
Langit dan Bintang duduk dibawah pohon, sambil menunggu Angkasa membawa tim penyelamat. Tapi sudah hampir sejam, Angkasa belum terlihat batang hidungnya.
" Kak, Langit rasa Kak Angkasa tersesat deh!" Kata Langit sambil melihat ke atas tebing tempat berdirinya Angkasa tadi.
" Kamu jangan ngomong sembarangan!" Bintang memukul lengan saudaranya itu.
" Habis sudah sangat lama, kita menunggunya. Tapi belum datang juga dari tadi!" Kata Langit sambil mengusap - ngusap tangannya yang tadi dipukul oleh Bintang.
" Ah, bisa gawat kalau sekarang Kak Angkasa benar tersesat." Bintang menghela nafasnya pasrah.
" Ya, mudah - mudahan ketakutan kita itu tidak terjadi." Kata Langit.
" Tapi biasanya akan terjadi deh." Bintang memandang wajah kembarannya itu.
" Aaaaaakh….!" Keduanya berteriak ketakutan.
Akhirnya Langit dan Bintang memutuskan berjalan menaiki tebing yang tinggi itu. Dan baru setengah jalan keduanya menyerah selain medannya yang terlalu terjal, mereka juga kecapean dan kelaparan.
" Bintang menyerah!" Bintang duduk dan bersandar pada sebuah pohon.
" Ya sudah kita tunggu, Kak Angkasa disini saja." Langit juga ikut duduk disamping Bintang.
Selama berjalan tadi Langit berjalan dengan tertatih - tatih menahan sakit di kakinya. Akibat jatuh dari atas tadi, tapi dia menahannya.
*******
Sementara itu Angkasa yang masih berjalan berputar - putar tak tentu arah, merasa capek. Dan dia juga merasa lapar.
" Ya Allah tolong Angkasa," do'anya.
Akhirnya Angkasa memutuskan balik arah lagi, kembali ke tempat Bintang dan Langit tadi. Walau kakinya sudah sakit karena kebanyakan berjalan.
Setelah berjalan kembali ketempat awal lagi, Angkasa sangat senag dapat melihat kembali kedua saudara kembarnya itu.
" Hai, kalian sedang apa?" Teriak Angkasa dari atas.
Angkasa melihat kalau Bintang lagi naik pohon dan memetik buahnya. Sedangkan Langit memunguti buah yang dijatuhkan oleh Bintang.
" Kak Angkasa!" Kedua anak itu berteriak senang saat melihat saudara kembarnya.
" Mana tim penyelamat yang akan menolong kita!" Teriak Bintang yang masih berada di atas dahan pohon.
" Tidak ada, tadi aku tersesat!" Jawabnya lagi.
" Apa, Langit bilang. Kalau Kak Angkasa itu pasti tersesat." Kata Langit pada Bintang yang ada di atasnya.
" Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Bintang lagi, masih dengan suara yang dapat memekakkan telinga itu.
" Aku juga tidak tahu!" Teriak Angkasa lagi.
__ADS_1
" Kalian cepat naik!" Perintahnya kepada kedua adik kembarnya itu.
" Nggak ah, masih capek!" Langit malahan duduk dan makan buah yang dilemparkan oleh Bintang tadi.
" Kalian enak - enakan makan. Kakak disini kelaparan!" Angkasa protes karena melihat dua saudaranya itu makan, sedangkan dirinya kelaparan.
" Kalau kakak mau sini!" Kata Bintang.
Angkasa pun turun menuju tempat kedua kembarannya berada.
" Eh, kalau Kak Angkasa turun kesini siapa yang akan meminta bantuan dan pertolongan buat kita!" Kata Langit.
" Sudahlah kita bersama - sama aja, jadi anak - anak yang hilang. Nanti Papa yang akan mencari kita." Kata Bintang.
" Memangnya Papa bisa menemukan kita di tengah hutan lebat begini!" Langit merasa frustasi.
" Mana buah buat Kakak?" Angkasa mengulurkan tangannya. Dan Bintang memberikan beberapa buah kepadanya.
" Apa kamu lupa kalau jam tangan kita telah diberi alat pelacak." Kata Bintang sambil menunjukan jam tangannya sambil tersenyum.
" Ah, benar juga. Kenapa aku lupa." Kata Langit senang.
Tapi kesenangan dan senyum di bibirnya hilang saat melihat jam tangannya yang rusak.
