Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 23


__ADS_3

     Acara ijab qobul pun dapat dilaksanakan dengan lancar. Tangis haru dan bahagia mewarnai suasana saat itu. Banyak nasehat dari para orang tua untuk Langit dan Almahira, dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Begitu juga dengan doa untuk pasangan pengantin baru ini.


"Putra kebanggaan Papa, kini sudah punya tanggung jawab sendiri. Semoga kehidupan keluarga kalian penuh kebahagiaan, kebaikan, keberkahan, dan selalu berada di dalam ridho-Nya." Alex memeluk Langit dan menepuk punggung putranya. Serta Langit, meng-aamiin-kan doa papanya.


     Alex pun mengurai pelukannya, "ingat saat ini Almahira sudah menjadi tanggung jawab kamu. Sudah tugas suami membimbing, menjaga, dan menyayanginya. Buat istrimu merasa hidupnya berarti dan bahagia karena bersama denganmu."


     Langit menganggukkan kepalanya mengerti dan memahami ucapan papanya. Kini Langit memeluk Cantika. Orang yang paling disayang dalam hidupnya.


"Langit, dengarkan Mama. Saat ini kamu sudah menjadi seorang suami. Jadilah imam yang bisa membimbing istrimu. Ingat Almahira adalah wanita biasa yang bisa saja berbuat salah. Bila kamu melihat kesalahan yang dilakukan istrimu. Maka tegur dia dengan cara yang baik. Sebaliknya bila kamu yang salah, jangan malu untuk meminta maaf. Terus jangan ulangi lagi kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya." Cantika mengusap kepala Langit dengan penuh sayang. Ada tangis haru dari keduanya.


"Semoga kalian selalu hidup bahagia dalam limpahan ridho dan rahmat-Nya." Cantika mengurai pelukannya. Menghapus air mata putra yang dulu paling manja kepadanya, di antara mereka bertiga.


"Semoga kamu cepat menyusul," kata Langit saat berpelukan dengan Angkasa sambil terkekeh. Sementara Angkasa hanya cemberut menanggapinya.


"Semoga kalian segera diberi keturunan yang banyak!" Doa Angkasa untuk Langit. Malah membuat ketawa orang yang mendengarnya.


"Ah, malam pertama juga belum dan entah kapan itu. Aku dan Alma 'kan tinggal terpisah. Kita itu sehari-harinya tinggal di asrama sekolah," kata Langit sambil memanyunkan bibirnya.


"Bisa. Bukannya masih ada hari Sabtu dan Minggu," balas Bintang sambil terkekeh. Perkataan Bintang, itu membuat Langit jadi malu sampai wajah dan telinganya merah.


"Tidak bisa kayaknya. Aku sedang sibuk menjalankan misi. Sekarang juga aku akan ke rumah sakit untuk menemui Honda san," bantah Langit.


"Kamu sedang menjalankan misi apa?" tanya Bintang penasaran.


     Kini si Trio Kancil sedang membicarakan misi yang sedang dijalankan oleh Langit. Dia juga menceritakan apa saja yang sudah terjadi padanya selama menjalankan misi ini. Informasi yang sudah di dapatkan. Nama-nama yang dia mulai curigai. Serta tugas mencari orang super jenius yang bernama Manza. Diduga dia sedang bersembunyi di suatu tempat karena takut dirinya di manfaatkan oleh orang tidak bertanggung jawab.


"Oh iya, ternyata Lovely juga masuk ke sekolah Academy Matsumoto. Dia juga menyusup ke sana. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Hanya saja, dia menggeledah ruang kepala sekolah. Saat aku, menyusup masuk ke ruang rahasia." Langit membeberkan semuanya kepada Angkasa dan Bintang.

__ADS_1


"Lovely itu yang dulu masuk ke kamar hotel, Kak Angkasa?" tanya Bintang sambil melirik ke arah Angkasa.


"Iya, dia. Gadis seksi yang main telanjang bulat di depan--" ucapan Langit terpotong karena tiba-tiba saja Angkasa menutup mulutnya.


"Lho, bukannya dulu baru buka atasannya saja. Karena aku keburu datang?!" tanya Bintang.


    Langit mengacungkan tiga jarinya ke arah Bintang. Maksudnya Lovely sudah tiga kali menyusup masuk ke kamar Angkasa. Serta membuat pihak hotel meminta maaf kepada Angkasa atas ketidaknyamanannya saat itu. Bahkan mereka pindah kamar dan semua itu gratis tidak perlu bayar. Uang yang sudah dibayarkan ke pihak hotel pun dikembalikan lagi.


"Wah, Kak Angkasa dapat bonus sampai tiga kali," ejek Bintang sambil tersenyum geli.


