Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 4


__ADS_3

     Seperti yang telah dijanjikan Ghazali kepada Bintang. Akhirnya malam ini mereka berdua akan pergi ke mall untuk jalan-jalan dan menonton bioskop.


     Bintang kini telah bersiap-siap, akan pergi jalan-jalan ke mall bersama dengan Ghazali. Bintang yang menggunakan gamis berwarna merah marun sehingga penampilannya begitu elegan dan anggun. Saat Ghazali melihat Bintang menuruni tangga dia diam terpana. Jantungnya kembali berdetak begitu sangat kencang.


    Setelah kejadian di dapur itu, Bintang dan Ghazali menjadi canggung. Tapi kini mereka pergi hanya berdua saja seperti sedang berkencan.


"Om Ghaza, hari ini kita akan pergi kemana?" tanya Bintang sambil tersenyum ke arah Ghazali.


    Bukannya menjawab Ghazali malah terpana melihat senyuman di wajah Bintang yang begitu sangat cantik malam ini.


"Om … Om Ghaza!" Bintang melambaikan tangannya di hadapan wajah Ghazali.


    Karena Ghazali diam saja, Bintang pun akhirnya memegang wajah Ghazali dengan lembut. Dan sentuhan dari Bintang itu baru menyadarkan Ghazali.


"Apa Om Ghaza sedang sakit?" tanya Bintang dengan memasang wajah cemas.


    Ghazali pun memegang tangan Bintang, yang berada di wajahnya dan digenggamnya dengan lembut.


"Ada apa?" tanya Ghazali kepada bintang dengan suaranya yang pelan.


"Kenapa Om diam saja? Apa Om sedang sakit?" tanya Bintang kepada Ghazali.


"Ya, aku rasa sedikit tidak enak badan," jawab Ghazali sambil menatap wajah bintang yang sedikit merona.


"Kalau begitu kita tidak jadi berangkat main ke mall malam ini?!" kata Bintang dengan memasang wajahnya yang sedih.


" Tidak. Kita akan pergi, tetapi bukan ke mall. Kita akan makan malam bersama!" ujar Ghazali sambil menggandeng tangan Bintang, dan mengajak ke dalam mobil.


    Di dalam mobil pun mereka hanya diam saja, dan sesekali keduanya tanpa sadar saling melirik. Bintang bingung harus memulai dengan bicara apa? agar suasana di dalam mobil tidak terasa canggung.


"Kita akan pergi makan malam di mana?" tanya Bintang yang akhirnya bisa memecahkan kesunyian di antara mereka.


"Kita akan makan malam bersama di Hotel Luna!" jawab Ghazali sambil melirik ke arah Bintang.


    Akhirnya mereka berdua telah sampai di parkiran Hotel Luna, dan mereka masuk ke area restoran di dalam hotel. Para pegawai hotel yang telah mengenal Ghazali menyediakan tempat duduk spesial untuknya.


"Bintang sedang apa kamu di sini?" tanya seseorang yang suaranya tidak asing lagi bagi mereka.


" Mau makan malam," jawab Bintang sambil melihat kearah orang yang bertanya.

__ADS_1


Bintang sangat terkejut dengan pertemuan mereka disini.


"Om Aria! Mau makan malam di sini juga?" tanya Bintang kepada laki-laki yang baru saja menyapanya.


"Iya aku akan makan malam, tetapi bersama rekan kerjaku," tunjuk Aria kepada sekelompok orang yang ada di jajaran paling depan.


"Mending ikut makan malam bersama kami, Om!" ajak bintang kepada Aria dan tentu saja Ghazali membelalakan matanya saat mendengar ajakan Bintang itu kepada Aria.


    Aria pun menerima ajakan Bintang untuk ikut bergabung makan malam bersama. Saat mereka makan malam bersama Bintang malah asyik berbicara dengan Aria sehingga Ghazali merasa tersisihkan.


Ghazali makan malam dengan wajahnya ditekuk seolah tidak mau melihat bintang dan Aria yang sedang berada di depannya. Rasa makan yang sedang dimakannya pun terasa hambar.


"Om, jangan makan yang mengandung udang ataupun lobster. Ingat dengan alergi yang Om punya!" kata Bintang mengingatkan Aria.


"Ya tentu saja, terima kasih sudah diingatkan Sayang ... Aku makin mencintaimu." balas Aria dan itu dapat di dengar oleh Ghazali.


