
Langit dan Suzuki keluar dari mobil dan menjadikan pintu sebagai perisai dari serangan tembakan lawan.
Suara tembakan langsung terdengar begitu Langit dan Suzuki keluar dari mobil. Mereka berdua dihujani oleh peluru, dari pihak lawan. Langit dan Suzuki sesekali membalas mereka dengan tembakan yang akurat dan mengenai sasaran. Mereka berdua harus benar-benar memanfaatkan sebaik-baiknya peluru mereka. Baik Langit ataupun Suzuki tidak mau menyia-nyiakan peluru mereka.
Pistol Langit, ke akuratan mengenai sasaran hampir 100 %. Pistolnya dirancang mengunci target. Bila target sudah dikunci maka pelurunya akan mengikuti kemanapun si target pergi.
"Oh, tidak! Si al! Kenapa disaat-saat genting begini, harus habis pelurunya?" Suzuki mengumpat karena sudah kehabisan peluru.
"Suzuki san, ini! Masih ada dua peluru lagi," kata Langit sambil melemparkan pistolnya ke arah Suzuki.
Almahira juga ikut menembakan pelurunya ke arah lawan yang mendekat kepadanya. Dia menjadi backing-an Langit. Hanya pistol yang dia pegang masih punya banyak peluru bius.
Hikari juga sudah menjatuhkan lawan-lawannya sampai pelurunya habis. Jumlah musuh yang sangat banyak, tapi senjata tidak ada. Membuat mereka mau tidak mau dikepung oleh pihak musuh.
Saat akan melawan dengan tangan kosong musuh langsung menembakan pelurunya ke arah mereka. Sehingga membuat mereka menuruti perintah musuhnya.
"Menyerahlah! Jangan lakukan perlawanan! Atau kalian akan ditembak mati di tempat," teriak salah seorang dari mereka.
Akhirnya Langit dan yang lainnya mengangkat tangan mereka, tanda menyerah. Musuh pun meringkus Langit dan Suzuki terlebih dahulu, disusul Almahira dan Hikari. Kedua tangan mereka di ikat dengan posisi berada di depan.
Bagi Langit, Suzuki, dan Hikari, ikatan seperti ini akan menguntungkan. Dibandingkan dengan tangan di ikat ke belakang. Keempat orang itu berjalan mendekati pemimpin kelompok Taiga.
"Wah ternyata ada tuan Putri Hikari dan tunangannya! Suatu kehormatan bagi saya, bisa bertemu dengan Anda." Laki-laki berwajah oriental dan memiliki postur tubuh yang tinggi kini berdiri di depan Hikari.
"Siapa ini? Apakah kamu saudara kembarnya Bintang?" tanyanya kepada Langit.
Langit sungguh terkejut mendengar laki-laki yang disebut sebagai ketua kelompok Taiga. Namun, Langit pilih diam saja. Seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dia katakan.
__ADS_1
Laki-laki itu memandang Langit dengan tajam. Sebab, tidak ada respon darinya sama sekali. Akhirnya dia kembali bertanya kepada Langit, apa dia saudara kembarnya Bintang.
"Aku punya saudara kembar perempuan bernama Bintang. Tapi, dia tidak tinggal di Jepang. Apa Bintang saudaraku ini sama dengan Bintang yang kamu maksud?!"
"Iya, gadis cantik yang sudah membuat aku berfantasi liar. Kecantikan yang sempurna. Senyumannya yang menggoda. Sorot matanya yang bisa meluluhkan hati setiap orang yang melihatnya." Kata Pemimpin Taiga, sambil tersenyum dan membayangkan wajah Bintang.
"Memangnya siapa kamu? Kenapa bisa kenal dengan Bintang? Dimana kalian pernah bertemu? Kapan?"
Mendengar pertanyaan dari Langit yang bertubi-tubi seperti itu. Malah membuatnya tertawa terbahak.
"Aku suka sama orang lucu sepertimu," katanya sambil menyeka air mata di sudut matanya akibat tertawa barusan.
"Aku melihat Bintang dari foto-foto yang dikirimkan oleh anak buahku. Saat salah seorang klien, meminta untuk menyingkirkan Bintang, ke pulau tak berpenghuni. Beberapa bulan yang lalu."
Langit langsung teringat kejadian saat Bintang diculik. Sehingga semua keluarganya mengejar sampai tengah lautan. Belum lagi Bintang harus mengalami keguguran. Langit tidak menyangka kalau kelompok Taiga juga ikut serta dalam kasus itu.
"Apa mereka memanggil kamu ... Big Bos?!"
"Ya, aku adalah Big Bos. Aku dengar kalau Bintang beberapa bulan yang lalu datang ke Jepang. Untuk menemui Mazda. Benarkah?"
Langit diam tidak mau meladeni pertanyaannya. Dia hanya ingin mengulur waktu, selama mungkin yang dia bisa. Sampai bala bantuan bisa secepatnya datang.
*******
Sepertinya doa orang yang terdzolimi cepat diijabah itu memang benar. Terdengar suara tembakan dan kendaraan. Menandakan kalau bala bantuan sudah datang. Baru saja Langit selesai berdoa dalam hatinya. Kalau dia merasa terdzolimi oleh si Big Bos.
"Langit sama!" Suara teriakan dari Akira, menjadi harapan bagi keempatnya untuk bisa selamat.
__ADS_1
"Paman Akira," gumam Langit senang.
Kini dua kubu yang menjadi musuh bebuyutan dari zaman dulu, saling berhadapan. Mereka sama-sama memegang senjata. Rasa amarah terlihat jelas dari dua kelompok itu.
Hikari yang melihat ayahnya, Shin Kishimoto yang turun tangan secara langsung. Membuat dirinya menangis terharu. Dia lupa bukan hanya Suzuki Hoshi saja yang akan sedih jika dirinya mati. Ayahnya juga pasti akan sangat merasa sedih.
Shin Kishimoto melihat putri semata wayangnya, menangis. Membuat dia marah dan langsung menembakan pelurunya ke lawannya yang sedang memegangi Hikari. Sehingga orang itu mati ditempat karena kepalanya terkena tembakan.
Tembakan dari Shin Kishimoto menandai dimulainya pertempuran Yakuza antara kelompok Tora melawan kelompok Taiga. Peluru saling berterbangan di sana. Tidak ada yang mau mengalah.
Langit melepaskan tangan dari tali yang mengikatnya, dengan sangat mudah. Setelah itu dia ikut melawan orang-orang yang ada di dekatnya.
*******
Bagaimana kelanjutan pertempuran antara kelompok Tora Vs Taiga.
Tunggu di BAB selanjutnya ya.
*******
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
DUKUNG AKU DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1