
Aria duduk di meja kerja, kantornya. Hari ini dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, agar bisa makan siang dengan Bintang. Badannya dan pikirannya yang lelah selalu cepat pulih kembali bila dia, sudah bertemu dengan Bintang. Gadis kecil manja dan cerdas yang selalu membuatnya tersenyum bahagia. Sudah satu Minggu dia tidak bisa bertemu dengan Bintang karena harus mengunjungi cabang perusahaan yang ada di luar pulau.
Hanya telepon dan video call, yang menjadi obat rindu kepadanya. Di meja kerjanya juga banyak foto Bintang, baik yang sedang sendiri atau berdua dengannya.
Aria selalu tersenyum geli bila ingat masa lalunya. Dulu dia mengejar-ngejar Cantika, ibu kandungnya Bintang, yang disangka seorang mahasiswi. Saat bertemu dengan Bintang, dia sendiri yang menawarkan dirinya yang akan menjadi kekasihku. Bahkan dia meminta untuk menunggunya sampai besar, dan akan menikah denganku. Bodohnya aku, menuruti aja kemauan Bintang, anak yang berumur lima tahun. Dua belas tahun sudah aku menantinya, dan sebentar lagi saat usia dia delapan belas tahun, aku akan melamarnya secara resmi.
Bintang, dia satu-satunya gadis yang bisa membuat Aria bertahan sampai sekarang, saat kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu. Bintang lah yang selalu ada dan menguatkan dirinya. Dia sengaja datang dari Amerika dan tinggal bersama Aria beberapa bulan, hanya agar bisa membuatnya bangkit kembali.
Tingkah lucunya yang sering membuat Aria gemas dan tertawa, sehingga membuatnya benar-benar jatuh cinta kepada Bintang. Dulu Aria sempat konsultasi kepada temannya yang seorang psikiater, dia takut menjadi seorang fedopil, karena jatuh cinta pada gadis berumur sepuluh tahun. Tapi kedua orang tuanya mendukung dirinya saat dia bilang mencintai Bintang.
Bintang, gadis kecilnya yang punya sejuta pesona bagi siapa saja yang melihatnya dan mengenalnya. Banyak orang-orang yang langsung jatuh hati ketika melihat Bintang. Makanya Aria sering mengingatkan Bintang kalau tidak semua manusia itu baik.
Tidak sekali dua kali, pada lelaki di luar sana menargetkan Bintang sebagai teman kencannya atau hanya untuk melampiaskan hasratnya. Untung saja Bintang bisa bela diri, dan selalu ada Michael yang setia menjaganya.
Satu-satunya orang yang tidak bisa diusir jauh oleh siapa saja, adalah Ghazali. Aku selalu cemburu saat melihat Bintang dan Ghazali berinteraksi. Mereka sudah selayaknya pasangan suami istri di mata Aria. Sebab Bintang tidak pernah makan satu sendok dengannya, minum satu gelas dengannya, tidur di kasur yang sama, atau memeluknya, apalagi menciumnya. Walau mereka sudah terbiasa melakukan itu sejak kecil, tapi kini Bintang telah menjadi seorang gadis yang siap untuk menikah.
Aria mengambil telepon genggamnya, dan menghubungi Bintang untuk mengajaknya makan siang bersama. Saat dihubungi terdengar suaranya yang serak. Tentu saja itu membuat khawatir Aria, dan langsung mendatangi ke rumahnya.
Aria melihat Bintang yang sedang menangis duduk di lantai, merasa teriris hatinya melihat pemandangan itu. Aria pun menghampiri Bintang dan menanyakan apa yang terjadi. Bintang bercerita kalau Ghazali tidak bisa dihubungi. Katanya mereka sedang marahan. Bukan hal aneh bila Bintang bilang lagi marah sama Ghazali, lalu nantinya Ghazali akan merayu Bintang dengan modal coklat sama eskrim.
"Bintang kamu, makan dulu, ya?!" ajak Aria sambil menghapus air mata Bintang yang sejak tadi tidak berhenti, padahal matanya sudah sulit untuk dibuka, karena terlalu bengkak.
Bintang hanya menggelengkan kepalanya. Aria rela meninggalkan pekerjaannya di perusahaan, demi menemani Bintang yang sedang menangisi Ghazali yang tidak bisa dihubungi. Aria juga sudah mencoba menghubungi nomor lamanya, siapa tahu Ghazali kembali memakai nomor itu, tetapi sama saja nomornya tidak aktif. Menelepon ke Fatih, dia juga tidak tahu. Saat menelepon ke Khalid dan Aurora mereka tidak mengangkatnya.