     Angkasa marah kepada kedua saudaranya itu. Dari tadi, semenjak dia datang terus saja di ejeknya.


"Apa kalian mau ikutan terlibat di misi yang aku jalani sekarang ini?" tanya Langit saat sudah dilepaskan oleh Angkasa.


"Aku sangat tertarik dan ingin ikut. Sungguh begitu penasaran," jawab Angkasa.


     Langit juga menceritakan tentang keadaan kondisi kesehatan Honda kepada Angkasa. Dia juga meminta untuk memeriksa keadaan Honda, sekalian. Menurutnya, kondisi Honda saat ini dalam keadaan tidak baik.


     Angkasa pun menyetujui keinginan Langit, untuk datang menjenguk Honda, di rumah sakit. Serta untuk memeriksa kondisi tubuhnya.


*******


     Sementara keluarga Rafli berbincang dengan keluarga Khalid. Dia tidak menyangka kalau, Langit masih punya hubungan keluarga dengan Khalid, pengusaha terkenal di dunia dan termasuk orang yang memiliki pengaruh, baik di dalam negeri maupun luar negeri.


"Saya sangat terkejut sekali kalau orang yang saya kagumi kini sedang berdiri di hadapanku," kata Kartini menatap Khalid penuh kagum. Mata istri dari Rafli terlihat sangat berbinar-binar.


"Ibu, jangan begitu! Tidak sopan," kata Rafli mengingatkan istrinya, jangan berbuat sesuatu yang bikin malu.

__ADS_1


    Khalid dan Aurora hanya tersenyum melihat tingkah Rafli dan Kartini. Mereka juga tadi bilang semenjak kedatangan, Langit kemarin. Sampai tadi proses ijab qobul, terus dibuat terkejut entar berapa kali, oleh Langit dan keluarganya. Rafli dan Kartini tidak menyangka bisa besanan dengan orang-orang hebat.


*******


     Langit mengajak Almahira untuk ikut ke rumah milik Alex yang ada di Osaka. Tempatnya bersebelahan dengan rumah Shin Kishimoto. Rumah megah bergaya Jepang yang sangat asri suasananya. Halaman yang luas dan ada beberapa pohon sakura. Kolam ikan koi dan gazebo di halaman belakang rumah. Siapa pun, pasti akan betah untuk tinggal lama-lama di sana. Di rumah Alex, ada beberapa pelayan yang bisa dipercaya yang menjaga dan mengurus rumah ini. 


    Selama kuliah di Jepang, Langit pun tinggal di sini. Maka dia juga membawa Almahira ke kamar miliknya.


     Jantung Almahira berdetak lebih kencang daripada saat proses ijab qobul tadi. Kini hanya dirinya dan Langit saja yang ada di kamar ini. Almahira sungguh gugup saat mereka berdua duduk di atas kasur, dan Langit berada didepannya.


"Tidak perlu tegang begitu. Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh," kata Langit sambil mengangkat dagu Almahira, yang sejak masuk kamar terus menundukkan kepalanya.


     Kini pandangan kedua mata itu saling mengunci. Terjerat akan pesona lawannya. Dengan perlahan tapi pasti, keduanya saling mendekat. Hingga kedua benda berstruktur lembut dan kenyal itu menempel kemudian menyesap, terakhir saling menuntut. Keduanya tidak mau kalah, berbeda dengan ciuman pertama mereka kemarin. Kini mereka saling mencumbu dan tidak mau kalah. Entah berapa lama mereka melakukan itu, yang jelas napas keduanya saling memburu. Bibir Almahira pun sudah terlihat membengkak.


"Mungkin saat ini hanya ini saja yang bisa kita lakukan," kata Langit sambil memandang Almahira, dan dibalas dengan anggukan olehnya.


"Kapan pun, Langit ingin melakukannya, aku akan siap," balas Almahira dengan malu-malu.


"Iya," Langit pun memeluk tubuh Almahira, menghirup wangi tubuh gadis berparas ayu yang kini sudah menjadi istrinya.


"Enaknya kita saling panggil apa, ya?" tanya Langit.


"Maksudnya?" Almahira malah balik bertanya.


"Panggilan sayang, enaknya kita panggil apa!" Langit mencubit hidung Almahira karena gemas tidak mengerti maksud pembicaraan dirinya.


"Aku senang, saat Langit, panggil aku Sayang," jawab Almahira dengan malu-malu.

__ADS_1


"Kalau gitu panggil aku dengan, Ayang, ya!" kata Langit sambil tersenyum menggoda. Almahira hanya menggunakan kepalanya saja.


__ADS_2