Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 7


__ADS_3

    Seumur hidupnya, baru kali ini Khalid marah kepada Ghazali. Putra kesayangan yang selalu manja kepadanya itu, hari ini membuat dirinya benar-benar murka oleh tingkah lakunya.


"Kenapa kamu melakukan itu kepada Bintang, hah!" bentak Khalid dengan napasnya yang memburu karena menahan amarah.


   Ditanya seperti itu Ghazali bingung harus menjawab apa. Jadinya dia diam saja, akan menerima segala konsekuensi karena perbuatannya itu. Entah kenapa hatinya malah senang. Ghazali juga nggak menyesal melakukan itu dengan Bintang.


    Melihat Ghazali diam saja, tak menjawab. Membuat Khalid marah.


"Baiklah, berarti kamu tahu apa yang kamu lakukan akan ada dampaknya! Mulai besok kemasi barang-barangmu. Papa akan mengirimkanmu ke Italia, tinggallah disana bersama Uncle-mu," kata Khalid dengan tegas dan pergi meninggalkan ruang keluarga itu.


"Kamu itu, apa karena putus dengan Amara. Jadi seperti ini?" Aurora memegang wajah Ghazali yang bengkak karena tamparan yang sangat keras dari Khalid.


"Tidak, justru Ghaza senang bisa putus dengannya," kata Ghazali sambil meringis saat Aurora menekan sudut bibirnya.


"Apa kamu menyukai Bintang?" tanya Aurora dengan menatap Ghazali dengan sangat intens.


"Ghaza tidak-- " belum sempat Ghazali menjawabnya, Aurora sudah memotongnya.


"Ya, kamu sangat menyukainya meski kamu sangkal," bantah Aurora sambil tersenyum.


"Ingat Bintang sudah ada yang punya! Cari yang lain saja," lanjut Aurora.


"Mereka belum terikat status yang halal, Ghaza masih punya hak!" kata Ghazali. 


    Begitu Ghazali selesai bicara, dia baru menyadari apa yang diucapkannya barusan. Mengakui bahwa dirinya sudah menyukai Bintang, dan ada niatan untuk merebut Bintang dari Aria calon tunangannya.


"Kalau kamu merasa dirimu layak. Maka perjuangkan, Mama akan lihat seberapa besar rasa cintamu untuknya. Sampai-sampai tidak malu melakukan dosa di hadapan Mamamu sendiri," tantang Aurora.


    Ghazali diam membisu, apa bisa dia mendapatkan Bintang. Sudah jelas kalau orang yang disukainya itu adalah Aria. Laki-laki yang sudah mencuri hati Bintang disaat masih anak-anak, hingga kini.


    Ghazali menelepon Bintang, tapi tidak diangkat olehnya. Padahal sejak tadi siang dia juga, sudah mengirim chat. Pesan itu hanya di baca dan tidak di balas.


   Ghazali kembali mengirim chat kepada Bintang.


Bintang, ini aku. Angkat dong teleponnya!


Sudah sepuluh menit, chat itu sudah dibaca tapi tidak dibalas oleh Bintang. Ghazali kembali mengirim chat.


Bintang, kamu marah ya?


Chatnya sudah dibaca, tapi dia tidak juga membalasnya.


Bintang, aku ingin bertemu. Sekarang aku menuju kesana?

__ADS_1


Setelah satu jam, akhirnya Ghazali beranikan diri untuk nge-chat. Karena jam masih menunjukan jam setengah sembilan malam. Maka Ghazali memilih menemui langsung Bintang dari pada lewat chat atau telepon.


    Karena jalanan nggak terlalu padat, Ghazali sampai ke rumah Bintang jam sembilan kurang. Begitu masuk kedalam rumah, Ghazali langsung dihadang oleh Didi.


"Maaf, Kak Ghaza tumben kesini malam-malam?" tanya Didi saat Ghazali masuk ke rumah Bintang dan hendak menaiki anak tangga.


"Iya, mau ketemu sama Bintang. Penting!" kata Ghazali dan hendak melangkah kembali menaiki anak tangga. Didi malah menghalangi lagi langkah Ghazali.


"Tunggu, Kak. Bintang sudah tidur sejak tadi. Jadi aku mohon jangan ganggu dia," kata Didi masih berdiri ditengah-tengah anak tangga.


"Minggir, Didi!" Perintah Ghazali sambil mendorong Didi kesamping agar tidak menghalangi jalannya.


