
Langit sedang memeriksa cctv satu persatu di tempat biasa Bintang makan bersama teman-temannya. Jemari tangannya lincah memindahkan tiap gambar orang yang muncul lebih tiga kali di tempat Bintang berada. Sudah ada puluhan orang yang didapat. Kemudian pindah ke cctv tempat bintang di kampus, Langit melakukan hal yang sama seperti tadi. Langit melakukan hal yang sama di semua tempat yang sering ada Bintang di sana.
Setelah itu digabungkan, dan di seleksi lagi. Siapa yang terekam lagi paling sering ditemui setiap ada Bintang. Hampir dua jam Langit melakukannya. Sehingga kini ada sepuluh orang yang sering ditemui keberadaannya yang selalu berada di sekitar Bintang selama satu bulan ini.
"Bintang, sisa sekitar sepuluh orang yang dicurigai. Karena setiap ada kamu, maka dia juga selalu ada di dekatmu." Langit menyodorkan laptopnya yang memuat wajah sepuluh orang itu.
Bintang memperhatikan wajah kesepuluh orang itu. Disimpannya dalam memori otaknya agar tidak lupa.
"Tunggu, aku rasa laki-laki ini yang menabrakku tadi!" Kata Bintang sambil menunjuk seorang pemuda berkulit sawo matang memiliki alis tebal dan dan hidung mancung model paruh burung.
"Aku sudah mendapatkan identitas dari orang yang menabrakmu tadi," kata Angkasa sambil menyodorkan laptop miliknya Bintang yang tadi dipakai olehnya.
"Tuh kan benar, apa kataku tadi. Dia orang yang menabrakku tadi?!" Bintang menunjukan kepada kedua saudara kembarnya itu foto wajah pemuda berkulit sawo matang, yang sama dengan hasil yang didapat oleh Angkasa.
"Jadi namanya Firman seorang satpam di komplek perumahan Wangi, berusia tiga puluh tahun, belum menikah, alumni universitas XXXX, alamat rumah di kota karang hitam." Baca Bintang tentang identitas pria itu.
"Aku kira di masih muda, ternyata usianya sudah tiga puluh tahun," lanjut Bintang.
Bintang meminta laporan informasi tentang sepuluh orang itu secara lengkap. Langit yang dididik secara keras oleh Akira, menjadi seorang hacker yang handal. Jadi tidak kesulitan dalam mengumpulkan informasi tentang sepuluh orang itu.
Langit melanjutkan pekerjaannya di rumah sampai tengah malam. Dia menemukan ada tiga orang yang mencurigakan, di antara sepuluh orang itu. Sampai Langit meminta bantuan kepada temannya yang ada di Jepang dan Rusia untuk mengetahui identitas asli ketiga orang itu.
*******
Bintang pergi kuliah seperti biasa, dia juga menjalani harinya bersama teman-teman yang lainnya. Saat sedang di cafe makan siang bersama temannya, Bintang izin ke toilet.
"Bintang," sapa seseorang di belakangnya.
Merasa ada yang memanggil namanya Bintang membalikkan badannya. Dalam sekejap orang itu menutup hidung Bintang dengan sapu tangan yang di beri obat bius. Namun Bintang yang selalu dalam mode siaga akhir-akhir ini, tidak langsung pingsan. Bintang langsung memukul perut si Pelaku, dan menendangnya.
Bintang pun menyalakan tanda bahaya, yang ada di jam tangannya, dan terhubung langsung ke A, yang sedang bersembunyi di sekitarnya. Dalam waktu singkat A sudah datang dan menghajar si Pelaku.
"Uncle A …," suara Bintang pelan karena mulai hilang kesadarannya.
"Nona!" teriak A kemudian menghampiri Bintang.
"Bintang!" panggil seseorang dari kejauhan.
__ADS_1
"Tuan Ghazali … tolong Nona! Aku akan meringkus si Pelaku," kata A begitu Ghazali tiba di sana.
Ghazali yang semalam mendapat kabar dari Angkasa tentang Bintang yang sedang diincar, membuatnya tidak tenang. Maka dia mulai mengikuti Bintang, dan mengawasi orang-orang yang berada disekitar Bintang.
