Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 44


__ADS_3

      Diruang interogasi, para agen bayaran akhirnya menyerah. Mereka memberitahukan siapa orang yang sudah menyewa mereka.


      Mereka yang ada di sana sungguh terkejut, saat mendengar nama yang disebutkan oleh para agen itu. Alex dan Khalid, tidak mau gegabah dalam mengambil tindakan. Maka mereka akan mengumpulkan dulu barang bukti yang kuat. Agar orang itu tidak akan lolos, dari jerat hukum.


"Pah, jadi sebaiknya gimana sekarang?" tanya Alex kepada Khalid saat dalam perjalanan pulang.


"Kita, biarkan dulu saja dia. Sebaiknya kita sembunyikan Bintang dahulu. Seolah-olah dia memang sudah di culik." Khalid memberikan idenya.


"Kalau gitu, Bintang akan di ungsikan kemana? Kasihan dia, Pah." Alex nggak mau melihat anak gadisnya, bersedih karena merasa diasingkan.


"Bukannya rumah kita banyak! Minta aja dia dan Ghaza, untuk bersembunyi hingga waktunya tiba. Sampai kita berhasil mengumpulkan barang bukti dalam waktu kurang dari lima hari lagi ini." Khalid masih mampu berpikir panjang dan penuh semangat, walau dia sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.


"Kalau mereka berdua terus, Alex nggak bisa menjamin. Nantinya si Ghaza akan menyentuh Bintang." Alex manyun karena belum rela melepas Bintang yang kini sudah menjadi istrinya Ghazali.


     Agar rencana menangkap orang yang sudah menyewa para agen, itu berjalan lancar. Maka, rumor Bintang telah di culik beredar di kampusnya. Untungnya kejadian pas penculikan itu terjadi di kampus. Jadi tidak sulit untuk menyebarkan gosip.


     Bahkan, Dokter Ghazali yang merupakan calon suaminya (mereka belum tahu kalau dia sudah menikah dengan Bintang). Kini mengurung diri, karena kesedihannya yang begitu mendalam.


     Karena kejadian ini menimpa keluarga tersohor di dalam negeri maupun di luar negeri. Jadinya, semua hal tentang keluarga Khalid, langsung menjadi bahan gosip para lambe turah.


    Tiga hari menjelang pesta pernikahan Ghazali. Amara datang ke rumah Khalid, untuk menemui Ghazali.


"Mah, apa Ghaza ada di rumah?" tanya Amara kepada Aurora, begitu mereka bertemu.


"Oh, Amara. Ghazali seperti orang depresi. Kasihan sekali dia. Mama tidak sanggup melihatnya seperti itu," Aurora memasang wajah sedih dan menangis.


"Tenang, Ma. Amara akan membuat Ghaza kembali seperti dia yang dahulu," kata Amara.


"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Aurora penuh semangat.


"Amara yang akan menjadi calon pengantin wanitanya!" jawab Amara dengan yakin.


"Tapi kan?!" Aurora terkejut.


"Amara tidak apa-apa walau menjadi istri yang kedua," Amar berkata dengan keyakinannya.


"Lalu bagaimana caranya? Papa kamu kan sedang di luar negeri. Apalagi dia lagi sakit?!" tanya Aurora.

__ADS_1


"Tenang saja, Mah. Papa akan datang, saat hari pernikahan aku, putri satu-satunya." Amara menggenggam tangan Aurora.


"Kamu baik sekali Amara," ucap Aurora sambil tersenyum, dan Amara pun membalas senyumannya.


"Kalau begitu, Amara akan mencari baju pengantin buat hari H-nya," kata Amara dengan penuh semangat.


"Padahal itu, ada baju pengantin yang akan di pakai oleh Bintang nantinya," kata Aurora dengan nada lemah.


"Tidak, Mah. Amara kan tidak pakai hijab. Amara juga punya impian ingin memakai baju pengantin yang seperti apa?!" jelas Amara.


"Oh ... kalau begitu terserah kamu!" Aurora melihat kepada Amara yang sedang tersenyum bahagia.


"Maaf, Amara. Ini adalah salah satu cara untuk memancing papamu ke luar dari persembunyiannya." gumam Aurora.


    Khalid yang mendengar nama salah seorang yang di kenalnya. Adalah otak di balik penculikan menantunya, Bintang. Merasa sangat marah, sampai-sampai dia akan langsung mendatanginya. Namun akses untuk bertemu orang itu sulit.


