
Ada sekitar sepuluh orang yang memasuki rumah sakit secara diam-diam. Mereka menyamar jadi tukang bersih-bersih, perawat dan pasien. Ada juga yang menjadi dokter. Kesepuluh orang itu berkeliaran di daerah dekat ruang rawat bawah tanah yang dijaga ketat oleh beberapa orang.
Agen O memberi tanda kepada Agen T untuk melemparkan gas tidur ke arah para penjaga di depan pintu itu. Lalu Agen O meminta Agen F dan Agen Q, untuk bersiap melakukan penyerbuan ke dalam ruangan itu.
Saat semua sudah siap, maka Agen T menggelindingkan sebuah bom asap yang akan membuat orang yang menghirupnya akan tertidur. Sedangkan para agen itu sudah memakai masker pelindung dari gas itu.
Para penjaga yang baru menyadari ada yang tidak beres. Langsung menekan tanda bahaya. Pintu teralis besi langsung terpasang di pintu masuk utama ke ruangan itu. Juga dengan pintu gerbang yang ada di jalur masuk ke ruang bawah tanah langsung terkunci. Sinyal tanda bahaya juga sudah diterima oleh pusat keamanan keluarga Hakim.
Para agen itu sungguh sangat terkejut. Karena mereka tidak tahu kalau keamanan rumah sakit ini sangat ketat dan kuat. Mereka telah salah perhitungan, dengan adanya kejadian ini. Kini mereka semua terpenjara di ruang bawah tanah.
Hanya tinggal empat orang yang masih di luar gerbang bawah tanah. Yaitu Agen Y, yang akan menginstruksikan jalan kemana saja yang aman untuk di lalui saat kabur. Agen E yang bertugas menjadi sopir. Agen L yang bertugas sebagai sniper, bila ada lawan yang mendekat. Posisi dia berada di gedung tinggi yang ada di samping bangunan rumah sakit. Serta satu orang lagi Agen K yang bertugas sebagai pengalih perhatian orang-orang di sana saat pelarian nanti.
*******
Komunikasi para Agen juga jadi terganggu karena. Alex baru-baru ini memasang alat otomatis pemutus sinyal alat komunikasi, untuk ruang bawah tanah di Rumah Sakit Harapan.
Para Agen dari luar tidak bisa menghubungi temannya yang sudah masuk ke ruang bawah tanah. Begitu juga dengan agen-agen yang masuk ke sana tidak bisa berkomunikasi dengan temannya yang ada di luar.
"Ada apa ini? Kenapa kita tidak bisa menghubungi Agen Y dan Agen K," tanya Agen O kepada Agen F dan Agen Q.
"Iya, punyaku juga tidak bisa menghubungi mereka!" seru Agen T dari kejauhan.
Para agen yang lainnya pun, mencoba alat komunikasi mereka masing-masing. Mereka juga sama, tidak bisa melakukan komunikasi dengan temannya di luar.
Derap langkah kaki beberapa orang memasuki area Rumah Sakit Harapan. Para Agen yang masih di luar langsung menyembunyikan diri mereka. Agar jangan sampai ketemu oleh tim keamanan keluarga Hakim.
__ADS_1
Agen K bersembunyi di dekat ruang VVIP, milik Ghazali. Untungnya Ghazali mengunci pintunya agar tidak ada yang masuk, dan melihat Bintang tanpa hijabnya.
Saat Ghazali membenarkan posisi selimutnya, dia melihat ada pergerakan orang di luar dekat jendela. Bayangan orang itu hilir mudik, muncul kemudian bersembunyi.
Ghazali pun menghubungi tim keamanan rumah sakit, dan memberitahu ada orang yang mencurigakan di depan kamarnya. Mereka akan mengirimkan beberapa orang kesana. Mereka juga memberi tahu Ghazali kalau sekarang sedang ada penyusup masuk ke ruang bawah tanah.
"Baby … bangun," bisik Ghazali di telinga Bintang.