__ADS_1
"Bintang kamu harus makan," kata Aria sambil membawa satu piring nasi goreng, karena Bintang paling suka makan nasi goreng buatan dirinya. Lagi-lagi Bintang menggelengkan kepalanya.
Bintang tidak akan beranjak dari tempatnya, kecuali saat dia sholat saja. Bahkan minum pun harus dipaksa dulu oleh Aria. Bintang sudah seperti kehilangan semangat hidupnya. Itu membuat Aria sangat cemas. Karena takut terjadi apa-apa kepada Bintang, Aria memanggil Erlangga.
"Er, apa kamu tahu kondisi Bintang saat ini?" tanya Aria kepada Erlangga lewat panggilan teleponnya.
" Aku dengar dia marah kepada Ghaza, semalam juga dia berteriak sambil menangis. Memangnya kenapa?" Erlangga balik bertanya.
"Aku takut banget melihat kondisi Bintang saat ini. Dia seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya," kata Aria.
"Biasanya mereka berdua tidak lama marahannya?!" balas Erlangga yang mulai kepikiran tentang Bintang.
"Iya, tapi kini sudah sore, Ghaza belum juga ada kabarnya," kata Aria yang merasa kesal karena dirinya seolah-olah tidak ada artinya buat Bintang.
"Dia tidak bisa dihubungi sejak tadi. Apalagi katanya kemarin dia ganti nomor, dan sekarang nomor itu tidak dapat dihubungi," balas Aria.
"Memangnya kali ini mereka marahan karena apa sich?" tanya Aria penasaran.
"Kita juga tidak tahu, yang jelas Bintang kemarin sempat bercerita. Dia marah sama Ghazali, karena dia telah memanfaatkan ya, dan tidak punya perasaan kepadanya. Begitu katanya?!" jawab Erlangga yang sedang duduk sambil melihat ke arah langit-langit ruang kerjanya.
"Aku dengar kalau Ghaza dan Amara sudah putus. Apa ada hubungannya dengan kejadian Bintang sekarang?" tanya Aria menduganya.
"Aku tidak tahu?" balas Erlangga lagi.
__ADS_1
Aria melihat Bintang yang sudah tertidur sambil duduk bersandar. Maka dibenarkan posisi tidurnya olehnya. Saat Aria membopong tubuh Bintang untuk dibenarkan posisi tidurnya Bintang menggumamkan sesuatu yang membuat Aria sangat terkejut.
Aria menunggui Bintang yang sedang tertidur di kamarnya. Kadang ada Didi, atau Dodo yang bergantian berjaga disana. Sedang Michael entah kemana, karena semenjak Aria datang, sosok itu tidak kelihatan.
"Bintang, ayo bangun. Jangan terlalu bersedih begini," kata Aria dengan suaranya yang lirih, di genggam tangan Bintang, dan dihapusnya lelehan air matanya yang masih saja keluar dari mata ya indah itu, menggunakan sebelah tangannya.
"Aku akan selalu ada disampingmu selamanya seumur hidupku," bisik Aria dengan mesra di samping telinga Bintang.
"Karena aku sangat mencintaimu," lanjut Aria lagi.
"Ayo, kita hidup bahagia berdua," Aria mencium tangan Bintang. Dia belum berani mencium bibir Bintang, karena dulu Bintang tidak mengijinkannya. Katanya nanti saja bila sudah menikah. Maka Aria pun memegang kata-katanya yang akan selalu mengikuti keinginan Bintang.
Sebenarnya Aria sangat cemburu saat Erlangga bercerita kalau ciuman pertama Ghazali itu dengan Bintang. Saat itu Aria sangat terkejut mendengarnya. Apalagi bukan hanya sekali dua kali Bintang mencium bibirnya Ghazali.
"Bintang ayo buka matamu," kata Aria lagi dengan suaranya lirih, karena Bintang tak bangun-bangun juga padahal waktu magrib hampir habis.
Aria jadinya memanggil dokter kerumah untuk memastikan keadaan Bintang baik-baik saja. Dokter bilang, kalau Bintang sedang mengalami stres. Aria pun berpikir bagaimana caranya agar Bintang bisa kembali ceria seperti biasanya.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.