
Kelima bocah itu membuka album foto yang ditemukan oleh Didi. Saat sampul album di buka, foto yang terpajang di sana adalah foto pernikahan Dokter Lazuardi dan Dokter Paramitha. Foto pernikahan mereka terpajang sampai beberapa halaman lembar album. Kemudian ada foto - foto Dokter Lazuardi sedang bekerja di Rumah Sakit atau Puskesmas, yang sedang memeriksa para pasiennya. Begitu juga foto - foto Dokter Paramitha.
Ternyata wajah Bintang anak perempuan mereka sangat mirip dengan Dokter Paramitha. Dan Angkasa mirip dengan Dokter Lazuardi. Sedangkan Langit perpaduan keduanya.
Foto - foto saat Dokter Paramitha sedang hamil sampai, bayinya lahir. Banyak terdapat di album itu. Foto Langit dari bayi sampai bisa berjalan. Dan dua lembar foto album itu adalah Dokter Paramitha sedang terbaring brankar di Rumah Sakit dan Langit ikut menemani bersamanya.
" Hei, lihat album foto yang ini!" Kata Langit sambil memegang album foto yang berwarna biru.
" Foto apa itu?" Angkasa datang menghampiri Langit yang berdiri di dekat meja rias.
" Kenapa Dokter Lazuardi pakai seragam tentara?" Tanya Didi saat melihat isi dari album foto itu.
" Sepertinya dulu Dokter Lazuardi itu seorang tentara!" Kata Langit sambil membuka halaman album foto yang berisi Dokter Lazuardi memakai seragam tentara.
Foto - foto kegiatan Dokter Lazuardi yang berseragam kan baju tentara sangat banyak di album itu. Dari kerja bakti bersama warga sampai memeriksa kesehatan warga juga ada.
" Oh, sepertinya Dokter Lazuardi itu seorang tentara di bagian kesehatan!" Kata Angkasa.
" Jadi selain seorang Tentara, beliau juga merangkap menjadi seorang Dokter!" Ucap Bintang.
" Tentara Dokter? Dokter Tentara?" Tanya Didi.
" Terserah kamu lah!" Jawab Si Trio Kancil bersamaan.
Saat Langit akan menyimpan kembali album foto itu ada terselip sebuah foto. Disana terlihat ada Dokter Lazuardi yang berseragam tentara. Tapi lebih belia wajahnya, sedang bersama seorang berseragam tentara juga. Mungkin foto itu diambil saat mereka masih awal - awal jadi tentara.
" Kak Angkasa lihat, sepertinya aku merasa wajah orang ini tidak asing, ya?" Langit memperlihatkan foto tadi kepada Angkasa.
" Mana?" Angkasa dan Bintang melihat foto itu.
" Emang siapa mereka?" Tanya Bintang saat melihat dua orang pemuda yang masih seperti remaja berpakaian tentara.
" Yang ini Dokter Lazuardi, dan pemuda ini mungkin temannya."
" Tapi wajahnya terasa familiar!" Kata Langit melihat kedua saudara kembarnya itu.
" Memang siapa, orang yang terlintas dalam pikiranmu saat melihat wajah orang ini?" Tanya Angkasa.
" Hehe…. Nggak tahu. Hanya saja aku pernah melihat orang berwajah seperti dia." Langit malah ketawa.
" Kamu ini." Angkasa ingin sekali mencubit pipi saudara kembarnya itu.
" Hei, sebaiknya kita cepat - cepat pulang!" Kata Didi.
" Jangan sampai Bapak mencari kita."
" Sebentar lagi waktunya sarapan." Lanjut Didi lagi.
__ADS_1
Kelima bocah itu keluar lewat jendela di ruang keluarga tadi. Mereka pulang dengan berlari karena jalannya menurun. Saat mereka pergi tadi matahari masih malu-malu, kini matahari telah bersinar dengan terangnya. Cahayanya pun sudah mulai terasa hangat.
*******
Sementara Alex dan Tim Pencari anak - anaknya, sudah mulai bergerak lagi. Mereka mengikuti petunjuk Alex yang semalam menemukan kembali bekas sisa - sisa makanan anaknya.
" Akira, kamu ikut dengan mereka! Kalau ada apa - apa cepat hubungi aku." Perintah Alex.
" Michael kamu ikut dengan ku!"
