Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 5


__ADS_3

Hari ini telah menjelang sore hari dan ketiga bocah itu masih di dalam hutan dan belum menemukan jalan keluar menuju pantai yang telah menjadi tujuannya. Apalagi mereka harus sesekali istirahat karena luka dan bengkak di kaki Langit makin parah.


" Kita istirahat sebentar," ajak Langit setelah di rasanya sakit di kakinya makin kuat menderanya.


" Apa tidak ada tumbuhan yang bisa dijadikannya obat penghilang rasa sakit." Tanya Bintang sambil mencari tumbuhan yang kiranya dia tahu bisa dijadikan obat.


" Nggak tahu, karena kita belum mempelajari jenis - jenis tumbuhan yang bisa dijadikan obat!" Kata Angkasa sambil menduduki sebuah batu besar.


" Kak Bintang jangan sembarangan dengan tumbuhan di tengah hutan begini!"


" Bisa - bisa nanti malah tumbuhan yang beracun atau tumbuhan yang tidak baik bagi tubuh, yang Kak Bintang petik lagi." Kata Langit sambil memijat kakinya yang sakit.


     Setelah dirasa telah cukup beristirahat, mereka akhirnya melanjutkan lagi perjalanannya. Kini Langit pakai tongkat dari dahan pohon untuk membantu menopang jalannya.


    Setiap mereka melihat adanya buah - buahan yang bisa dimakan mereka akan memetiknya dan memakannya sambil beristirahat. Tidak tahu mereka telah berjalan seberapa jauh sejak tadi. Yang mereka tahu mereka berjalan mulai sekitar jam sembilan pagi dan kini matahari sudah mulai tenggelam.


" Tunggu, apa kalian mendengar suara ombak?" Tanya Langit pada kedua kembarannya.


    Mendengar perkataan Langit itu, Angkasa dan Bintang mencoba menajamkan pendengaran mereka. Tapi sepertinya mereka tidak mendengarnya.


" Tidak! Aku tidak bisa mendengarnya." Jawab Angkasa.


" Iya, aku juga tidak bisa mendengarnya." Bintang pun sama tidak mendengar suara ombak yang dimaksud oleh Langit.


" Aku bisa mendengarnya, walau itu masih samar. Dan aku rasa laut itu sudah tidak jauh lagi dari sini." Kata Langit kukuh dia bisa mendengarnya.


" Kearah mana suara ombak itu terdengar?" Tanya Angkasa mempercayai pendengaran Langit.


" Sepertinya ke arah sana!" Tunjuk Langit.


    Dan akhirnya mereka bertiga melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat yang ditunjuk arahnya oleh Langit. Dan benar setelah beberapa lama mereka berjalan suara deburan ombak dapat terdengar dengan jelas.


" Ah, benar sekarang aku bisa mendengar suara deburan ombak dengan jelas!" Pekik Bintang dengan girangnya.


" Iya, dan aku juga sudah bisa mencium bau laut." Kata Angkasa.


" Ayo cepat karena hari sudah mulai gelap!" Angkasa membantu Langit agar cepat jalannya.


" Iya, terlalu berbahaya berada di dalam hutan kalau malam hari." Lanjut Langit.


     Saat matahari sudah tenggelam, mereka bertiga baru sampai ke pantai. Dan kini ketiganya duduk di dekat batu karang. Mereka berharap ada nelayan yang bisa menolongnya.


" Apa di pantai ini bisa ditemu nelayan?" Tanya Bintang.

__ADS_1


" Kita berdoa saja, semoga Allah mengirimkan pertolongan buat kita." Jawab Angkasa.


" Kita sholat magrib disini saja!" Kata Langit.


    Dan kini mereka bertiga sholat dengan menghadap ke arah kiblat dengan yakin, tidak ragu - ragu lagi. Dan mereka berdoa memohon pertolongan kepada Sang Maha Pemberi Pertolongan.


     Setelah beberapa saat, ternyata ada seorang nelayan yang akan pergi melaut.


" Anak - anak kalian sedang apa disini?" Tanya seorang pria.


    Dan betapa bahagianya Si Trio Kancil begitu mendengar dan melihat ada manusia yang mereka jumpai.


" Alhamdulillah….!!!" Teriak mereka senang.


" Pak, tolong kami!" Kata Bintang sambil memohon.


" Kita bertiga sedang tersesat. Kiranya bapak mau menolong kami?" Angkasa mendekati pria itu.


" Bagaimana kalian bisa tersesat sampai ke sini?!" Tanya pria itu lagi.


