
Keadaan Suzuki sudah lebih baik. Langit pun menyuruh Suzuki untuk istirahat di kamarnya. Jangan mengkhawatirkan yang lainnya karena semua teman-temannya dalam keadaan baik dan aman. Setelah memastikan semua jendela terkunci. Langit pun turun ke lantai bawah untuk melihat kondisi ketiga penyusup tadi.
Kawasaki kini sedang mengintrogasi penyusup C karena cuma dia yang masih sadar. Sementara, kedua teman yang lainnya sudah tidak sadarkan diri.
"Kawasaki kun, informasi apa saja yang sudah kamu di dapat dari dia?" tanya Langit begitu berdiri di depan si Penyusup C.
"Dia bilang hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Big Bos," jawab Kawasaki.
"Siapa Big Bos, itu?" tanya Langit sambil menelisik ke arah si Penyusup C.
"Tidak tahu. Hanya saja mereka memanggilnya begitu," jawab si Penyusup C.
"Kenapa tidak tahu? Lalu apa kamu sudah pernah bertemu dengan Big Bos?" Langit mulai tertarik untuk menginterogasi sendiri kepada musuhnya.
"Ya, tidak tahu. Aku juga belum pernah bertemu dengan dia," jawabnya lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Saat Langit ingin bertanya lagi dia melihat ada laser merah mengarah kepadanya dan Kawasaki yang sejajar dengannya. Langit langsung mendorong jatuh tubuh Kawasaki.
"Awas!" teriak Langit sambil melompat dan menjatuhkan diri bersama Kawasaki.
Kemudian ada tiga peluru yang ditembakkan ke tiga orang penyusup. Peluru bersarang tepat di kepala ketiga orang itu. Almahira dan Daihatsu Sena langsung menjerit melihat tiga orang yang mati di tembak di depan mata mereka.
"Ada apa?" tanya Kawasaki, sambil bangun dan melihat ke arah ketiga penyusup yang kini sudah mati, dengan bersimbah darah.
"Mereka telah dibunuh, agar rahasianya tetap terjaga." Langit bangun kemudian menutup ketiga orang itu dengan gorden.
Almahira dan Daihatsu Sena masih berpelukan, mereka sangat shock dengan kejadian barusan. Bahkan keduanya menangis dan pelukan mereka semakin erat. Kelakuan mereka berdua itu malah membuat Langit, ingin tersenyum saat melihat istri dan temannya itu, tapi dia tahan.
"Sebaiknya kita hubungi para pengawas jalannya ujian ini!" Langit memberi perintah kepada Kawasaki, untuk menghubungi Pulau Oka.
*******
Masalah yang terjadi di villa kelompok Langit menjadi pembicaraan para penghuni Pulau Mori. Mereka kini menjadi lebih waspada. Serta memilih diam di dalam villa untuk menyelesaikan karya mereka. Ada kebijakan baru semalam. Bila karya cipta sudah selesai bisa diajukan dan bila lulus, langsung bisa pulang. Maka kini mereka cepat-cepat ingin menyelesaikan karyanya.
Langit dan teman-temannya dengan sigap dan cekatan mereka mulai melanjutkan karya mereka. Target besok harus selesai. Selain itu stok makanan sudah hampir habis. Mereka harus mencari lagi bahan makanan bila besok hasilnya belum lulus uji karyanya.
Keempat murid Suzuki, sampai begadang agar bisa cepat menyelesaikan karya mereka. Sesuai target, akhirnya karya berhasil diselesaikan dan sudah di uji coba oleh mereka dan hasilnya sesuai yang diharapkan.
__ADS_1
Tengah hari mereka menyerahkan hasil karya kelompok, ke para guru panitia pengawas dan pembinaan. Suzuki yang kondisinya mulai berangsur membaik juga ikut memeriksa kelayakan karya mereka.
*******
Ternyata bukan hanya kelompok Langit yang ingin cepat-cepat keluar dari pulau itu. Kelompok yang lainnya juga menyelesaikan karya mereka dengan cepat dan di hari yang sama mereka masuk ke ruang uji coba.
"Langit kun, apa karya kelompok kalian sudah benar-benar selesai dengan benar? Tidak perlu di cek ulang lagi." Mitsubishi Dai beserta beberapa temannya memasuki ruang itu.
