
Masih cerita masa lalu Alex,
Irene makin gencar dalam menindas Alex, apalagi semalam Alex terus menangisi kepergian kepala pelayan. Dan itu membuat Arthur tidur di kamar anaknya karena mencoba menenangkannya.
Irene sengaja menyuruh koki memasak sup wortel untuk menu makan siangnya. Dan tidak boleh ada menu lainnya. Dengan alasan supaya Alex menjadi suka makan sayuran. Dia juga sering melakukan tindak kekerasan pada Alex walau hanya mencubit dan memukul bokongnya. Irene juga sering mengancam Alex kalau dirinya mengadu pada Arthur. Irene juga tak segan - segan memasukan Alex ke dalam lemari bajunya dan menguncinya dari luar. Setelah itu pintu kamarnya pun dikunci dari luar. Sehingga tidak ada pelayan yang curiga. Saat ada yang menanyakan Alex, Irene akan menjawabnya, Alex sedang tidur.
Tiga hari dari kejadian pengusiran Kepala Pelayan, Arthur bilang akan pergi ke Eropa selama lima hari. Karena Alex lebih memilih bermain dengan Fatih dan Willi, dibanding ikut dengan Arthur. Jadinya Arthur meminta Irene menjaga Alex. Irene sangat kesal sekali pada Alex, karena dia ingin ikut pergi dinas ke Eropa, dan dia juga bisa sekalian pergi berbulan madu. Setelah pergi mengantar Arthur kedepan rumah, Irene menyeret Alex masuk kedalam kamarnya.
" Hai bocah nakal apa mau. HAH !!!" Teriak Irene sambil memukul - mukul bokong Alex berkali - kali. Dan Alex hanya bisa menangis.
" Huaaaa.... Mommy tolongin Al....!" Alex menangis dan memanggil Anatasya untuk menolongnya.
" Mommy kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini !!! Dia tidak bisa menolong kamu !" Kini Irene mencubit lengan dan paha Alex sampai biru - biru karena memar.
" Bisa diam tidak kamu,HAH !!!"
" Mau aku bertindak lebih kejam lagi. !" Irene menjewer kuping Alex sampai merah.
" Huaaaa.... Sakit....!" Alex makin menjadi tangisannya, karena berbagai kekerasan yang diberikan oleh Irene.
" Diam !!! Kalau kamu tidak diam juga. Aku akan mengurung mu di dalam lemari !" Ancam Irene.
" Huaaaa.... Kamu nakal !" Jerit Alex.
Karena kesal dengan tangisan Alex, akhirnya Irene memasukan Alex kedalam lemari bajunya.
" Huaaaa....Buka.... !" Alex menggedor pintu lemari dari dalam.
" Irene, buka !!!" Alex terus berteriak sambil menangis.
Setelah satu jam Alex dikurung di dalam lemari. Irene membukanya, dan terlihat kalau Alex tak sadarkan diri. Entah pingsan atau tertidur. Kemudian dia membaringkan Alex di kasurnya.
" Hah, dasar bocah nakal. Kenapa kamu nggak sekalian ikut mati sama mommy kamu itu !"
" Kamu itu masih bocah, tapi sulit sekali diatur."
" Seharusnya kamu dari awal diam saja, jangan membantah semua perkataan ku. Maka aku pun nggak akan seperti ini sama kamu."
" Kamu itu sama seperti Arthur sulit ditaklukan dan keras kepala."
" Aku akan sangat senang sekali kalau kamu pergi dari kehidupan ku." Irene terus saja berbicara seorang diri, karena Alex tak menanggapinya.
__ADS_1
" Tok !!!"
" Tok !!!"
Suara pintu di ketuk dengan sangat keras. Dan saat dibuka, ternyata ada seorang pelayan
" Nyonya. Ada Nyonya Aurora di bawah mau menjemput Tuan muda Alex." Kata seorang pelayan di depan pintu kamar Alex.
" Katakan padanya kalau Alex sedang tidur." Jawab Irene dari dalam kamar.
Pelayan itu pun memberitahukannya pada Aurora. Karena penasaran, Aurora pun naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamar Alex. Dan itu membuat Irene marah, karena Aurora sudah tidak sopan masuk ke dalam kamar Alex. Dimana dirinya sedang ikut berbaring bersama Alex.
" Oh, ternyata seorang putri dari keluarga Green tidak tahu sopan santun. Masuk ke dalam kamar tuan rumah orang lain tanpa permisi !" Sindir Irene pada Aurora.
" Itu karena tuan rumahnya telah lupa dengan janji yang dia buat." Sindir Aurora nggak mau kalah.
Saat mendengar perdebatan di dekatnya Alex pun terbangun. Dia langsung ingin ikuti dengan Aurora. Irene yang ketakutan ketahuan telah melakukan tindak kekerasan pad Alex. Meminta Alex untuk tetap tinggal dengannya. Tapi Alex teguh dengan pilihannya, tetap ikut Aurora pulang ke mansion keluarga Green.
