
Hari ini Arga bekerja tidak semangat, sejak pagi dokumen - dokumen yang ada di atas mejanya dibiarkan bertumpuk. Pikirannya agak kacau, tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Rasanya ingin marah, melampiaskan emosi yang terasa bertumpuk di dadanya. Terlalu kekanak-kanakan menurutnya kalau marahnya dilampiaskan ke bawahannya yang berbuat salah dalam pekerjaannya. Para pegawainya juga manusia, yang kadang berbuat salah.
Pikirannya melayang mengingat kembali pada pertemuan pertama kalinya bersama Cantika.
Flashback on,
Saat itu dirinya berlari di koridor kampusnya, karena mendapat kabar kalau Papinya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di Rumah Sakit. Papinya membutuhkan transfusi darahnya. Karena hanya dirinya yang memiliki golongan darah yang sama diantara keluarganya.
Arga berlari sangat kencang menuju parkiran kampus, dan dari arah berlawanan ada Cantika yang sedang berjalan membawa tumpukan tugas kelasnya yang akan diantarkan ke ruangan dosennya. Karena dia lari terlalu cepat, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat hendak bertabrakan dengan Cantika.
"Awas!!! " Teriaknya.
Buuuk !!!
Tabrakan terjadi diantara keduanya. Dia menahan tubuhnya dengan sebelah tangannya, agar tidak menindih tubuh gadis yang ditabraknya itu.
"Maaf, kamu tidak apa - apa ? " Arga berdiri dari posisinya tadi.
Dilihatnya kertas - kertas tugas berhamburan di lantai koridor. Dan gadis berjilbab masih duduk dilantai, sambil memungut kertas - kertas tugas itu. Melihat itu dirinya pun ikut membantu mengumpulkannya.
"Ini, sekali lagi aku minta maaf," kata Arga tulus, sambil menyerahkan kertas tugas yang berhasil dia pungut.
"Tidak apa - apa kok, Kak," jawab Cantika.
"Terima kasih," katanya lagi saat menerima lembar - lembar kertas tugas temannya.
"Oh, tangan Kakak berdarah!" Kata Cantika terkejut saat melihat luka goresan di telapak tangan Arga.
Arga pun melihat telapak tangannya yang digunakan untuk menahan tubuhnya itu terluka, dan mulai terlihat darah keluar walau sedikit.
"Ini tidak apa - apa. Nanti juga cepat sembuh," kata Arga sambil tersenyum.
"Jangan menyepelekan luka walaupun itu kecil. Kalau lukanya infeksi bisa gawat!" Cantika menatap Arga.
__ADS_1
"Ini walaupun cuma pertolongan pertama, tapi efeknya lumayan untuk mengatasi luka." Cantika mengeluarkan plester dari tasnya.
Dilihatnya plester bergambar mini dinosaurus di tempelkan oleh Cantika, di telapak tangannya yang sebelumnya terlebih dahulu di bersihkan pakai tisu basah.
Jantung Arga berdetak sangat kencang, dirinya merasa sangat bahagia, atas perhatian gadis yang ditabraknya tadi. Dalam hatinya, bergumam gadis itu selain memiliki wajah yang cantik ternyata hatinya juga baik.
Arga terus memperhatikan Cantika, mulai dari membersihan lukanya kemudian menutupinya pakai plester. Seolah - olah ada kekuatan yang membuat dirinya ingin terus melihat wajah gadis didepannya itu.
"Sudah selesai, Kak. Semoga cepat sembuh," kata Cantika sambil tersenyum.
Setelah kejadian itu, Arga mencari - cari gadis berjilbab yang pernah ditabraknya. Dia merutuki dirinya karena lupa menanyakan namanya. Jadinya dia sering berkeliling di kampus itu, dari satu fakultas ke fakultas lainnya.
Pertemuan kedua adalah sekitar tiga tahun yang lalu saat dirinya sedang reunian teman SMA yang kebetulan panitianya nge-booking tempat di cafe milik Cantika. Arga senangnya tiada terkira saat melihat Cantika sedang berbicara dengan ketua panitianya. Tanpa membuang kesempatan yang ada, Arga langsung menghampiri Cantika.
"Hai, apa kabar?" Arga saat berhadapan dengan Cantika.
"Masih ingat sama aku?" tanyanya lagi.
