Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 4


__ADS_3

Alex langsung menghubungi Akira lewat telepon selulernya.


" Akira, tolong lacak keberadaan anak - anak!" Perintah Alex.


" Baik, Bos!" Jawab Akira diseberang teleponnya.


     Alex kembali mendekati Cantika yang sedang di periksa sama Zahra.


" Bagaimana keadaan Cantika?" Tanya Alex.


" Tenang Kak Al. Kak Cantika hanya terkejut saja. Sebentar lagi dia akan siuman. Dan kondisi kehamilannya juga baik - baik saja." Jawab Zahra.


" Bagaimana, apa anak - anak sudah ada kabarnya?" Tanya Fatih yang baru sampai ke rumah Cantika, karena ditelepon oleh Zahra.


" Belum. Aku minta pada Akira untuk melacak keberadaan mereka lewat alat pelacak yang ada pada jam tangan mereka." Jawab Alex.


" Aku akan mengerahkan anggota Keamanan milik keluarga Hakim, untuk membantu mencari mereka." Kata Fatih.


" Ya, terima kasih." Alex tersenyum kepada saudara sepupunya itu.


     Telepon milik Alex berdering, dan tertera nama Akira disana.


" Bagaimana?" Tanya Alex dengan tidak sabar.


" Hanya pelacak milik Bintang yang memberikan sinyal, dan sinyal itu berada di hutan atau lembah." Akira melaporkan hasil dari pelacakan sinyal alat pelacak lewat jam tangan.


" Apa sinyal itu bergerak?" Tanya Alex lagi.


" Tidak sinyal dari alat pelacak itu diam di satu titik." Jawab Akira.


     Alex menarik nafasnya dalam - dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.


" Itu berarti Bintang tidak memakai jam tangannya." Kata Alex.


" Lalu milik Angkasa dan Langit?"


" Tidak ada respon sinyal dari keduanya." Akira masih sibuk mengecek lewat laptopnya.


" Sial….!" Alex mengumpat.


" Bos sepertinya alat pelacak mereka berdua telah rusak." Akira memberitahu Alex.


" Sudahlah aku akan turun tangan sendiri untuk mencari anak - anak." Alex pun mengakhiri panggilannya.


" Zahra apa kamu akan kembali ke rumah sakit?" Tanya Alex.


" Kenapa Kak Al?" Zahra malah balik bertanya.


" Kakak mau mencari anak - anak. Dan Kakak ingin ada yang menjaga Cantika." Jawab Alex.


" Kalau begitu Zahra akan disini bersama Kak Cantika."

__ADS_1


" Terima kasih." 


     Alex dan Fatih memimpin langsung pencarian ketiga bocah itu. Dengan menurunkan belasan orang ke hutan di bawah jurang itu. Mereka dibagi menjadi lima kelompok dan tiap kelompoknya terdiri dari tiga sampai empat orang.


*******


     Ketiga bocah itu berjalan makin dalam memasuki hutan, untuk mencari jalan ke pantai. Kini hari sudah memasuki tengah hari. Selain lapar mereka juga kehausan.


" Apa ada sungai ya, disekitar sini?" Tanya Langit.


" Iya, Bintang haus banget." Bintang mengibas - ngibaskan tangannya karena kepanasan.


" Kita cari aja mungkin ada sungai atau danau. Biasanya selalu ada sumber mata air di dalam hutan." Jawab Angkasa.


     Setelah agak lama mereka berjalan menyusuri ke dalam hutan itu. Mereka tetap tidak menemukan sumber mata air.


" Kita cari buah - buahan saja. Selain bisa menghilangkan lapar, bisa juga menghilangkan haus. Karena ada kandungan airnya." Kata Langit sambil melihat pohon - pohon disekitarnya mungkin ada pohon yang sedang berbuah.


     Setelah menemukan pohon yang buahnya bisa dimakan. Angkasa dan Bintang menaiki pohon itu. Sedangkan Langit yang kakinya sakit, hanya memungutin buah di bawahnya.


     Setelah dikira perut mereka kenyang, mereka memutuskan beristirahat dulu, sebelum melanjutkan perjalanannya.


" Ini sudah masuk Dzuhur, kita sholat dulu." Kata Angkasa.


" Kak, Bintang nggak bawa mukena. Terus gimana sholatnya." Kata Bintang dengan mata berkaca - kaca.


" Pakai ini saja untuk menutupi rambut kamu." Angkasa menyerahkan baju kemejanya yang tadi dipakai luaran bajunya.


" Kak, arah kiblatnya kemana?" Tanya Langit. Dan mereka bingung ke arah mana mereka harus menghadap.