Alex tahu kalau saat ini keadaan Michael kurang baik. Karena semalam tadi Michael tidak bisa tidur karena terus memikirkan Bintang. Michael begitu sayang kepada Bintang. Sehari - harinya juga dia sering menghabiskan waktunya untuk menjaga Bintang. Saat melihat Bintang, dirinya selalu teringat mendiang Anatasya, Mommy-nya Alex. Michael yang sejak bayi dibuang oleh orang tuanya di panti asuhan. Bisa merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu dari Anatasya.
" Aku harap hari ini kita bisa menemukan mereka!" Kata Alex.
Mereka akhirnya bergerak secara berkelompok, menuju ke arah Selatan.
*******
Kelima bocah itu pulang ke rumah tepat waktu. Ketika Lastri telah selesai masak, untuk sarapan pagi.
" Kalian barusan pergi jalan - jalan kemana?" Tanya Lastri sambil menata makanan di meja.
" Main ke daerah tebing, Bu!" Jawab Didi.
" Kamu jangan main ke rumah hantu itu, untuk mengambil buah mangga." Kata Lastri memberi peringatan pada anaknya itu.
" Nah ini kalian sudah pulang." Kata Danang yang baru masuk ke dalam rumahnya.
" Tadi kalian main kemana saja?" Tanya Danang sambil duduk dikursi meja makan.
" Biasa, Pak! Main di dekat tebing." Jawab Didi.
" Kita makannya lesehan di depan rumah, yuk!" Ajak Dodo dengan riang. Dan di angguki oleh anak - anak yang lainnya.
*******
Setelah mereka selesai makan, Angkasa mendatangi Danang yang sudah selesai makan sejak tadi.
" Pak apa disini ada telepon?" Tanya Angkasa.
" Oh mau menelepon orang tua kalian?" Danang malah balik bertanya.
" Iya. Saya ingin menghubungi orang tua kita. Mereka pasti sekarang sedang khawatir memikirkan keselamatan kita." Jawab Angkasa.
" Baiklah kita nanti pergi ke Kantor Desa. Karena hanya disana yang ada telepon di dekat sini." Kata Danang.
" Apa nggak ada yang punya handphone?" Tanya Bintang dan Langit menyenggol Bintang ketika saudaranya bicara begitu.
__ADS_1
" Hahaha…. Disini kami para pelayan, nggak punya barang mewah seperti itu."
" Kalau mau menghubungi orang lain di luar Desa. Kita bisa ikut menelepon di Kantor Desa atau Kantor Kecamatan." Danang tertawa lepas mendengar ucapan polos dari Bintang.
" Baiklah, Pak. Saya mohon bantuannya lagi." Angkasa tersenyum sungkan pada Danang.
" Ya, kita nanti pergi ke Kantor Desa jam sembilan pagi." Lanjut Danang.
" Ayo sekarang kalian pergi mandi!" Perintah Lastri kepada anak - anak itu.
Dan sekitar jam sembilan pagi mereka pergi ke Kantor Desa. Untuk minta izin menelepon.
" Nak kalian tahu nomor telepon rumah kalian?" Tanya Petugas Desa kepada Angkasa.
" Iya, Pak. Saya sangat menghapalnya." Jawab Angkasa dan di angguki oleh kedua saudaranya itu.
Petugas itu pun menghubungi nomor yang disebutkan oleh Angkasa. Sambungan telepon pun dapat tersambung, tapi nggak ada yang mengangkatnya. Petugas itu mencoba kembali menghubunginya.
" Nak, sepertinya nggak ada yang mengangkatnya." Kata Petugas Desa itu.
" Bagaimana ini? Di rumah Kakek Ja'far tidak ada siapa - siapa. Karena sedang pergi ke Amerika." Tanya Angkasa kepada Langit dan Bintang.
" Ke kantor Kakek Khalid saja!" Jawab Langit.
" Pak minta Carikan nomor telepon perusahaan Hakim Group?" Angkasa meminta pada Petugas Desa itu.
" Kalian mau apa menelepon perusahaan terkenal itu?" Petugas Desa itu merasa heran.
" Aku ingin menghubungi Kakek Khalid!" Kata Angkasa.
" Pak, itu saudaranya mereka." Kata Danang sok tahu, agar petugas itu cepat - cepat menghubungi nomor yang diminta oleh Angkasa.
" Baiklah, aku akan menghubunginya." Petugas Desa itu pun mencari nomor perusahaan Hakim di buku telepon.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN KASIH JEMPOL YANG BANYAK DAN BUNGA ATAU KOPI JUGA.
TERIMA KASIH.
MAMPIR KE KARYA AKU YANG LAINNYA JUGA. NGGAK KALAH SERU....
MAMAKU WANITA SUPER & PAPAKU SUPER GENIUS
__ADS_1