     Alex yang melacak keberadaannya pun, tidak dapat menemukannya. Ternyata di rumah sakit Singapure tidak pernah ada pasien yang bernama Handoko Kusuma.


      Jadi salah satu cara tercepat untuk menangkapnya adalah dengan membuat sandiwara baru. Tentu saja kepolisian di libatkan. Walau barang bukti sudah kumplit, tapi tersangka bersembunyi di tempat rahasia.


*******


     Mereka memasak bersama, makan saling menyuapi, dan nonton di bioskop yang ada di rumah. Membaca buku di perpustakaan. Bahkan mengerjakan tugas Bintang, dari para dosennya.


    Malam harinya pun, seperti kebanyakan pasangan pengantin baru lainnya. Malam-malam penuh nyanyian syahdu selalu di lantunkan oleh Bintang, yang membuat Ghazali senang dan bahagia.


     Sebenarnya Ghazali ingin Bintang langsung hamil saja. Namun dia juga tidak mau egois. Jadi sudah di putuskan kalau mereka akan merencanakan program punya anak tahun depan.


*******


     Tidak terasa akhirnya hari  berlangsungnya pasta pernikahan Ghazali akan di langsungkan seperti rencana awal. Acara berlangsung di Hotel Artemis.


     Para tamu undangan sudah banyak yang memasuki aula, yang sudah di dekorasi dengan mewahnya. Banyak tamu undangan dari kalangan atas dan orang-orang penting di negeri ini yang hadir.


     Amara dan Papanya sudah datang dari tadi. Sekarang mereka sedang menunggu di dalam kamar hotel. Tanpa mereka tahu kalau di lantai itu sudah di penuhi oleh polisi dan tim keamanan keluarga Hakim.


"Sayang, apa kamu senang?" tanya Handoko, papanya Amara.

__ADS_1


"Tentu saja, Pah!" jawab Amara dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Tidak sia-sia juga Papa mengeluarkan uang puluhan Milyar, agar Bintang bisa di sembunyikan dan di jauhkan dari Ghazali." Papanya Amara tersenyum lebar.


"Iya, Papa. Amara sangat sayang sama Papa. Semua yang Amara inginkan selalu di kabulkan oleh Papa. Amara senang, deh!" Amara memeluk Handoko itu dengan erat, dan tersenyum bahagia.


"Akan Papa lakukan apa saja, agar bisa membuat kamu bahagia. Meski harus menyingkirkan Bintang. Serta melawan keluarga Anderson dan Green." Handoko Kusuma membalas pelukan itu dengan rasa sayang.


     Papanya Amara adalah pengusaha sukses, yang punya banyak aset kekayaan. Namun, karena dia terlalu memanjakan Amara. Jadinya dia selalu memenuhi permintaan putri satu-satunya, meski harus mengorbankan nyawanya. Serta belakangan ini dia juga mulai bekerja sama dengan para pengusaha dunia hitam.


******


Sementara di kamar sebelah, Alex yang melihat mereka berdua lewat kamera tersembunyi, mengepalkan tangannya erat. Seandainya tidak ada Cantika yang menenangkannya, Alex pasti akan langsung mendatangi dan menghajarnya.


"Tenang Sayang, serahkan ini pada polisi," bisik Cantika sambil mengelus-elus punggung suaminya.


"Awas saja, kalau sampai polisi melepaskannya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu!" tatapan tajam di arahkan Alex pada layar monitor yang memperlihatkan sosok Amara dan Handoko


Khalid dan Kepala Kepolisian sudah bersiap-siap di depan pintu. Kalau-kalau terjadi hal yang tidak di inginkan. Meski Papinya Amara tidak punya pasukan atau bodyguard, tapi di orang yang bisa melakukan apa saja terhadap orang di sekitarnya. Karena sering mendapatkan bantuan dari rekan bisnisnya dari dunia hitam.


Mereka tidak bisa membiarkan orang biasa menjadi korbannya. Oleh karena itu, di lantai sana hanya ada para petugas keamanan yang berpakaian lengkap.


*******


PENGUMUMAN:


AKU SUDAH MEREVISI BAB INI. TERNYATA TIDAK BANYAK YANG DI UBAH. HANYA MENAMBAHKAN NAMA PAPANYA AMARA. SERTA MEMPERBAIKI TYPO.


TERIMA KASIH UNTUK PERHATIANNYA.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA, MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2