ini," kata Langit sambil menyalami Manza. "Berhati-hatilah karena masih banyak yang mengincar Anda."


"Iya. Aku akan mempertaruhkan segalanya, meski nyawaku taruhannya. Ini ambilah, bila sudah kamu baca, bakarlah jangan sampai tersisa." Mazda memberikan sebuah tas kepada Langit.


     Langit menerima tas itu dengan tatapan penuh tanya. Namun dia tetap saja menerimanya. Si Trio Kancil pun pulang saat hari siang hari menjelang sore, atau sekitar Ashar.


     Peter yang saat itu bagian mengawal si Trio Kancil, sendirian atau menjadi sopir mereka. Sudah menunggu dari tadi, dengan cemas. Rencana tadinya akan berkunjung satu jam. Ini molor sampai berjam-jam. Sedangkan Akira tidak bisa ikut karena ada tugas untuknya dari Alex.

__ADS_1


"Ini, apa ya?" tanya Langit sambil membuka tas yang diberikan oleh Mazda tadi.


     Langit dan Bintang yang duduk di belakang membuka satu persatu berkas yang ada di dalam tas itu. Langit dan Bintang terkejut saat membaca berkas itu.


"Ini blue print semua senjata dan kendaraan yang dibuat oleh Mazda!" pekik Langit terkejut.


"Mana aku lihat!" Angkasa mengulurkan tangannya ingin ikut membaca juga.


"Hei, ini formula racun yang dibuat olehnya!" Angkasa senang karena dia bisa mengetahui zat yang terkandung dalam racun hewan yang di kembangkan lagi oleh Mazda.


"Mana yang lainnya lagi! Aku ingin formula obat penawarnya," pinta Angkasa. "Lumayan 'kan bisa mengembangkan racun dari hewan-hewan ini."


"Aku tertarik dalam membuat kendaraan ini," kata Langit sambil membuka lembaran-lembaran berkas pembuatan mobil.


"Nggak ada yang ada yang sesuai dengan keahlian aku," kata Bintang lesu, dan malah ditanggapi dengan kekehan oleh Langit dan Angkasa.


*******


     Setelah makan malam, Angkasa pamit mau kembali ke Jerman, bersama Peter. Sebenarnya dia ingin ikut Langit menyelidiki kasus pembunuhan para profesor. Namun panggilan tugas kampusnya mengharuskan di segera kembali.


"Langit, maaf ya. Tadinya aku mau ikut kamu menyelidiki kasus ini. Tapi banyak tugas yang akan menanti aku dua Minggu ini," kata Angkasa saat melakukan salam perpisahan dengan saudara kembarnya.


"Iya, aku nggak akan segan-segan mengganggu, Kak Angkasa nanti," kata Langit.


     Bintang memasang wajahnya yang cemberut karena Ghazali mengajaknya pulang. Jadwal operasi para pasiennya juga sudah menunggunya.


"Sudah jangan cemberut seperti itu nanti kamu bisa kesini lagi kalau Langit membutuhkan bantuan kita," kata Ghazali karena tahu Bintang ingin ikut berpetualang di pulau untuk melakukan ujian, uji karya.


"Iya. Kenapa dulu aku nggak sekolah di sini saja, ya." Bintang merasa menyesal karena baru tahu ada sekolah yang menyenangkan seperti ini.


     Alex akhirnya berhasil membawa Honda untuk di berobat ke Amerika. Jadi malam itu juga Alex berangkat terlebih dahulu membawa Honda. Kemudian Cantika dan ketiga anaknya naik pesawat pribadi satunya lagi. Dikawal oleh banyak bodyguard.


     Kini hanya ada Langit dan Almahira di rumah itu. Keluarga Khalid sudah pergi ke kota Tokyo, katanya si kembar ingin bermain di Tokyo Disneyland.


*******


"Ahk ...!" teriak Almahira.

__ADS_1


     Langit yang baru selesai mandi dibuat terkejut karena teriakan Almahira. Langit juga tadi lupa bawa baju ganti dan mengira kalau Almahira, tidak ada di dalam kamar.


"Sayang ada apa! Kenapa teriak begitu?" tanya Langit.


"Ayang, kenapa nggak paket baju!" Almahira berbicara sambil memunggungi Langit.


"Hehehe ... lupa bawa baju ganti tadi," jawab Langit.


"Tunggu, aku bawakan bajunya," kata Almahira sambil berjalan ke arah lemari baju milik Langit.


     Almahira pun memilihkan atasan kaos dan bawahan kolor sesuai pesanan Langit. Sambil menutup mata Almahira berjalan pelan ke arah Langit. Itu malah membuat Langit tertawa geli melihat tingkah istrinya.


     Kebiasaan jahil Langit, kini kambuh. Dia sengaja berjalan ke hadapan Almahira yang berjalan di samping kasurnya. Sehingga Almahira menabrak tubuh tegap Langit dan langsung menjatuhkannya ke atas kasur.


"Ahk ...!" teriak Almahira terkejut karena tiba-tiba terjatuh.


     Langit berada di atas tubuh Almahira, sambil tersenyum jahil padanya. Almahira malah terpesona melihatnya. 


"Makanya, kalau jalan itu matanya di buka jangan di tutup." Langit senang sekali menggoda Almahira.


     Almahira hanya memberengut, kesal karena ulah suaminya. Kemudian dia mendorong tubuh Langit agar menjauh darinya.


"Hm, yang lagi ngambek," kata Langit sambil mencolek dagu Almahira.


"Aku nggak ngambek, cuma kesal saja." Almahira bangun dari kasur tapi belum juga sempat berdiri, Langit sudah kembali membuatnya rebah di atas kasur. Kali ini Almahira pasrah saat bibir Langit mencium bibirnya dengan mesra, malah dia membalas dan tangannya memeluk tubuh Langit yang tanpa tertutup apa-apa.


*******


KOK AKU MALAH MALU SENDIRI YA 🙈🙈🙈 PAS ADEGAN LANGIT SAMA ALMAHIRA.


APA PERLU AKU HAPUS?


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV,, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2