Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 41


__ADS_3

    Bintang yang sedang berada di sekoci bersama Agen S. Ikut memprovokasi agar Agen S pikirannya tidak bisa konsentrasi.


"Ayo Paman, jangan sia-siakan kesempatan ini! Papaku nggak pelit kok, orangnya. Mau apapun pasti akan di kasih. Jangan tanggung-tanggung kalau mau minta sama Papa," kata Bintang yang berdiri di dekat Agen S, tapi matanya melihat kesana kemari mencari kedua saudara kembarnya.


     Saat di lihat ada Langit dan Angkasa yang menyembulkan kepalanya dari dalam laut. Bintang langsung tersenyum senang. Apalagi ada Agen S sudah hilang konsentrasinya.


    Dari dalam laut bagian bawah sekoci, Langit dan Angkasa berusaha menggoyangkannya. Agar Agen S bisa di jatuhkan oleh Bintang yang pura-pura jatuh karena oleng oleh goyangan tersebut.


"Adu … duh … ada apa ini? Kok goyang-goyang, ya?!" kata Bintang sambil berpura-pura tubuhnya oleng karena hilang keseimbangannya.


     Namun tubuh Agen S masih duduk di atas sekoci itu. Bintang memutar otaknya agar bisa menjatuhkan Agen S di atas sekoci itu. 


    Keberuntungan belum menjadi milik Bintang. Dia malah ditarik ke dalam pelukan Agen S, dan secara refleks Bintang langsung mendorong Agen S dengan kuat.


"Apa-apaan! Peluk aku seenaknya!" teriak Bintang sambil mendorong Agen S, dan akhirnya dia terjatuh juga ke laut.


    Bintang terkejut, tidak menyangka kalau perbuatannya barusan bisa membuat Agen S terjatuh ke laut. Bintang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melajukan sekocinya, agar menjauh dari Agen S.


     Ternyata sesaat sebelum masuk ke dalam laut, Agen S mengaktifkan bom yang ada di leher Bintang. Walau panik Bintang berusaha tetap tenang karena dia punya saudara yang bisa menjinakkan bom.


    Agen S yang terjatuh ke dalam laut langsung di pegang kedua kakinya oleh Angkasa. Dengan cepat kaki Agen S diikat dengan tali agar tidak leluasa bergerak. Meski begitu, Agen S masih bisa melawan Angkasa. Angkasa yang memakai baju selam komplit dengan tabung udaranya. Bagai dua mata sisi, sisi pertama dia tidak kesulitan bernapas, namun sisi lain, adanya tabung di punggungnya. Membuat gerak dia melambat.


    Angkasa pun melawan sebisa mungkin, bahkan dia akhirnya menembakan pelurunya. Karena dilihatnya Agen S sudah melemah akibat kehabisan oksigen di tubuhnya.


*******


    Bintang yang sudah agak menjauh, menghentikan laju sekocinya. Bertepatan dengan datangnya helikopter milik keluarga Hakim. Ghazali pun turun meluncur dengan cepat ke arah Bintang.


"Om Ghaza," panggil Bintang sambil menangis karena bom di lehernya sudah aktif.


    Ghazali yang begitu turun langsung memeluk Bintang. Berusaha menenangkannya.

__ADS_1


"Sudah jangan pelukan terus! Mau dijinakkan nggak bomnya?!" Langit yang tiba-tiba muncul di belakang mereka berdua, dan membuat Bintang senang.


"Ayo Langit cepat singkirkan bom ini!" kata Bintang begitu melihat saudara kembarnya datang.


    Langit pun mengotak-atik kalung bom yang ada di leher Bintang. Waktu yang tersisa tidak banyak. Kurang dari satu menit lagi. Dengan kemampuan Langit bom di leher itu bisa dijinakkan dan dilepaskan dari leher Bintang. 


    Bintang yang senang karena sudah terbebas dari bom. Langsung memeluk Langit dan mencium semua wajahnya. Ghazali yang melihat itu langsung menarik Bintang dan main sosor di depan adik iparnya itu.


