
Langit pun menuruti perintah Bintang, dan dia merasakan jantungnya yang bergemuruh, pikirannya kini hanya ada Almahira. Langit pun berlari menaiki anak tangga dengan sekuat tenaga, menuju ke lantai lima.
Saat sudah sampai di lantai lima. Langit tidak tahu ruangan mana tempat Almahira dan Hikari di sekap. Dia kemudian mengeluarkan laptop mini miliknya. Titik lokasi menunjukan arah kepada ruang yang berada paling pojok. Langit pun kembali berlari. Suara derap kaki yang berlari di lorong gelap dan sepi, memecah kesunyian di sana. Napasnya juga terengah-engah menunjukkan kalau dia sudah mulai kelelahan.
Ditendangnya pintu yang ada di hadapannya, dengan sekuat tenaga. Karena pintu itu dikunci dari dalam. Dilihatnya seorang gadis muslimah bersetelan tunik plus jilbabnya, yang kini sedang berada dalam sandera seorang pria bertubuh tinggi.
"Ayang ...," panggilnya lirih dan air matanya yang berderai membasahi pipinya yang selalu merona.
"Onii-san!" panggil seorang gadis bersurai hitam, panjang, dan lurus. Gadis yang biasanya ceria itu duduk dalam ketakutan.
Dia duduk terikat di sebuah kursi, dengan bom yang terpasang di perutnya. Gadis itu menangis saat melihat Langit datang untuk menolongnya.
"Sayang!"
"Hikari!"
Langit mengalihkan perhatiannya kepada gadis tomboy yang belakangan ini sering mengikutinya. Kini dia terikat di kursi dan ada bom yang terpasang di badannya. Langit berpikir bagaimana caranya agar bom itu lepas dari tubuh Hikari dan melawan Big Bos, di waktu yang secara bersamaan.
"Apa kamu senang menjadikan para gadis yang tidak bersalah itu sebagai mainanmu!" teriak Langit dengan penuh emosi.
Lelaki itu malah tertawa terkekeh saat melihat Langit marah. Kemudian ekspresi wajahnya berubah. Lelaki campuran Jepang-Eropa itu kini menatap Langit dengan tajam.
"Seandainya saudara kembarmu menggantikan mereka berdua. Maka dengan senang hati, aku akan melepaskannya," kata laki-laki itu.
"Mana mau Bintang sama kamu! Om Ghazali jauh lebih tampan, keren, dari dirimu ... Big Bos!" balas Langit kepada laki-laki yang dipanggilnya Big Bos.
Laki-laki itu malah tertawa dengan keras. Kemudian menekan pelatuk pistol yang diarahkan ke kepala Almahira.
"Alma!" Langit panik saat si Big Bos menekan pelatuknya.
"Ayang … maafkan aku," kata gadis berhijab itu.
Boom …
Boom …
Boom …
__ADS_1
Terdengar tiga ledakan besar dari arah kanan bagunan itu. Ledakan yang sangat besar, bahkan menggetarkan seluruh bangunan di dekatnya. Kaca-kaca jendela semuanya pecah.
"Oh, akhirnya semua sudah selesai!" Big Bos merasa sangat bahagia saat pusat laboratorium itu berhasil dihancurkan.
Mata Langit bergerak ke arah Hikari dan Alma secara bergantian. Namun pergerakannya itu, diketahui oleh Big Bos.
Dor …
Satu tembakan dilesatkan ke arah Langit dengan begitu cepat. Pelurunya pun mengenai dada kiri Langit. Langit pun tumbang seketika.
"Ayang!" teriak Alma.
"Onii-san!" teriak Hikari.
*******
Langit tidak bisa menghindari peluru yang ditembakkan oleh Big Bos. Namun, di saat bersamaan dia juga berhasil menembak dada pemimpin kelompok Taiga. Langit yang jatuh terbaring di lantai pun masih bisa melancarkan beberapa kali tembakan ke arah tangan dan kaki Big Bos.
Almahira dapat melepaskan dirinya dari Big Bos. Meski tangannya masih diikat. Dia berlari ke arah Langit, dan melihat kondisi tubuh suaminya itu. Derai air mata Almahira, tidak berhenti. Terus saja keluar membasahi pipinya.
