
Akira dan Athena berangkat menuju Perancis. Dalam perjalanan Akira membuat beberapa rencana yang akan mereka lakukan nanti. Cara berpikir Akira yang cepat dalam merencanakan sesuatu. Membuat Athena semakin terpesona kepada laki-laki paruh baya itu. Walau usia Akira 40 tahun-an, tapi wajahnya masih terlihat 30 tahun-an. Jadi, tidak terlalu jomplang kelihatannya jika mereka berdua bersanding.
Akira yang tadinya biasa saja terhadap Athena, kini mulai membuka hati karena tersentuh akan kegigihan dan kedewasaannya. Athena meski masih perawan, tapi dia bukan gadis yang polos. Puluhan kali dia menggoda Akira, dan meski sempat akan terjatuh dalam godaannya. Bila sudah begitu Akira akan marah-marah dan Athena akan tertawa senang. Bahkan Akira memberinya panggilan khusus dengan sebutan "gadis bar-bar" Athena pun nggak mempermasalahkan sebutan itu, asal dia masih bisa menempel kepada Akira.
"Ojii san, sejak kapan Angkasa dan Paris pacaran?" tanya Athena penasaran.
"Setahu aku mereka tidak pernah pacaran. Entah kalau baru-baru ini," jawab Akira sambil memperhatikan wajah Athena yang bibirnya sudah bengkak akibat perbuatannya tadi.
"Aku dulu sempat mengira kalau Angkasa itu penyuka sesama jenis, dan Peter itu pasangannya," ucap Athena.
Mendengar kata-kata Athena barusan, membuat Akira tertawa lepas. Dicubitnya pipi Athena dengan gemas.
"Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?" tanya Akira sambil menahan senyumnya.
"Karena Angkasa itu datar banget wajahnya. Ada wanita seksi lewat saja, dia tidak bergeming sama sekali. Bahkan ada beberapa mahasiswi yang bertaruh untuk bisa melakukan one night stand, dengan Angkasa. Namun, semuanya itu gagal tidak ada yang bisa menggaet dan menaklukan Angkasa." Athena kini lebih memilih mendekap tubuh Akira.
Akira menarik tubuh Athena agar semakin dekat dengannya. Ada senyum diwajahnya membayangkan Angkasa yang pastinya marah-marah karena telah diperlakukan seperti itu.
"Setahu aku selain nona Bintang, hanya Paris yang selalu dekat dengan Tuan Muda Angkasa," jawab Akira.
"Tapi, kadang aku lihat sikap Angkasa itu dingin dan terkesan tidak peduli terhadap Paris. Dulu pernah, Paris menunggu semalaman di depan apartemen Angkasa. Kalau dia orang terdekat harusnya Paris di izinkan masuk ke apartemennya," kata Athena.
__ADS_1
"Tuan muda Angkasa tidak suka kalau ada yang merusak dan mengganggu ranah pribadi. Sepertinya, Paris 'lah gadis kecil yang sering mencium Tuan Muda Angkasa, dulu seperti Bintang dahulu." Akira kembali mengingat tingkah dua bocah yang kini sudah menjadi pasangan suami istri.
###
Paris berdiri di sisi jendela, menunggu kedatangan Angkasa. Dia sangat berharap kalau suaminya itu bisa dengan cepat menjemputnya. Namun, harapan itu seakan sirna saat ada dua buah mobil masuk ke pekarangan rumah. Paris bisa melihat Milan dan beberapa orang keluar dari mobil itu. Penampilan mereka seperti para pekerja kantoran. Hanya saja wajah mereka terlihat keras seperti mafia.
Paris merasa sesuatu sedang atau akan terjadi padanya. Maka, dia dengan cepat menggeser meja nakas untuk menghalangi pintu. Paris tidak bisa keluar dari kamarnya karena semua kaca jendela di pasang teralis besi.
"Aku harus tenang! Pasti ada jalan keluarnya dari sini," kata Paris bermonolog.
Paris terkejut saat terdengar suara ketukan pintu. Dia pun mencari alat yang bisa dijadikan senjata. Ada tiang lampu hias yang disimpan pojok ruangan. Paris langsung mengambil itu karena pintu terus di dobrak dari luar.
Akhirnya, pintu kamar Paris berhasil di dobrak oleh dua orang laki-laki berpenampilan rapi. Milan pun berdiri di belakangnya.
"Wah, hebat juga ternyata kamu!" seru Milan sambil bertepuk tangan dan senyum terpasang diwajahnya.
Paris melihat ke arah Milan dan mengacungkan tiang lampu itu. Memintanya jangan macam-macam.
"Keluar dari kamarku!" teriak Paris.
Namun, Milan tidak menghiraukannya. Dia malah maju semakin mendekat ke arah Paris. Maka, Paris pun melayangkan tiang itu. Meski Milan berhasil menangkisnya menggunakan tangan. Tetap saja dia meringis kesakitan karena tidak menyangka kekuatan dari pukulan Paris, sangat kuat.
__ADS_1
"Pantas saja mereka sampai pingsan ... ternyata kuat sekali pukulannya itu," kata Milan.
"Sudah aku bilang, keluar dari kamarku!" Paris kembali memukulkan tiang di tangannya kembali.
Milan kembali mendapatkan pukulan dari Paris. Sampai tiba beberapa orang berjas datang ke kamar Paris. Mereka pun melawan Paris, ada tiga orang yang melawan secara bersamaan. Ketiganya memiliki kemampuan berkelahi dengan tangan kosong. Paris kewalahan melawan mereka. Milan dan beberapa orang lainnya hanya menonton di sisi ruangan.
Paris pun berhasil dikalahkan dan kedua tangannya diikat kebelakang. Mata penuh kebencian dia layangkan kepada Milan.
"Jangan marah begitu, Honey." Milan mengelus pipi dan dagu Paris.
"Kamu itu orang yang tidak tahu malu!" Teriak Paris kesal.
"Jangan marah, Honey! Karena nantinya kita akan tinggal bersama." Milan tersenyum senang.
"Sayang sekali aku tidak mau harus tinggal dengan kamu!" bentak Paris dengan nada sinis dan ditanggapi dengan tawa oleh Milan.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.