
Langit terkejut saat mendengar ucapan semua orang yang ada di sana. Dia merasa kalau mereka semua sudah merencanakan semuanya dari jauh-jauh hari.
"Kenapa harus aku?" Langit sebenarnya malas kalau berhubungan dengan para penjahat. Dia lebih suka hidup damai, aman, sentosa, dan sejahtera.
"Karena hanya kamu itu paling bisa di andalkan!" Akira mengacungkan jempol kepada Langit sambil tersenyum lebar.
Langit berdecak, kesal kepada Akira. Dia sengaja ikut ke Jepang dengan Akira karena ingin melanjutkan kuliahnya di Jepang.
"Tidak bisa! Aku sibuk kuliah dan banyak pekerjaan yang harus aku lakukan!" Langit menolak permintaan itu.
"Soal kuliah tenang saja, asal kamu mengerjakan tugas dari dosen, maka nilai kamu akan sempurna," ucap Honda dengan sungguh-sungguh.
Honda adalah salah seorang pemilik saham terbesar di universitas ternama, tempat Langit kuliah saat ini. Dia juga salah seorang pemegang saham dari laboratorium Matsumoto, walau tidak banyak.
"Terus saya harus menyusup ke sana sendirian?" tanya Langit lagi.
"Tidak! Kamu ada temannya di sana," jawab Shin sambil menunjuk Suzuki yang sejak tadi diam menyimak. "Dia adalah salah satu pengajar di sekolahan itu. Hikari juga kebetulan sekolah di sana juga."
"Ahk ... kenapa tidak Hikari saja yang menjalankan tugas ini?" Langit bertanya kepada Shin, selaku ayah gadis tomboi yang suka menempel kepadanya.
"Kamu mau membunuh putri satu-satunya milikku!" Shin langsung berdiri dari kursi kebesaran miliknya.
"Bukan begitu Shin oji-san!" bantah Langit dan juga ikut berdiri. "Kenapa aku meski menyamar jadi murid SMA, kan sudah ada Hikari yang menjadi siswa sekolahan itu."
"Karena hanya kamu yang bisa menyusup dan mencari bukti di sana," jawab Akira dengan santai dan menyesap air teh miliknya, yang baru saja di bawakan oleh kepala pelayan.
"Apa Hikari juga akan ikut dalam misi ini?" tanya Langit kepada Shin selaku ayah dari Hikari.
"Aku tidak menyarankannya. Bisa saja dia malah mengacaukan penyelidikan kamu," jawab Shin karena tahu betul kelakuan anak gadisnya itu.
__ADS_1
Langit akhirnya menyetujui permintaan mereka. Dia masuk ke kelas dua sebagai murid baru pindahan dari Amerika.
Sekolahan Matsumoto memang benar-benar bagus dalam segalanya. Baik fasilitas alat belajar, mata pelajaran, dan guru-guru pengajar di sana. Bangun sekolah yang megah dan luas. Ruang club' sekolah yang begitu nyaman dan fasilitas pendukungnya juga sangat baik. Secara keseluruhan semua hal yang ada di Academy Matsumoto adalah yang terbaik. Tingkat pendidikan mulai dari TK sampai ke universitas.
Pemandangan alam di sekitar sekolahan juga sangat indah dan terasa nyaman. Bangunan itu terletak di atas bukit. Pohon bunga sakura banyak berjajar di sisi kiri dan kanannya. Sudah menjadi ciri khas negara itu, yang mau gratis-cahayaku ayu, jati dirinya diri rakyat Osaka.
Langit mengikuti jalan Suzuki sensei, menuju ke kelas dua. Dimana dia akan menghabiskan waktunya selama satu tahun atau kurang. Saat Langit masuk ke dalam kelas, semua murid langsung heboh. Soalnya ada murid baru bertampang bule ganteng dan memiliki tubuh yang tinggi dan tubuh yang atletis meski umurnya baru tujuh belas tahun.
"Selamat pagi!" sapa Suzuki kepada murid-muridnya.