"Iya, punya kelompok kita sudah berhasil dengan nilai yang baik." Langit mengangkat dua jempolnya kepada mereka yang ada di sana.
Kelompok Langit yang akan kembali ke Pulau Mori, harus tertahan karena kapal lautnya sedang berlayar ke Pulau Taki, Pulau Numa, dan Pulau Yama. Untuk membawa hasil karya para murid di sana.
"Ternyata semua kelompok bekerja keras agar bisa selesai hari ini, ya!" Kawasaki memulai pembicaraan saat mereka duduk di pelabuhan, menunggu kapal laut yang datang.
"Untung saja kelompok kita yang pertama dapat menyelesaikan karya cipta. Jadi, tidak perlu antri menunggu.
*******
Ternyata kapal laut yang ditunggu belum juga datang. Bahkan kelompok yang lainnya sudah menyelesaikan penilian dan uji coba. Kini semua murid, kelompok yang di Pulau Mori, sedang menunggu kapal laut untuk mengantarkan mereka kembali.
Akhirnya para murid yang menunggu sampai kesal, bisa kembali ke pulau masing-masing. Mereka akan membawa kembali barang milik mereka. Kemudian akan pulang ke Osaka.
*******
Sekarang mereka sedang berada di kapal laut, dan menikmati pemandangan matahari yang akan terbenam. Mereka lebih memilih berada di dek kapal. Berkumpul bersama, dan bersenda gurau.
"Akhirnya kita punya waktu libur sebelas hari!" teriak Kawasaki dan Mitsubishi Dai. Mereka itu saingan, tetapi selalu kompak.
"Bagaimana kalau kita pergi liburan bersama?" tanya Kawasaki kepada teman-temannya.
"Ayo!" Jawab mereka kompak.
"Hei bagaimana kalau kita mampir dulu ke Pulau Hi? Aku penasaran ada apa di sana?" tanya Lovely yang sedang asik berpelukan dengan Mitsubishi Akai.
Murid-murid yang lainnya saling pandang satu sama lain. Langit sungguh ingin mendatangi Pulau Hi. Dia ingin memeriksa jejak bekas ledakan bom dua puluh tahun lalu.
"Aku juga rasanya ingin pergi ke sana," kata Subaru Sora dan Yamaha Ryu bersamaan.
__ADS_1
"Aku juga penasaran ingin melihat monumen yang dulu kalian bicarakan," lanjut Langit. Sedangkan Almahira menggoyangkan tangan Langit.
"Apa?" tanya Langit hanya gerak mulutnya saja tanpa suara.
"Berbahaya," balas Almahira sama hanya menggerakkan mulutnya tanpa suara.
"Baiklah, kalau begitu kita vote, pergi ke Pulau Hi atau tidak," kata Kawasaki memberi ide.
Ternyata kebanyakan dari mereka, ingin mendatangi Pulau Hi. Maka sudah diputuskan mereka akan mampir dulu ke Pulau Hi.
"Ada waktu sekitar satu setengah jam sampai matahari benar-benar tenggelam," kata Mitsubishi Dai.
"Kita manfaatkan waktu yang singkat itu untuk melihat batu monumen di sana!" Lovely berteriak membangkitkan semangat teman-temannya.
Langit mengira kalau Lovely akan langsung mengenali dirinya. Begitu mereka bertemu tadi, tetapi sampai sekarang dia tidak menunjukan reaksi apa-apa.
"Ayang, aku takut. Kalau ada apa-apa di sana, bagaimana?" Almahira berbisik, sambil mempererat genggamannya.
"Tenang ada aku," balas Langit, sambil tersenyum hangat kepada istrinya.
"Kamu jangan sampai lepaskan tangan aku,, ya!" pinta Almahira dengan mimik wajah memohon karena dia tidak suka mendatangi tempat yang pernah terjadi suatu tragedi.
"Tentu saja. Mana mungkin aku akan melepaskan kamu," jawab Langit sambil mencuri satu ciuman di pipi Almahira.
*******
AKAN TERJADI SESUATU DI PULAU HI, NANTI. KEJADIAN APAKAH ITU?
TUNGGU BAB SELANJUTNYA YA 🥰
*******
JANGAN LUPA KLIK, LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1