Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 24


__ADS_3

     Kini pengantin baru itu menikmati waktu berdua, sambil menunggu waktu makan malam. Langit pun meminta izin kepada Almahira untuk pergi ke rumah sakit.


"Alma, aku mau pergi ke rumah sakit dulu. Ada yang harus aku bicarakan dengan Honda san." Langit kini sedang duduk di sofa, sambil membelai rambut panjang milik Almahira, yang bersandar di dadanya.


"Apa aku boleh ikut?"


"Maaf. Sepertinya tidak bisa. Karena Honda san dijaga dengan sangat ketat."


"Kenapa?"


"Tidak tahu. Mungkin ada suatu yang membuat Honda san, di jaga seketat itu dan tidak sembarang orang yang bisa menjenguknya."


"Ayang, akan pergi menjenguk sama siapa?"


"Hm, mungkin lebih tepatnya aku akan menyusup, sih." Langit tersenyum jahil dan mendapat tatapan tajam dari Almahira.


"Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya!" Almahira duduk tegak dan menghadap Langit.


"Lalu, bagaimana denganmu, Sayang. Bukannya kamu juga punya misi sendiri di sekolah Academy Matsumoto?" tanya Langit sambil menyelipkan rambut Almahira ke belakang telinganya.


"Itu ... aku 'kan melakukan hanya mencari orangnya saja. Dengan mengumpulkan bukti, yang nantinya akan di serahkan ke kantor polisi."


"Tetap saja itu juga berbahaya. Bagaimana kalau pelakunya, berbalik mengincar kamu?"


"Aku punya orang yang selalu menjaga dan melindungi aku di sekolah."


"Siapa?" tanya Langit penasaran.


    Almahira terdiam. Dia sudah janji akan merahasiakan orang yang selalu menjaganya dan membantunya saat melakukan penyelidikan kasus pembunuhan teman ayahnya.


"Maaf, aku sudah berjanji kepadanya untuk merahasiakan identitasnya," jawab Almahira dengan suara yang pelan.


"Ya, tidak apa-apa. Tapi ingat, ya. Kamu harus hati-hati."


"Hm." Almahira menganggukan kepalanya seraya tersenyum kepada Langit.

__ADS_1


*******


     Langit dan Angkasa datang menyusup ke dalam kamar Honda. Sebenarnya tadi sore, Alex dan Cantika datang menjenguk Honda di rumah sakit. Saat itu Alex memasang kamera pengintai di ruangan itu. Kunci jendela kamar juga di buka, agar saat Langit dan Angkasa melakukan penyusupan, bisa langsung masuk ke sana dengan mudah. Rencananya mereka akan masuk lewat jendela.


     Langit dan Angkasa masuk ke kamar pasien yang berada di satu lantai di bawah ruang Honda di rawat. Langit menghack dulu kamera cctv di ruang milik Honda. Setelah berhasil, mereka memanjat menggunakan alat buatan Langit. Yaitu, kaki cicak. Sehingga keduanya bisa berjalan di dinding.


     Kini keduanya berhasil masuk ke dalam ruang rawat Honda. Ternyata Honda tiba-tiba bangun.


"Akhirnya kalian datang!" Honda tersenyum bahagia menyambut kedatangan Langit dan Angkasa.


"Anda sudah tahu kalau kita akan datang ke sini?" tanya Langit penasaran.


"Iya. Tadi Profesor Andersson, yang bilang kalau kedua putranya akan datang ke sini," jawab Honda dengan wajahnya yang terus memasang senyum.


     Langit pun menceritakan bagaimana dia berhasil saat masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di dalam toilet kantor kepala sekolah. Sedangkan Angkasa sibuk memeriksa kondisi tubuh Honda.


"Ada yang memasukan obat halusinogen di dalam cairan infus ini, meski kadarnya sedikit. Tapi, jika diberikan secara terus menerus, maka akan berbahaya. Bisa-bisa nyawalah taruhannya." Angkasa yang sudah berhasil memeriksa kandungan cairan infus yang masuk ke dalam tubuh Honda.


"Kalau gitu harus di cabut itu infusnya!" Langit menunjuk infus yang masih saja terpasang di tangan Honda.