   Dengan cepat Ghazali berlari menaiki anak tangga, karena Didi hendak menghentikannya. Begitu sampai di depan pintu kamar, dia langsung mengetuk pintu. Meminta Bintang untuk membukanya.


"Bintang, buka pintunya. Aku tahu kamu belum tidur," kata Ghazali dengan suara yang sangat nyaring, agar dapat didengar oleh Bintang.


    Ghazali kembali mengetuk pintu itu, walau sudah lima belas menit berlalu. Pintu itu belum juga dibuka.


"Ada apa ini!" suara Michael yang tinggi, membuat seolah sedang memarahi Ghazali.


"Hai, Uncle. Aku mau bertemu dengan Bintang," jawab Ghazali sambil tersenyum kikuk.


"Nona Bintang sudah tidur dari tadi. Sebaiknya anda pulang!" titah Michael dengan tatapannya yang sangat tajam. Seolah keberadaan Ghazali disana tidak diinginkan.


   Ghazali memandangi kamar Bintang yang lampunya masih terang. Kemudian dia kembali mengirim pesan untuknya.


Tidak bisakah kita bertemu, walau hanya sebentar saja.


    Lagi-lagi pesannya dibaca, tapi tidak dibalasnya. Ghazali masih memandangi kamar Bintang, sambil bersandar pada mobilnya. Sudah lima belas menit sejak pesan itu dikirim, tapi Bintang tidak juga membalasnya.


   Nggak menyerah, Ghazali kembali mengirim pesannya lagi.


Aku tunggu dibawah. Jika dalam lima belas menit kamu nggak turun juga, aku akan pulang.


   Hampir setengah jam dari pesan terakhirnya, Ghazali berdiri dan kini kulit di tubuhnya sudah terasa sangat dingin.


Segitu marahnya kah? Kamu sama aku. Sampai-sampai tidak mau bertemu denganku.


Tak berapa lama, Ghazali mengirim pesannya kembali.


Baiklah, aku pulang.


     Ghazali mengirimkan pesannya yang terakhir. Dia menyerah, dan tahu diri. Mungkin hanya segini besarnya perasaannya untuk Bintang. Dia pun mengemudikan mobilnya keluar halaman rumah Bintang. 

__ADS_1


    Saat mobil Ghazali keluar gerbang, Bintang yang sejak tadi bersembunyi di balkon kamar sebelah, kamar tidurnya. Akhirnya keluar, sambil menangis tersedu-sedu. Sejak tadi Bintang memperhatikan Ghazali dari balkon, hanya saja Ghazali fokus melihat ke arah kamar Bintang yang menyala. 


    Bintang marah kepada Ghazali, karena merasa sudah mempermainkan perasaannya. Sudah dua kali mereka berciuman, atau lebih tepatnya Ghazali mencium Bintang. Dia merasa, Ghazali hanya menjadikannya sebagai gurauan , dan bodohnya Bintang berharap Ghazali menciumnya dengan segenap perasaan.


*****


    Ghazali langsung membereskan barang yang akan dibawanya, selama tinggal di Italia. Tadinya dia menolak saat dikirim ke Italia oleh Papanya, tapi kini berpikir inilah jalan terbaik untuknya.


   Pagi-pagi sekali Ghazali sudah siap akan berangkat. Sebelum pergi ke bandara, Ghazali mendatangi asistennya, dan meminta memberikan laporannya untuk jajaran direksi. Ghazali pergi ke bandara tanpa ada seorang pun yang mengantarnya. Biasanya saat dirinya mau pergi kemanapun, Aurora dan Khalid selalu mengantar jemputnya.


    Ghazali pun tidak tahu sampai kapan, dia akan tinggal disana. Maka dia memutuskan membereskan semuanya hari ini.


   Diambilnya telepon genggam miliknya, dan untuk terakhir kalinya dia akan mengirim pesan untuk gadis yang sudah memporak-porandakan hati dan pikirannya, beberapa hari ini.


Bintang...


Pesannya yang pertama.


Maafkan aku, yang sudah membuatmu marah.


Pesan kedua yang dikirim.


Semoga kamu selalu bahagia.


Pesan ketiga telah dikirim olehnya.


Selamat tinggal…


Pesannya yang terakhir.


    Ghazali pun membuang kartu SIM-nya ke tempat sampah. Dia akan membuka lembaran baru di negeri orang.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN, VOTE NYA JUGA YA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


KUNJUNGI JUGA KARYA AKU YANG BARU


__ADS_1



__ADS_2