"Lebay … " gumam Ghazali sambil memandang malas ke arah pasangan yang ada di depannya.


"Aku mau ambil telepon genggam ku. Sepertinya tertinggal di mobil." Ghazali berdiri dan meninggalkan Bintang dan Aria yang masih asik menyantap menu makan mereka masing-masing.


"Om … hati-hati, nanti ada yang menculik!" gurau Bintang agar Ghazali mau tersenyum, karena sejak tadi Bintang memperhatikannya, Ghazali hanya diam saja tak banyak bicara.


    Ghazali sebenarnya hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya. Agar terlepas dari bayang-bayang Bintang yang selalu mengganggunya belakangan ini. Ghazali malah jalan-jalan, setelah mengambil telepon genggamnya. Dia hanya ingin menikmati pemandangan langit malam ini yang penuh dengan Bintang.


    Ghazali langsung saja berdiri dan berjalan ke arah kedua sejoli itu. Tanpa diduga sebelumnya, mereka berdua berciuman dengan sangat mesra di depan Ghazali. Ghazali pun mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?!" tanya Ghazali saat memergoki kekasih dan sahabat baiknya berselingkuh.


"Tidak, kamu salah paham!" kata keduanya bersamaan. Mereka berdua sangat panik saat mengetahui ada Ghazali depan mereka.


"Sudah, kalian tidak perlu berbohong! hubungan kita sudah sampai disini. Kita akhiri saja semuanya!" kata Ghazali dengan sangat marah. Dia pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Tunggu Ghaza! Kita bicarakan ini dulu," kata Amara yang sambil menangis saat meminta Ghazali untuk berhenti.


    Amara mengajar Ghazali dan menarik tangannya. Tetapi Ghazali menepis tangan kekasihnya itu.


"Sekarang hubungan kita putus! Aku nggak akan peduli lagi sama kamu," bentak Ghazali.


"Ghaza! kamu jangan salah paham, dengarkan kita dulu?!" bantah Andre.

__ADS_1


"Lakukan saja sesuai dengan keinginan kalian! Aku tidak akan melarangnya bahkan menghalanginya," kata Ghazali sambil berlalu meninggalkan Amara yang masih menangis dan berdiri di tempatnya.


"Ghaza! aku masih mencintaimu!" teriak Amara sambil berlari mengejar Ghazali.


"Lepaskan tangan aku! Kita putus!" bentak Ghazali sambil menarik tangannya dari Amara.


Dengan langkahnya yang lebar, Ghazli meninggalkan Amara yang menangis sedang dan duduk di tanah.


*****


    Ghazali kini telah kembali ke restoran yang ada di hotel Luna. Dia mengajak Bintang pulang.


"Bintang ayo kita pulang!" ajak Ghazali pada Bintang yang sedang asyik berbicara dengan Aria.


"Tunggu dulu Om, kita lagi asik bicara nih!" kata Bintang kepada Ghazali sambil memasang wajah memelasnya.


"Tapi aku ingin pulang saat ini juga," kata Ghazali sambil menatap Bintang.


"Kamu pulang saja duluan, biar Bintang Aku yang antar pulang nanti," ucap Aria sambil memandang Ghazali.


"Iya Om, Bintang pulangnya nanti diantar sama Om Aria saja," kata Bintang dengan pandangannya yang memohon.


"Kalau begitu lakukan saja sesukamu," Ghazali pun pergi meninggalkan mereka berdua dengan menahan marah.


*******


Semenjak malam itu Bintang tidak pernah bertemu lagi dengan Ghazali. Bintang jadinya sangat khawatir, karena Ghazali tidak bisa dihubungi. Nomor teleponnya pun sudah tidak aktif lagi.


"Apa Om Ghaza sedang marah padaku ya?" tanya Bintang kepada dirinya sendiri.


"Nggak ketemu sama Om, baru tiga hari saja sudah rindu," gumam bintang sambil melihat foto Ghazali yang ada di layar teleponnya.


"Nggak Bintang, orang yang kamu sukai adalah Om Aria!" Bintang menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikirannya barusan.


Bintang mondar-mandir di dalam kamarnya, pikirannya kalut karena Om kesayangannya itu tidak bisa dihubungi.


******


MAMPIR KE KARYA BARU AKU.....

__ADS_1




__ADS_2