     Langit dan Honda membicarakan kemungkinan orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan para ilmuwan itu ada hubungannya dengan peledakan bom di Pulau Hi. Namun Honda membantahnya karena Hiruma--kakaknya--tidak pernah ikut menjadi guru pendamping, atau mengajar seumur hidupnya. Paling hanya seminar saja yang dia isi.


"Jadi ... aku harus mengulang lagi penyelidikan dari awal?" tanya Langit dengan lesu.


"Tidak, Langit sama. Hanya saja memang benar dua orang lainnya, terlibat saat kejadian itu berlangsung, meski mereka berbeda pulau," jawab Honda."Sama seperti Profesor Andersson, saat itu. Kak Hiruma, sedang sibuk seminar di Tokyo. Jadwal selama dua bulan itu, benar-benar padat. Bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Jadi?"


"Pasti ada benang lain yang saling terhubung dengan yang lainnya." Honda berharap Langit secepatnya bisa mengungkap kasus ini.


"Iya. Langit juga berharap semua ini secepatnya bisa terungkap," kata Langit.


     Angkasa yang sejak tadi malah asik memeriksa hasil tes darah Honda, sepertinya sudah selesai. Peralatan yang dibawanya adalah versi mini dari peralatan asli dunia kedokteran. Saat di Amerika, Angkasa meminta ke pada perusahaan milik Grandpa Arthur, untuk membuatkan alat kedokteran yang bisa di bawa kemana-mana.


"Bagaimana hasilnya, Kak?" tanya Langit penasaran.

__ADS_1


"Sebaiknya Honda san, dibawa berobat ke Amerika atau Jerman. Karena sudah banyak kandungan zat halusinogen di dalam darahnya. Selain itu ada beberapa zat yang berbahaya dalam tubuhnya," jawab Angkasa.


     Langit dan Angkasa memandang ke arah Honda. Mereka tahu, pasti akan sulit jika meminta di pindahkan pengobatannya ke luar negeri.


"Sepertinya itu akan sulit," kata Honda.


"Apa papa, bisa bantu?" tanya Langit.


"Entahlah. Profesor Andersson memang banyak mengenal jajaran petinggi di Matsumoto Grup," jawab Honda.


"Semoga saja, Honda san bisa dipindahkan pengobatannya," balas Langit sambil tersenyum.


*******


     Dini harinya Langit dan Angkasa, langsung pergi menyusup ke ruang kepala sekolah. Mereka masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di toilet.


     Angkasa begitu antusias berada di sana. Dia membaca beberapa buku laporan yang berhubungan dengan dunia kesehatan. Jenis-jenis penyakit yang pada zamannya baru ditemukan. Semua sangat terperinci, walau saat ini hasil riset para ilmuwan lebih sempurna. Namun Angkasa lebih suka membaca buku hasil laporan para ilmuan terdahulu, yang sudah beberapa kali mengalami kegagalan dalam prosesnya.


"Langit, bolehkah aku membawa beberapa buku di sini? Ternyata ada banyak buku yang menarik perhatianku. Juga ada beberapa buku yang aku perlukan." Angkasa sudah memegang beberapa buku di tangannya.


"Silahkan saja. Aku juga kemarin membawa beberapa buku," jawab Langit sambil membuka dokumen data murid-murid yang sekolah di Academy Matsumoto, dua puluh tahun yang lalu.


     Langit dari tadi mencari biodata daftar murid Academy Matsumoto, yang ada di dalam jajaran lemari ujung paling bawah. Dia membawa lima angkatan dari daftar murid. Dua angkatan tingkat atas dan dua tingkat angkatan bawah dari murid-murid yang mengalami insiden bom di Pulau Hi dulu. Begitu juga dengan nama guru atau profesor yang mengajari mereka.


      Hampir dua jam mereka di dalam sana. Seandainya saja bunyi alarm di jam tangan Langit tidak berbunyi, mungkin mereka akan betah tidak ingat waktu.


"Kak Angkasa, ayo kita harus kembali!" ajak Langit sambil mengetuk jam di tangannya, memberitahu kalau sudah habis waktunya.


     Akhirnya kedua saudara kembar identik itu keluar dari ruang rahasia. Berbeda dengan dahulu, saat Langit menyusup ada Lovely yang juga kebetulan ada di dalam ruang kepala sekolah. Kali ini semua berjalan dengan lancar.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2