"Dasar pasangan tak tahu malu!" pekik Langit kepada Bintang dan Ghazali.


    Langit yang melihat Angkasa kesusahan membawa Agen S yang sudah tak sadarkan diri. Melambaikan tangannya ke arah Angkasa, agar ikut sekoci Alex. Karena lokasinya lebih dekat dengannya.


    Semua orang kembali dengan naik helikopter, dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Harapan. Bintang yang langsung ditangani oleh Ghazali. Dia memeriksa tubuh istrinya itu. Ghazali merasa meriang-panas-dingin saat melihat tubuh Bintang yang mulus. Dia memeriksa ada banyak luka memar di kaki Bintang. Serta luka-luka ringan di kedua tangan dan lehernya.


    Ghazali memeriksa dengan teliti luka-luka yang ada pada tubuh Bintang. Mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Untungnya tidak ada luka yang serius. Jadi hanya di kasih obat dan salep saja.


"Om Ghaza, apa ada luka di tubuhmu? tadi 'kan ada musuh yang pakai pistol yang pelurunya terus memberondong kita?!" tanya Bintang.


     Bintang yang sejak tadi menahan malu saat diperiksa oleh suaminya. Kini makin merah wajahnya akibat double serangan oleh Ghazali.


     Ternyata Ghazali mendapat dua luka tembak di bahu kirinya dan paha kanannya. Bintang lagi-lagi menangis melihat orang yang disayanginya itu mendapat luka, karena sudah mengorbankan dirinya, saat menolongnya.


"Dengar Baby-ku, Sayang. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Aku akan lebih terluka saat melihatmu menangis seperti ini," kata Ghazali sambil menghapus air matanya.


"Gara-gara aku, Om Ghaza jadi terluka begini," Bintang menyentuh luka Ghaza yang sudah di perban dengan rapi.


    Ghazali memegang tangan Bintang dan menciumnya satu-satu jarinya. Bintang yang diperlakukan seperti ini, menjadi semakin deg-degan di buatnya.


"Apapun akan aku lakukan, demi dirimu, istriku."


     Mendengar perkataan suaminya barusan, membuat Bintang terasa ke awang-awang. Senyum bahagia terus mengembang di bibirnya.

__ADS_1


   Ghazali kemudian membantu Bintang memakai gamis barunya. Karena luka-luka ringan di leher dan kedua tangannya membuat Bintang meringis menahan perih.


"Om Ghaza, malam ini kita akan tidur di hotel saja, yuk!" ajak Bintang sambil tersenyum manis.


    Ghazali terbuai dengan senyuman manisnya Bintang, dan hampir saja mengiyakan ajakannya. Untungnya dia keburu sadar.


"Tidak! Kita menginap dulu di sini!" jawab Ghazali sambil memencet hidung mancung milik Bintang.


"Padahal Bintang ingin tidur bersama dengan Om Ghaza," suara Bintang pelan, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Ghazali.


    Ghazali hanya menahan tawanya saja. Sebenarnya dia tahu apa yang ada di otak istrinya itu. Bersama Bintang semenjak dia masih bayi, membuat Ghazali hafal semua tentang Bintang. Kebiasaannya, apa yang disukai atau tidak olehnya. Warna, makanan, minuman, favorit Bintang, semua Ghazali tahu. Juga apa yang sedang diinginkan olehnya, hanya melalui sorot matanya saja.


     Malam itu, Ghazali tidur di kamar inap yang sama dengan Bintang. Mereka berdua tidur di kasur yang sama, sambil berpelukan.


*******


      Di sebuah bangunan tua, yang jauh dari ibu kota. Ada beberapa Agen yang masih tersisa. Karena mereka tidak ikut melakukan penculikan pagi tadi.


"Jadi apa kamu tahu dimana, teman-teman kita disekap?" tanya Agen O kepada Agen Y yang sedang memainkan laptopnya.


"Ya, mereka semua ada di tempat yang sama. Yaitu Rumah Sakit Harapan, milik keluarga Hakim," jawab Agen Y sambil mengulum permen loli kesukaannya.


"Kalau begitu kita serbu rumah sakit itu!"


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2