" Kita bertiga tadi pagi telah mengalami kecelakaan. Bus yang kami naiki masuk ke jurang. Dan kami bertiga berjalan keluar dari hutan itu." Jelas Angkasa dan di angguki sama kedua saudara kembarnya itu.


" Kalau begitu ikut bapak pulang kerumah bapak dulu." Pria itu mengajak mereka bertiga pulang ke rumahnya.


" Nama bapak Danang. Nama kalian siapa?" Pria itu balik bertanya.


" Perkenalkan nama saya Angkasa, dan ini saudara kembar saya yang bernama Bintang dan Langit." Angkasa mengenalkan dirinya dan saudaranya.


     Danang tersenyum ramah kepada mereka bertiga. Dan saat melihat jalan Langit yang tertatih - tatih, Danang memutuskan untuk menggendong Langit.


" Rumah bapak masih jauh, lebih baik Nak Langit, Bapak gendong." Danang berjongkok didepan Langit.


" Terima kasih, Pak!" Kata Langit dan naik ke punggung Danang.


" Kalian aslinya dari mana?"


" Jakarta, kita sedang liburan sekolah bersama guru dan teman sekolah kami." Kata Bintang dengan antusias. Danang sangat senang saat melihat senyum Bintang. Gadis bule kecil itu sejak awal langsung menarik perhatiannya.


" Kalian sekolahnya kelas berapa?" Tanya Danang lagi.


" Kami naik ke kelas tiga!" Jawab Angkasa.


" Oh, hampir seumuran dengan anak Bapak," 

__ADS_1


" Bapak punya anak berumur berapa tahun?" Tanya Langit yang sedang berada di gendongan Danang.


" Bapak punya dua anak laki - laki. Satu berumur sepuluh tahun, dia kelas empat. Dan adiknya berumur lima tahun." Jawab Danang.


" Kalian bisa menjadi teman nantinya." Lanjutnya lagi.


*******


Alex dan tim penyelamat dadakan bentukan dirinya. Masih menyusuri di dalam hutan. Walau mereka telah lama mencari dan berpencar dalam pencariannya. Alex belum juga menemukan titik terang tentang keberadaan ketiga anaknya itu. Alex berpikir keras kira - kira jalan mana yang akan dilalui oleh anak kecil jika mereka berada di dalam hutan. Dan tanpa sengaja Alex melihat beberapa sisa buah bekas dimakan.


     Alex memungutnya dan memeriksa bekas gigitan pada buah itu. Alex langsung tersenyum bahagia melihat bekas gigi ukuran anak kecil di buah itu.


" Anak - anak tadi sempat disini. Fokuskan pencarian ke wilayah selatan!" Alex menghubungi para tim penyelamat.


" Ya Allah mudah - mudahan mereka bertiga semuanya selamat!" Alex terus berdoa untuk ketiga anaknya itu.


     Walau hari sudah menjelang petang keberadaan Si Kembar Tiga itu belum ditemukan. Alex ingin sekali terus melanjutkan pencarian anak - anaknya itu. Tapi tim penyelamat juga sudah kelihatan lelah mereka butuh istirahat. Dan saat malam sudah menutupi pandangan di dalam hutan mereka semua memutuskan berhenti melakukan pencarian terhadap ketiga anak itu. Dan akan dilanjutkan kembali keesokan harinya lagi.


     Alex juga telah menghubungi Khalid tentang hasil pencarian anak - anaknya. Agar mereka yang sedang berada di rumahnya tidak terlalu cemas. Apalagi Cantika yang masih saja menangisi ketiga anaknya.


" Pa, Alex titip Cantika. Jangan biarkan dia terlalu larut dalam kesedihannya." Pinta Alex saat akan mengakhiri pembicaraannya dengan Khalid.


" Tenang saja. Serahkan itu pada Mama Aurora dan Zahra." Kata Khalid dan mereka mengakhiri pembicaraannya.


Alex duduk termenung di luar tenda yang baru saja mereka dirikan. Dilihatnya langit malam yang banyak bertaburan bintang. Alex tersenyum saat matanya melihat pemandangan itu. Dia teringat saat dia sering menyanyikan lagu anak - anak saat dia masih kecil dulu.


Bintang kecil, di langit yang biru.


Amat banyak menghias angkasa.


Aku ingin terbang dan menari,


Jauh tinggi ke tempat kau berada.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN NIH


KASIH BINTANG LIMA JUGA YA


DUKUNG AKU TERUS YA


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2