Sebenarnya Ghazali sedang memperhatikan seseorang yang ada di daftar sepuluh orang yang dikirim oleh Langit semalam, sedang berada di sana juga. Jadi sesaat perhatiannya teralihkan kepada orang itu. Saat itulah Bintang pergi ke toilet. Begitu Bintang tidak ada di mejanya, Ghazali langsung mencarinya.
"Bintang … bisa dengar suara aku!" kata Ghazali sambil memeluknya.
"A, bawa di ke markas!" perintah Ghazali sambil membopong Bintang dan membawanya pulang.
*******
Bintang yang terbaring di atas kasurnya, kini mulai mengerjapkan matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamarnya. Pandangannya pun diedarkan ke seluruh kamarnya.
"Aku berapa lama nggak sadarkan diri?" gumam Bintang pelan.
"Hampir tiga jam! kalau sudah sadar cepat bangun kamu belum shalat Dzuhur," kata Ghazali yang baru keluar dari kamar mandi.
"Om Ghaza!" teriak Bintang senang dengan cepat dia berlari ke arah orang yang dirindukannya selama dua Minggu lebih.
"Karena kamu selalu membuatku khawatir," jawab Ghazali, " sudah sana sholat dulu, keburu akhir!"
Dengan hati yang senang, Bintang berjalan menuju kamar mandi.
******
Kini Bintang sedang duduk di ruang keluarga bersama keluarga besarnya. Ada keluarga Ghazali juga, yang ikut berkumpul di sana.
"Ada apa ini? Kok tumben pada kumpul semua?" tanya Bintang penuh tanda tanya.
"Hari pernikahan kalian akan dimajukan besok pagi!" kata Alex sambil melihat ke arah Bintang.
"Kenapa Pah?" tanya Bintang tak mengerti, tapi hatinya senang.
"Tuh permintaan dari calon suami kamu!" kata Alex dengan memasang wajah kesal.
Berbeda dengan Ghazali yang memasang wajah ceria. Senyuman di wajahnya terus terpampang. Begitu juga dengan Bintang, senyum manisnya tak lepas sambil melihat ke arah Ghazali.
__ADS_1
"Hm, yang senang hari pernikahannya dimajukan esok hari," goda Langit kepada Bintang.
"Apaan sich? Kalau bisa sekarang aja!" kata Bintang kesal karena digoda oleh Langit.
"Apanya yang sekarang?" tanya Angkasa yang duduk disamping Bintang.
"Nikahnya lah. Bintang sudah siap!" jawab Bintang tanpa beban.
Mendengar perkataan Bintang itu membuat semua orang di sana mengalihkan pandangannya ke arah dia.
"Emang ya, jodoh itu cerminan diri," kata Mentari sambil tersenyum geli.
"Aku nggak!" hampir semua orang di sana membantah ucapan Mentari. Terutama Cantika, dia merasa tidak sama dengan Alex, baik dari sifat dan kesukaan.
"Bintang kamu secepatnya di nikahkan sama Ghaza. Karena ada orang yang sedang mengincar mu. Jadi Ghaza ingin memajukan hari pernikahannya," jelas Cantika dan di aamiin kan oleh yang lainnya.
"Apa orang yang sedang mengincar ku itu orang yang sangat berbahaya?" tanya Bintang dengan wajah cemasnya.
Orang-orang yang berada di sana diam tidak ada yang menjawab.
"Mereka hanya ingin agar aku tidak bisa bersama kamu. Bisa dikatakan mereka ingin memisahkan kita. Aku nggak mau sampai terjadi seperti itu!" jawab Ghazali mencoba menghilangkan kecemasan pada Bintang.
"Oh. Apa Om tahu siapa orang yang ingin memisahkan kita?" tanya Bintang lagi sambil melihat ke arah Ghazali.
"Pria yang menabrak kamu kemarin. Dia mengaku suka sama kamu, dan saat mendengar kamu akan menikah denganku. Dia merencanakan mau membawa kamu kabur," jawab Ghazali.
"Aku merasa nggak kenal dia?! Bertemu dengan dia juga entah dimana mulanya. Aku nggak terlalu tahu," kata Bintang sambil mengerutkan dahinya.
"Apa dia suruhan orang lain?"
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1