Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 16


__ADS_3

     Angkasa melajukan mobilnya mengikuti Paris, yang entah akan pergi kemana. Sungguh dia sangat khawatir, bila sampai terjadi sesuatu kepada Paris. Paris, ternyata mendatangi sebuah klub malam yang merangkap dengan kasino. Para pengunjung begitu masuk bisa memilih memasuki lantai yang mereka inginkan. Paris memasuki lift dan menuju lantai dua. Lantai itu pengunjung bisa menikmati berbagai hiburan mau itu menari atau bernyanyi.


     Angkasa pun menyusul ke lantai dua. Begitu masuk ke sana, ternyata banyak orang yang dia kenali. Tentu saja mereka pada kaget saat melihat Angkasa datang ke tempat seperti itu. Orang yang selalu menghindari keramaian dan alkohol, kini sedang berkeliling di sana.


"Angkasa apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya salah satu kenalannya.


"Aku sedang mencari Paris. Tadi dia masuk ke sini," jawab Angkasa.


"Paris? Dia juga datang kesini? Ada apa dengan kalian? Tidak biasanya kalian datang ketempat seperti ini!" tanyanya lagi dengan penuh keheranan.


"Kebetulan saja. Apa kalian melihat Paris?" tanya Angkasa kepada yang lainnya.


"Ya. Aku melihatnya, dia masuk ke dalam room private di paling pojok," jawab salah seorang wanita teman mereka sesama pengusaha muda.


"Hei, bukannya ruangan paling pojok itu milik Mister X!"


"Iya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan itu." Para wanita penghibur saling bersahutan.


     Tanpa perlu lama-lama, Angkasa langsung berlari ke arah ruang yang berada di sebelah pojok. Dia bingung ruang pojok itu yang mana, kiri atau kanan. Maka Angkasa memilih yang kiri terlebih dahulu. Dia menekan bel berkali-kali, dia merasa kesal karena tidak dibuka juga maka ditendangnya pintu itu sekuat tenaga agar bisa terbuka.


      Angkasa langsung berlari masuk ke dalam dan melihat hal yang tidak boleh dia lihat. Beberapa orang sedang berbuat hal terlarang di dalam satu ruangan.


"Paris, tidak akan mendatangi tempat seperti ini!" Angkasa pun dengan cepatan  keluar dari sana.


     Maka tinggal satu kemungkinan tempat yang didatangi oleh Paris. Yaitu, ruangan yang di sebelah kanan. Angkasa pun melakukan hal yang sama seperti tadi. Dengan penuh amarah, pintu itu dia tendang sekuat tenaga. Angkasa pun langsung masuk dan melihat Paris berada dalam pelukan seorang laki-laki.


"Paris!" Teriak Angkasa, kemudian menarik tubuh Paris kedalam dekapannya.


"Angkasa," gumam Paris yang berada dalam dekapan laki-laki yang dipanggil namanya, yang kini sedang memeluknya erat. 


"Hei! Apa yang kamu lakukan?" hardik laki-laki tadi yang memeluk Paris.

__ADS_1


"Milan?" tanya Angkasa menatap laki-laki itu tak percaya.


"Apa maksudnya ini Paris?" tanya Angkasa sambil menguraikan pelukannya.


"Kamu ... kalian menjalin hubungan?" tanya Angkasa penasaran.


     Paris diam dan hanya menatap Angkasa. Tidak menjawab satupun pertanyaan yang dilontarkan oleh Angkasa.


"Atau kau saja yang menjelaskan ada hubungan apa diantara kalian?" tanya Angkasa melihat ke arah Milan.


"Kita berdua dijodohkan dan pertunangan kami tinggal menghitung hari," jawab Milan.


     Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Milan. Angkasa terasa dihantam batu besar. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Milan, barusan.


"Benarkah? Paris, apa benar apa yang dikatakan oleh dia itu?" Angkasa meminta penjelasan dari Paris.


     Paris menundukkan kepalanya dan hanya menangis. Dia tidak sanggup untuk bercerita.