" Tidak….!!!" Teriak Langit.
" Jam tanganku rusak. Pasti terbentur saat aku jatuh tadi." Kata Langit sambil mengetuk - ngetuk jam tangannya.
" Kayaknya punyaku juga rusak." Jawab Angkasa sambil mengutak - ngatik jam tangannya.
" Apa!!!" Teriak Bintang yang suaranya membuat para hewan yang berada di atas pohon pada terbang semua.
" Jadi sekarang kita beneran tersesat ditengah hutan tanpa ada yang tahu keberadaan kita!!!" Teriak Bintang frustasi sambil memegang kepalanya yang mendadak sakit.
" Terus jam punya kamu mana?" Tanya Angkasa.
" Tadi disimpan di tas ransel saat mencuci tangan sebelum naik bus." Jawab Bintang dengan nada pasrah.
Setelah beberapa saat mereka beristirahat. Akhirnya mereka melanjutkan perjalannya.
" Hei, bukannya tadi saat diatas kita melihat ada laut." Kata Angkasa.
" Iya, benar." Jawab keduanya.
" Ayo kita jalan mencari laut tadi, dan kita bisa berjalan menyusuri bibir pantai. Siapa tahu kita bisa bertemu nelayan." Ajak Angkasa.
" Iya benar juga. Kalau begitu kita harus turun kebawah lagi?" Tanya Bintang dengan memasang wajah lesu.
" Nggak, kita cari jalan yang bisa kita lalui dengan mudah. Karena kita juga akan cepat capek kalau jalannya terlalu terjal." Jawab Angkasa.
__ADS_1
Mereka bertiga pun melanjutkan kembali perjalanannya mencari jalan ke laut.
*******
Alex mendapat panggilan telepon dari guru pendamping anak - anaknya.
" Assalamualaikum."
" Iya, ada apa. Pak," tanya Alex saat mengangkat panggilannya itu.
" Wa'alaikumsalam, mister Alex."
" Ada yang mau saya beritahu pada anda." Kata orang di seberang sana.
" Apa itu, Pak?" Tanya Alex penasaran.
" Begini Mister. Bus wisata kami mengalami kecelakaan…." Belum juga guru itu selesai bicara, Alex sudah memotongnya.
" APA….!!! Bagaimana itu bisa terjadi?!" Teriak Alex karena terkejut.
" Telah terjadi kecelakaan beruntun di puncak, dan bus wisata kami termasuk dari salah satu kendaraan yang ikut terkena di kecelakaan itu."
" Terus sekarang bagaimana keadaan ketiga anak saya?" Tanya Alex dengan jantung yang berdetak dengan sangat cepat takut terjadi sesuatu pada mereka.
" Itu masalahnya. Tadi Langit hilang dan kedua saudaranya pergi untuk mencarinya. Tapi sekarang ketiganya malah hilang semua." Lapor guru pendamping itu.
" A...apa mereka bertiga maksudnya hilang tidak ketemu?" Tanya Alex yang pikirannya sudah berpikir yang tidak - tidak.
" Iya, sepertinya mereka tersesat. Dan untuk Langit saya belum tahu keadaanya. Karena sepertinya Langit terlempar keluar saat bus jatuh ke dalam jurang." Kata guru itu lagi.
" Jadi bus kalian masuk kedalam jurang?!" Teriak Alex tanpa sadar dan itu terdengar oleh Cantika yang baru datang dari dapur dan membawa air teh hangat untuk Alex.
Prang…!!!
Gelas dan poci air teh yang berada di nampan terjatuh dan pecah. Alex yang terkejut dengan suara pecahan itu, membalikan badannya. Dan terlihat Cantika yang berdiri mematung dengan wajah pucat.
" Sayang, apa maksudnya anak - anak telah mengalami kecelakaan?" Tanya Cantika dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya yang mulus.
" Ya…. Gurunya bilang kalau bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan beruntun dan bus mereka masuk ke dalam jurang." Kata Alex sambil berjalan mendekati Cantika yang terlihat pucat. Dan detik berikutnya Cantika pingsan tak sadarkan diri. Untungnya Alex sedang berdiri di depannya. Dan dengan sigap Alex menahan tubuh Cantika, kedalam pelukannya.
" Honey….!" Panggil Alex sambil menepuk pipi Cantika. Akhirnya Alex membawa Cantika ke kamarnya.
*********
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA.
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.