"Selamat pagi sensei!" balas semua murid di sana.
Langit begitu masuk ke dalam kelas, matanya langsung terarah kepada seorang gadis berhijab. Murid itu duduk di meja kedua dari belakang baris kedua. Mata mereka saling beradu pandang. Kemudian gadis itu menundukan kepalanya, dan pipinya terlihat merona.
"Kenalkan ada murid baru pindahan dari Amerika. Namanya Langit Andersson," kata Suzuki sensei sambil menatap semua muridnya. "Ayo Langit kenalkan diri kamu kepada mereka."
Langit pun melakukan hal yang disuruh kepadanya. Dia pura-pura tidak mahir dalam berbagai bahasa asing. Dia juga menyembunyikan nama aslinya, ini hanya untuk identitasnya sekarang.
*****
Semua murid di sana terdiam saat Langit mengenalkan dirinya. Semua terpana oleh ketampanan Langit dan suaranya yang enak di dengar. Seperti para penyiar radio zaman dulu.
"Baiklah, kamu bisa duduk di meja pojok paling belakang!" perintah Suzuki.
Langit pun berjalan ke arah bangku paling belakang. Saat melewati bangku murid perempuan yang berhijab, pensil miliknya terjatuh. Di saat bersamaan Langit dan murid perempuan itu mengambil pensil. Sehingga tangan keduanya saling berpegangan. Mata mereka saling beradu pandang.
"Terima kasih," kata murid perempuan itu dengan gugup.
"Hm, sama-sama." Langit tersenyum jahil saat tahu tangan perempuan itu berubah menjadi dingin saat bersentuhan dengannya.
__ADS_1
*******
Hari pertama sekolah berjalan dengan lancar. Langit akhirnya tahu nama murid perempuan itu, Asma Huriyya Almahira, yang sering di panggil nama Alma. Dia orang Indonesia, orang tuanya bekerja di Kedutaan Indonesia yang ada di Jepang.
Langit juga selama istirahat, dia berkeliling sekolah ditemani sama Ketua Kelas. Selama itu pula dia menjadi pusat perhatian murid-murid di sana. Karena Langit itu good looking, juga ramah pada orang lain.
Dalam satu hari nama Langit langsung terkenal di satu sekolahan Academy Matsumoto. Langit sendiri tidak menyadarinya. Dia merasa biasa saja, padahal itu memicu kecemburuan siswa di sana.
Langit duduk di meja dekat jendela jadi dia bisa melihat ke luar. Saat guru menerangkan, sesekali dia memperhatikan keadaan lingkungan sekolah. Posisi kelasnya juga lumayan strategis, bisa melihat ke semua bagian depan sekolahan. Hanya bagian bangunan belakang sekolah yang tidak bisa dia awasi.
Langit mengira keseharian sekolah di sana akan membosankan, karena tidak ada Angkasa dan Bintang. Namun ternyata dia salah, murid-murid di kelasnya ternyata mereka anak yang heboh. Jauh dari kata pendiam dan kutu buku. Padahal otak mereka memiliki IQ tinggi.
"Langit san, kamu tinggal dimana?" tanya salah seorang murid laki-laki bermarga Kawaski, si Ketua Kelas.
Ditanya seperti ini, Langit sempat terkejut. Mana mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia tinggal di rumah keluarga seorang Yakuza plus ilmuwan terkenal di Jepang.
"Aku tinggal di apartemen, tapi kadang di rumah kenalan papaku" jawab Langit sambil tersenyum kikuk.
"Sama, aku juga tinggal di apartemen. Orang tuaku sedang bekerja di Amerika," si Ketua Kelas tertawa sangat senang bisa mengenal Langit.
"Haha …," Langit ikut tertawa juga.
"Bagaimana caranya kamu bisa masuk ke sekolah ini? Biasanya tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke Academy Matsumoto!" Kawasaki melihat ke arah Langit.
Langit mendadak terdiam, dia lupa. Alasan apa yang bisa membuatnya bisa masuk ke sekolahan ini.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
TERIMA KASIH.