
Langit menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu. Alessio tersenyum lebar, ternyata bocah-bocah yang dulu menggemaskan kini semuanya sudah menikah di usianya yang masih muda. Apalagi Angkasa adalah sosok anak yang cuek dan datar tidak suka menunjukan perasaannya. Ternyata dia menikahi gadis kecil yang selalu menempel padanya dulu. Kalau Bintang dari kecil juga sudah kelihatan bergantung kepada Ghazali. Begitu juga Ghazali sangat posesif terhadap Bintang. Langit adalah satu-satunya yang tidak terpikirkan akan mendapatkan jodoh orang Indonesia yang sedang berada di Jepang. Dia mengira kalau Akira dan Shin akan menjodohkannya dengan Hikari.
"Baiklah, akan Uncle bantu kalian mencari Paris."
"Terima kasih, Uncle," ucap Langit dan Bintang bersamaan.
Alessio mengecek dulu suasana di dalam apa gas beracunnya masih ada atau sudah hilang. Setelah dipastikan semua keadaannya aman. Mereka masuk ke dalam markas itu. Angkasa yang melihat kedatangan kembarannya lewat layar laptop Akira, memutuskan menemui mereka.
"Bintang ... Langit!" panggil Angkasa dari lantai atas.
Bintang dan Langit pun mendongakkan kepalanya ke lantai atas dan terlihat Angkasa yang sedang menggendong Chelsea. Dia menuruni anak tangga dengan setengah berlari. Chelsea juga tertawa senang saat melihat Bintang, yang sedang berdiri di bawah anak tangga. Bintang pun menyambut uluran tangan Chelsea karena ingin digendong olehnya.
"Mommy ... Mommy!" Panggil Chelsea sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya senang.
"Chelsea, Sayang!" Bintang menciumi pipi chubby bayi berusia satu tahun lebih itu dengan bertubi-tubi, dan membuatnya tertawa karena kegelian.
"Apa tempat penyekapan Paris sudah diketahui?" tanya Langit.
"Belum," jawab Angkasa singkat.
"Uncle Alessio, ada yang mau saya tanyakan. Apa Uncle kenal dengan Helsinki?" tanya Angkasa.
"Iya, tentu saja tahu. Siapa yang tidak kenal dia?" Alessio menjawab pertanyaan dari Angkasa yang menurutnya tidak perlu ditanyakan.
"Sejak kapan dia ikut bergabung dengan kelompok Mafia Red Dragon?" tanya Angkasa dengan penasaran. Sedangkan, Bintang dan Langit terkejut kalau Helsinki adalah salah satu anggota Red Dragon.
"Tiga tahun kurang kayaknya," jawab Alessio.
__ADS_1
"Apa kalian tahu kalau Daddy Helsinki itu punya kembaran?" tanya Angkasa.
"Iya."
"Tahu."
Angkasa terkejut, ternyata kedua kembarannya tahu kalau mertuanya itu punya kembaran.
"Jadi Uncle Helsinki itu punya kembaran identik, tetapi entah dimana dia sekarang," kata Bintang.
"Iya, Tetapi dia sudah meninggal dunia, saat masih remaja," jawab Alessio.
"Sebenarnya, kembarannya itu tidak mati. Tetapi dia, di adopsi oleh salah satu Petinggi kelompok mafia Red Dragon. Agar menjadi pewarisnya yang akan menduduki kursi kepemimpinan untuk menggantikan dirinya. Dan yang sekarang bersama kita adalah kembarannya Daddy Helsinki." Angkasa menunjukan album foto, yang bergambar dua orang yang memiliki wajah yang mirip.
"Jadi, dia masih hidup?" Alessio tidak percaya kalau Rio de Janeiro–kembaran Helsinki–masih hidup.
Mereka juga membaca buku harian milik Helsinki dan Istrinya. Nama Rio de Janeiro disebut-sebut dalam tulisan mereka. Dan di lembaran terakhir dituliskan kalau Rio de Janeiro ikut gabung di kelompok mafia Red Dragon. Helsinki sendiri tidak setuju dengan adik kembarnya untuk gabung ke kelompok mafia.
"Lalu Uncle Helsinki yang asli berada dimana?" tanya Langit penasaran.
"Entahlah. Dalam buku hariannya dia menuliskan punya penyakit gagal ginjal dan diabetes," jawab Angkasa.
"Dulu mendiang istrinya meninggal karena penyakit Leukemia," kata Alessio mengingat-ingat kembali kejadian dimasa lalu.
******
Paris terus berdoa dalam hatinya, agar dia bisa selamat dan berkumpul kembali dengan suami dan teman-temannya. Milan, tetap tidak mau melepaskan Paris. Sebab, dia satu-satunya jalan agar bisa mendapatkan dukungan kelompok Rio de Janeiro. Hanya sedikit orang yang tahu Rio de Janeiro itu kembaran Helsinki. Bahkan Alex dan para pengusaha teman Helsinki banyak yang tidak tahu, kecuali pengusaha dari kelompok Red Dragon dan beberapa musuh mereka.
__ADS_1
"Paris, makanlah ini dahulu!" Milan menyerahkan satu piring pasta kepada Paris yang sedang duduk di atas kasur.
"Aku tidak lapar!" jawab Paris ketus karena dia sedang marah sama Milan, setelah tahu kalau ada Angkasa di ruangan lain di markas Red Dragon, tetapi tidak diberitahu sama sekali, tadi.
"Kamu harus makan agar tidak mati kelaparan!" Milan masih memegang piring di hadapan Paris.
Paris menatap tajam ke arah Milan, kemudian dia berkata, "kamu tidak memberi racun di dalam makanan ini 'kan?"
Mendengar kata-kata Paris barusan membuat Milan tertawa. Jelas-jelas tadi dia juga makan pastanya dihadapan Paris. "Tidak ada racunnya sama sekali. Atau kita makan berdua saja pasta ini? Aku suapi kamu, mau?"
"Tidak!" Paris pun mengambil piring yang berisi pasta itu dan memakannya.
Setelah dipikir-pikir, dia butuh tenaga untuk melawan Milan. Agar dia bisa lepas dari kurungannya itu.
Milan tersenyum senang melihat Paris, makan pasta dengan lahapnya. Dia senang melihat wajah Paris, setelah dia menggunakan hijab. Tidak menutupi kecantikannya justru kini terlihat lebih teduh dan anggun.
"Apa kamu dan Angkasa begitu saling mencintai?" Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Mendengar kata-kata dari Milan, membuat Paris, tersedak karena ingin menjawabnya. Dia langsung meminum air putih yang ada di atas nakas di samping tempat tidur.
"Tentu saja kita saling mencintai! Tidak perlu ditanyakan lagi," kata Paris dengan lantang. Milan pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Paris.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1