Bintang yang mendapat bisikan mesra dari suaminya, malah memeluknya semakin erat. Ghazali malah menarik napasnya, dan membuangnya secara perlahan.
"Bintang Sayang, ayo bangun! Ada penyusup masuk ke sini!" bisik Ghazali lagi.
Kali ini Bintang membuka matanya, karena terkejut. Sebelum Bintang bertanya, Ghazali menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. Kemudian memberi isyarat ke arah jendela yang ada bayangannya.
Ghazali hanya menggelengkan kepalanya, karena dia juga tidak tahu. Kemudian mereka turun dari brankar secara perlahan-lahan, agar tidak mengundang reaksi dari orang yang sedang bersembunyi di luar.
Ghazali dan Bintang bersiap-siap saat di dengarnya, suara beberapa derap kaki yang semakin mendekat. Ternyata penyusup itu membawa pistol yang sudah memakai peredam suara. Hanya suara pecahan kaca dan benda-benda yang berada di sekitar depan ruang inap kelas VVIP, yang terdengar pecah akibat dari tembakan peluru yang mengenainya.
Bintang dan Ghazali langsung berlindung di balik tembok. Karena ada beberapa peluru nyasar masuk ke dalam kamar inapnya.
Ghazali ingin memarahi semua orang yang ada di depan kamarnya. Kenapa main tembak seenak jidatnya sendiri. Tanpa tahu apa ada pasien atau tidak di dalam ruangannya. Tapi saat ini dia tidak bisa apa-apa, lebih baik diam dan berlindung dulu.
*******
Agen K yang sedang bersembunyi di area VVIP, ruang khusus yang berada di lantai lima. Tidak menyangka akan ditemukan dengan begitu cepat. Dia terkejut saat melihat ada pasukan tim keamanan Hakim datang ke lantai lima.
__ADS_1
Agen K makin terkejut saat tahu, bahwa dirinya yang sedang diincar oleh mereka. Karena dia sudah dikepung, mau tidak mau harus melawannya. Kalau dirinya tidak mau ketangkap.
"Akh! Kemana sich, mereka semua! Nggak ada yang bisa dihubungi satu orang pun!" Agen K marah-marah karena tidak bisa menghubungi satu orang pun dari temannya.
Sambil melawan pasukan keamanan, Agen K terus mengomel, sampai pelurunya habis. Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain mati atau menyerah. Dua pistol dan dua kotak peluru sudah habis dia tembakkan semuanya. Hanya keajaibanlah yang bisa meloloskan dirinya dari sana.
******
Agen K dapat dilumpuhkan oleh tim keamanan. Tangannya diborgol ke belakang tubuhnya. Mereka senang, karena akhirnya bisa menangkap penjahatnya. Tanpa disadari oleh tim keamanan keluarga Hakim, ada seorang sniper. Sedang mengincar mereka, dari gedung sebelah.
Dengan gerakan cepat Agen L menembakan beberapa tembakan ke anggota keamanan. Sehingga banyak yang jatuh terluka meski sudah menggunakan baju dan helm anti peluru. Ada beberapa orang, diantaranya yang wajahnya terluka akibat dari tembakan yang meleset karena mereka membuka penutup wajahnya.
Ghazali yang melihat itu semua lewat jendela kamarnya. Mencari asal tembakan itu. Akhirnya dia bisa menemukannya berkat matanya yang jeli dan bisa melihat jarak yang jauh dengan jelas.
Dengan mengendap-endap, Ghazali keluar kamarnya dan membawa pistol milik tim keamanan. Dia juga memberi kode kepada mereka, ada orang di atas gedung sebelah. Ghazali membidik Agen L, kemudian menembakan beberapa tembakan ke arahnya. Tembakan Ghazali mengenai mata kanan Agen L, dan dada atas kanan.
Ghazali juga menembakan pelurunya ke arah tangan Agen L, sehingga tidak bisa digunakan lagi. Agen L mengerang kesakitan di tiga tempat pada badannya, kini telah bersarang tiga peluru yang dilancarkan oleh Ghazali.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1