Cantika mencoba mengingat - ingat orang yang berdiri di depannya itu. Tapi nihil tak ada yang diingatnya sedikit pun. Cantika hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh." Cantika tersenyum ketika mengingatnya.
"Kenalkan, Arga." Sambil mengulurkan tangannya.
"Cantika," balasnya.
Semenjak itu Arga sering menemui Cantika di cafenya. Kemudian dia juga baru tahu kalau Cantika sudah punya anak kembar tiga. Walau begitu tak mengurungkan dirinya untuk lebih dekat lagi dengannya. Dia menjalin hubungan yang serius dengan Cantika. Dia juga menerima si Kembar Tiga, sebagai calon anaknya. Bahkan dia sering mengajak main ketiganya. Dikenalkan kepada kedua orang tuanya, dan mendapatkan sambutan hangat. Begitu juga sebaliknya, Cantika memperkenalkannya kepada keluarga besarnya, dan mereka semua suka padanya.
Tapi saat Arga meminta izin pada kedua orang tuanya untuk meminang Cantika dua tahun lalu, Papinya menolak. Sedangkan Maminya mendukungnya dan memberi mereka restu. Hubungan dirinya dan Cantika saat itu pernah putus. Karena Cantika tidak mau menjalin hubungan yang tidak pasti masa depannya. Mereka memutuskan untuk menjadi teman saja.
Tapi hubungan mereka terjalin kembali saat, salah satu kerabatnya Cantika mau menjodohkan dia dengan laki - laki yang telah beristri. Dan mau menjadikan Cantika istri keduanya. Cantika meminta bantuannya untuk menggagalkan perjodohan itu. Dan dengan alasan Cantika sudah punya calon suami, akhirnya perjodohan itu batal.
Kali ini juga Arga berusaha untuk mendapatkan restu dari Papinya, tapi tetap saja nggak mendapatkan restu. Walaupun Papinya suka pada Cantika, entah mengapa dia tidak juga memberikan mereka restu.
__ADS_1
Flashback Off.
* * * * * * *
Semalam setelah dirinya pergi dari rumahnya. Mami terus saja mencoba menghubunginya. Baik melalui telepon di apartemennya atau lewat handphonenya. Bahkan tadi menghubungi melalui sekretarisnya di kantor.
Arga sungguh malas kalau orang tuanya membahas perjodohan dengan anak - anak dari rekan bisnis Papinya. Dirinya hanya menginginkan pernikahan didasari oleh perasaan tulus dan ikhlas, bukan paksaan. Orang tuanya menjodohkan dia karena menginginkan banyak keuntungan baginya.
Dipejamkan matanya, sambil memijat - mijat kepalanya, Arga mencoba menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Terdengar suara pintunya diketuk, dan sekretarisnya masuk.
"Pak, barusan Nyonya Anita menelepon, nanti malam Bapak diminta menghadiri pesta pertunangan anak dari rekan bisnisnya Tuan Andi, di Hotel Artemis. Bapak juga diminta datang bersama Nona Cantika." laporan sekretarisnya itu.
"Iya, Baiklah. Terima kasih," jawab Arga.
"Tumben Mami meminta aku datang bersama Cantika untuk menghadiri acara pesta, " Arga bermonolog.
Diambilnya handphone dia, untuk menghubungi Cantika.
"Assalammu'alaikum. Cantika bisa bicara sebentar?" tanya Arga begitu sambungan teleponnya diangkat oleh Cantika.
"Wa'alaikumsalam. Ya bisa ada apa Mas?" kata Cantika
"Apa nanti malam kamu punya waktu untuk pergi ke pesta pertunangan anaknya teman Papi?"
"In Sha Allah, bisa Mas. Tadi Tante Anita juga sudah menelepon dan meminta aku untuk datang ke pesta itu."
"Oke. Kalau begitu nanti malam Mas jemput, ya!"
"Baik Mas."
Pembicaraan pun berakhir, dengan kesepakatan Arga akan menjemput Cantika jam delapan malam.
Ternyata Maminya juga sudah menghubungi Cantika dan memintanya untuk pergi ke acara itu. Arga pun cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya itu. Agar nanti tidak perlu lembur, karena banyak dokumen yang harus dia periksa.
__ADS_1
Sekarang suasana hati Arga sudah membaik lagi. Dia semangat karena akan pergi ke pesta bersama Cantika.
* * * * * * *