"Baiklah, biar aku saja yang bicara. Helsinki melakukan taruhan dengan aku? Yah, hasilnya kalah dan hal berharga yang aku inginkan dari dia adalah putrinya, Paris. Karena sejak pertama kali melihatnya, sudah membuatku jatuh cinta. Tapi ternyata Paris, sudah punya laki-laki yang sangat dia cintai. Dia pun menolak dengan keras permintaanku. Maka aku pun mengajukan taruhan. Bila dia berhasil membuat laki-laki yang dicintai mau menikah dengannya, maka aku pun akan melepaskannya. Nah, seperti yang kamu lihat, dia gagal dalam pertaruhan itu. Maka, mau tak mau dia harus menjadi milikku." Milan tersenyum kemudian tertawa senang.


"Paris itu main kabur saja. Makanya aku menyusul kemari. Bukannya kalau kita mau menikah harus menyiapkan semua dokumen dengan lengkap. Paris malah salah paham dan pergi seenaknya," kata Angkasa dengan tenang dan meyakinkan, seolah memang begitulah kejadian yang sebenarnya.


     Paris hanya terdiam tidak tahu dan belum memahami maksud dari perkataan Angkasa. Namun, Paris memilih diam. Dia percaya kepada Angkasa. Bahkan, dia tidak tahu kapan cincin itu disematkan di jari manisnya. Dia benar-benar terkejut melihat cincin yang sangat cantik kini menghiasi jarinya. Seandainya saja Angkasa melakukan ini tadi, pasti dia akan sangat senang.


"Benarkah begitu? Bukannya tadi kamu jelas-jelas menolaknya tidak mau menikah dengannya." Milan menatap tajam ke arah Angkasa.


"Kamu salah, tanya saja sama saudara kembarku. Mereka sedang mempersiapkan pernikahanku dengan Paris." Angkasa balik menatap tajam Milan.


"Aku tidak percaya kalau tidak melihatnya secara langsung!" pekik Milan menantang Angkasa.


"Oke, kalau itu mau kamu! Kita datangi tempat yang akan menjadi pesta pernikahan aku dan Paris nanti!" Angkasa menerima tantangan Milan.

__ADS_1


*******


     Bintang dan yang lainnya sedang mendengarkan pembicaraan antara Angkasa dan Milan. Mereka terhubung dengan microphone yang dibawa oleh Angkasa. Sehingga, mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.


"Gila! Kak Angkasa meminta kita membuat dekorasi untuk pesta pernikahan dalam waktu setengah jam! Mana mungkin, yang benar saja!" Bintang meradang akan permintaan mustahil kakak kembarnya.


"Bisa, kok. Ayo semuanya bersiap setengah jam harus selesai!" Ghazali memberi perintah kepada para pelayan cafe miliknya dan beberapa orang kepercayaannya untuk mendekorasi cafe mereka untuk acara pesta pernikahan dadakan untuk Angkasa.


"Kak Bintang, aku akan buat ukiran huruf nama Angkasa dan Paris. Bagusnya nanti dipasang di mana?" tanya Almahira sambil memegang huruf-huruf yang berukuran besar.


"Ayo, aku bantu pasangkan!" ajak Bintang menuju dinding yang agak luas.


     Angkasa setelah mendapatkan telepon dari papanya. Langsung menelpon Bintang dan menceritakan semua yang dia dikatakan oleh papa mereka. Maka Bintang pun mendukung saat bilang ingin menikahi Paris, jika itu bisa melindunginya dari orang-orang dari dunia bawah.


     Bintang pun menghubungi Langit dan memintanya untuk datang ke Jerman secepatnya. Kedua kembarannya itu pergi ke Jerman, tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Bahkan, Ghazali pun memutar otak agar para pasukan bayangan tidak menemukan jejak mereka. Maka, dipilihlah tempat yang berada di pinggir kota. Sedangkan, tugas Langit adalah mengurus surat-surat untuk dokumen pernikahan Angkasa dengan Paris, dibantu oleh pengacara dan pegawai KEDUBES Amerika, di Jerman.


******


Apakah Angkasa dan Paris akan bisa melangsungkan pernikahannya?


Bagaimanakah reaksi Alex, saat anak-anak membangkang perintahnya?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


Dukung juga ya, karya Author Trias Wardani



__ADS_2