" Iya kita tidak tahu mana Barat, mana Timur," Bintang sudah siap dengan menutupi rambutnya pakai baju Angkasa.


*******


" Zahra, dimana suamiku?" Tanya Cantika sesaat setelah membuka matanya. Dan dia tidak menemukan sosok Alex berada didekatnya.


" Kak Al, sedang mencari keberadaan anak - anak." Jawab Zahra.


     Cantika yang baru saja siuman, langsung menanyakan keberadaan Alex. Karena dia ingin tahu kejadian yang sebenarnya yang telah menimpa anak - anaknya.


     Cantika bangun dari kasurnya dan berjalan turun ke lantai bawah. Dia mengambil ponselnya yang tadi ditaruh di meja ruang keluarga. Cantika mencoba menghubungi Alex, tapi tidak tersambung.


" Kenapa sich, ini nggak nyambung - nyambung!" Cantika terus berusaha menghubungi Alex.


" Aku akan hubungi Kak Fatih." Zahra pun menghubungi ponsel suaminya. Dan dia juga nggak bisa tersambung hubungan teleponnya.


" Mungkin susah sinyal, Kak." Kata Zahra mencoba menenangkan Cantika yang masih terlihat cemas.


" Kak Cantika, sebaiknya duduk dulu. Tenangkan diri Kakak. Ingat masih ada nyawa yang harus dijaga di dalam perut Kakak." Zahra mendekati Cantika dan menuntunnya supaya duduk di sofa.


" Kita berdoa saja, mudah - mudahan mereka semua bisa secepatnya ketemu?"

__ADS_1


*******


     Si Trio Kancil kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka sesekali duduk beristirahat kalau dirasa sudah capek.


" Ini lautnya mana sich, nggak ketemu - ketemu." Bintang duduk sambil selonjoran dan menggerak - gerakan kakinya.


" Sabar aja, mungkin sebentar lagi ketemu." Angkasa berbicara dengan santai agar adik - adiknya juga merasa rileks.


" Sebaiknya kita lanjutkan kembali perjalanannya. Supaya nggak kemalaman di dalam hutan." Ajak Langit.


" Iya, nanti ada Singa atau Macan yang buas!" Bintang buru - buru berdiri.


" Singa dan Macan buas dari mana?" Tanya Langit.


" Mana ada Singa dan Macan disini!" Kata Angkasa agar mereka tidak ketakutan.


" Paling juga adanya burung - burung dan tupai." Kata Langit lagi.


" Tapi sepertinya ada ular besar juga seperti itu!" Tunjuk Bintang pada ular yang berukuran sangat besar sedang melingkar dekat pohon tempat mereka beristirahat tadi.


     Angkasa dan Langit yang mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Bintang, langsung shock begitu melihat ular hitam yang sangat besar itu.


" Lari….!!!" Teriak keduanya.


    Mereka bertiga lari dengan kecepatan maksimum. Tanpa menoleh ke belakang. Dikira sudah jauh mereka berlari meninggalkan tempat tadi. Ketiganya yang kelelahan langsung duduk, tapi masih dalam keadaan waspada dengan keadaan sekitarnya.


" Aman…. Nggak ada ular disini." Kata Angkasa dengan nafas yang masih hos - hosan.


" Kak Bintang sich, pake lihat ular besar segala. Jadinya takut kan!" Langit bersungut - sungut. Karena dia harus menahan sakit di kakinya, dan memaksanya untuk terus berlari.


" Kenapa nyalahin Bintang. Kenapa juga itu ular malah melingkar disana!" Kata Bintang tidak mau disalahkan sama saudaranya.


" Sudah kalian berdua diamlah. Sebaiknya beristirahat pulihkan tenaga kalian untuk melanjutkan perjalanan nanti." Kata Angkasa menengahi keduanya.


*******


Sementara Alex dan anak buahnya, memulai melakukan pencarian terhadap anak - anaknya. Alex mendatangi bus wisata yang tadi dinaiki anak - anaknya. Dia memeriksa sinyal yang dipancarkan dari alat pelacak milik Bintang. Alex menemukan jam tangan itu di dalam tas ransel milik Bintang yang berada di dalam bus.


" Ah, ternyata Bintang tidak memakai jam tangannya." Gumam Alex sambil memegang jam tangan milik Bintang.


Diperiksa lagi tas - tas milik kedua anak lelakinya yang ada disana. Semuanya masih utuh.


" Ternyata mereka pergi tanpa membawa perbekalan milik mereka." Kata Alex yang memegang dua tas lainnya.


" Anak - anak dimana kalian sekarang....!!!" Teriak Alex.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA.


KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS YA.


TERIMA KASIH.


__ADS_2