" Alex, kalau Daddy nanti mencari kamu bagaimana ?" Mulut manis Irene mencoba merayu Alex.
" Gimana kalau kalian mainnya disini saja ?"
" Nanti koki buatkan puding yang enak buat kalian ?!"
Akhirnya ketiga bocah kecil itu bermain di halaman mansion Arthur. Mereka main pesawat sambil kejar - kejaran. Aurora duduk di kursi taman memperhatikan mereka. Irene juga duduk bersamanya di kursi itu. Saat mereka bermain di dekat pohon, Alex menjerit ketakutan. Dan dia berlari terbirit-birit, saat Willi memegang ranting pohon yang ada ulatnya. Aurora yang melihat Alex berlari dengan kencang sambil teriak - teriak, datang menghampirinya terus menggendongnya.
" Ada apa Alex ?" Tanya Aurora sambil mengelus punggung Alex yang berada dalam gendongannya.
" Ada Monster, Aunty !" Tangan Alex menunjuk ke arah Fatih dan Willi.
" Kalian sedang apa" tanya Aurora.
" Ada ulat, Ma." Jawab Fatih.
" Lihatlah !" Willi menujukan ulat bulu yang berukuran besar sedang bergerak di ranting yang dipegang olehnya.
" Buang itu Willi. Sudah tahu Alex takut ulat, kalian malah menakutinya." Perintah Aurora dengan tegas. Dan akhirnya Willi pun membuang ranting itu.
" Oh, ternyata si bocah nakal itu takut ulat
" Gumam Irene dalam hati.
" Anak - anak ayo kita makan siang." Ajak Aurora.
Saat di meja makan Aurora terkejut melihat menu makanannya. Hanya ada sup wortel saja. Aurora mengerutkan keningnya, tak mengerti kenapa makanan yang disajikan adalah wortel. Yang jelas - jelas dia tahu kalau Alex tidak suka wortel.
__ADS_1
" Kenapa hanya ada sup wortel. Mana menu makanan lainnya ?" Tanya Aurora pada para pelayan.
" Kamu jangan protes. Arthur ingin kalau Alex makan makanan yang sehat. Jadi koki buatkan makanan yang baik untuk kesehatan." Jelas Irene.
" Apa kamu tahu, kalau Alex tidak suka wortel ?"
" Iya. Dan Arthur ingin agar Alex tidak pilah pilih makanannya."
Setelah perdebatan panjang antara Aurora dan Irene. Akhirnya mereka makan telur mata sapi. Karena kedua bocah yang lainnya pun nggak mau makan sup wortel. Dan itu membuat Alex bahagia. Bukan hanya ketiga bocah itu yang bahagia, para pelayan dan koki juga ikut bahagia. Karena mereka selalu merasa kasihan pada Alex yang selalu di paksa makan wortel oleh Irene.
Setelah makan siang, Aurora mengajak mereka bertiga tidur siang. Aurora sering membacakan dongeng atau kisah - kisah menjelang tidur untuk mereka. Biasanya setelah menidurkan anak - anak, Aurora akan mengerjakan pekerjaan lain. Terutama memeriksa laporan perusahaan miliknya. Tapi kini dia tidak membawa berkas - berkas itu, akhirnya memutuskan ikut tidur siang bersama mereka.
Saat sore hati, waktunya anak - anak mandi. Aurora terkejut melihat di tubuh Alex ada memar - memar di paha dan lengannya. Saat Aurora menyentuhnya, Alex meringis kesakitan. Aurora yang melihat itu ikut menangis, kenapa tubuh keponakannya itu banyak memar di tubuhnya.
" Alex ini kenapa bisa jadi begini ?" Tanya Aurora sambil mengelus bekas memar pada lengan Alex.
" Hiks.... Sakit Aunty," jawab Alex sambil menahan tangisannya.
" Siapa yang sudah membuatmu begini ?" Aurora memeluk Alex yang sedang menangis tertahan. Tapi Alex diam saja tak menjawab, dia hanya terus menangis.
Setelah memandikan mereka bertiga, Aurora memanggil dokter ke mansion Arthur dan minta obat untuk menghilangkan memar pada tubuh Alex.
" Irene, bagaimana bisa ada banyak memar di tubuh Alex !" Aurora meminta pertanggung jawaban Irene atas Alex.
" Dia itu anak nakal yang sering berlarian di dalam rumah dan sering menabrak barang - barang !" Kilah Irene.
" Aku tidak percaya itu. Fatih dan Willi juga sering terjatuh tapi tidak pernah memar seperti itu."
" Kamu tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap Alex, kan ?" Tanya Aurora dengan tatapan tajamnya mengintimidasi Irene.
" Mana mungkin aku melakukan hal gila seperti itu !" Irene masih menyangkal.
" Gawat, jangan sampai Aurora mengadukan ini pada Arthur, apalagi Tuan Besar." Gumam Irene dalam hatinya.
\* \* \* \* \* \* \*
JANGAN LUPA KASIH LIKE, FAV, HADIAH, VOTE JUGA.
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS.
__ADS_1