"Ayang ... kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Almahira ketika Langit membuka tali ikatan di tangannya.
"Iya, aku tidak apa-apa!" jawab Langit.
Setelah selesai membuka tali ikatan di tangan Almahira. Langit bergegas berlari ke arah Hikari. Mencoba menjinakkan bom yang dipasang di perutnya. Hikari yang sejak tadi menangis ketakutan, kini meminta Langit dan Almahira pergi dari ruangan itu.
"Onii san. Sudah tidak ada lagi waktu. Bom ini akan meledak sebentar lagi. Katanya bom ini lebih dahsyat dari bom yang meledak di Pulau Hi."
"Sudah kamu diam saja. Aku akan menjinakkannya!" Langit pun mengeluarkan perlengkapan miliknya dari tas ransel.
Saat Langit fokus untuk menjinakkan bom. Dia tidak menyadari kalau Big Bos masih hidup. Sama dengan Langit dia juga menggunakan rompi anti peluru. Jadi, hanya tangan dan kakinya saja yang terkena peluru milik Langit.
Almahira yang menyadari ada pergerakan dari Big Bos. Langsung berdiri menghalangi tubuh Langit yang sedang berjongkok di depan Hikari. Sehingga peluru yang ditembakkan oleh Big Bos, mengenai paga atas Almahira.
Langit yang terkejut saat mendengar bunyi tembakan dan gerakan tiba-tiba dari Almahira. Membuat Langit mengalihkan perhatiannya ke arah Big Bos. Namun, di saat bersamaan ada dua peluru mengarah kepada kepala dan tangan Big Bos.
Shin Kishimoto dan Suzuki Hoshi, berdiri di depan pintu. Langit pun merasa senang, dengan kehadiran mereka. Shin Kishimoto langsung mengambil alih menjinakan bom yang ada di perut putrinya. Sedangkan Suzuki Hoshi, menenangkan kekasihnya dan meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Sementara, Langit meraih tubuh Almahira yang jatuh terduduk di lantai dengan bersimbah darah. Langit mencoba menghentikan aliran darah yang keluar dari luka tembakan di paha kiri kaki Almahira.
"Sayang, tahan ... ya!" Langit mengencangkan ikatannya, agar darah tidak keluar lebih banyak lagi. Almahira hanya bisa meringis menahan sakit.
Shin masih berkutik dengan kabel-kabel kecil yang membelit di perut Hikari. Sementara waktu laju bom, semakin mendekati angka nol. Waktu yang tersisa tinggal 60 detik lagi. Kepanikan terlihat jelas dari wajah orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
Tubuh Hikari dipeluk oleh Suzuki Hoshi, dari belakang. Dia sudah siap sehidup semati dengan calon istrinya. Dia juga menenangkan hati Hikari dengan kata-katanya yang selalu membuat kekasihnya itu melambung perasaannya. Dia melakukan itu agar Hikari tidak memfokuskan dirinya kepada bom, yang sedang dijinakkan oleh ayahnya.
"Langit kun, sebaiknya bawa Alma, menjauh dari sini. Kita harus meminimalisir korban. Jadi, sebaiknya secepat mungkin keluar dari sini!" Shin Kishimoto menyusur Langit agar keluar dari sana.
"Percuma! Tidak ada waktu lagi!" Langit menolak mana mungkin dia dan Almahira akan selamat dari ledakan bom yang tinggal beberapa detik lagi.
"Apa kamu mau mati di sini!" Bentak Shin Kishimoto sambil melihat sekilas ke arah Langit, kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Langit! Loncat ke bawah!" Terdengar suara Angkasa dari luar gedung yang berbicara lewat speaker.
Langit berlari ke arah jendela, dia menengok ke bawah, di sana sudah terpasang dua trampolin yang berukuran besar. Dia pun melihat waktu yang ditunjukan oleh timer bom tinggal 30 detik lagi.
*******
Waktu yang tersisa tinggal sebentar lagi. Apakah Langit dan yang lainnya bisa selamat?
Tunggu di BAB kelanjutannya ya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
Jangan lupa mampir ke karya teman aku Author Morata
__ADS_1