
Si Trio Kancil sudah sampai di depan gerbang markas Madrid. Ketiganya menatap gerbang yang menjulang tinggi.
"Kita masuknya, bagaimana?" tanya Bintang.
"Menyusup," jawab Langit.
Tiba-tiba terdengar ledakan dengan dekat mereka. Asap membumbung tinggi di dekat pintu gerbang. Angkasa dan Langit pun keluar dari mobil. Tanpa mereka sentuh, pintu gerbang bergeser sendiri membuka jalan masuk untuk mereka.
"Ini kesempatan untuk kita!" Angkasa dan Langit pun masuk kembali ke mobil mereka dan masuk menerobos beberapa orang yang sedang mencoba memadamkan api yang ada di pos jaga.
"Hei berhenti!" Teriak para penjaga yang sedang memegang selang air.
Anak buah Madrid pun menembaki mobil si Trio Kancil. Namun, gagal mobil itu terus masuk ke halaman lebih jauh dari pintu gerbang. Mereka pun menghubungi bagian penjaga bagian depan markas.
Saat mobil si Trio Kancil sampai sana sudah ada beberapa orang yang menghadang mereka. Bahkan membuat barikade portal untuk menghalangi laju mobil si kembar tiga itu. Anak buah Madrid juga menembaki mobil mereka.
Maka Langit langsung melancarkan serangan balasan dengan kedua pistol yang ada di tangan kanan dan kiri. Begitu juga dengan Angkasa, yang langsung menembakan tembakan sejenis bazoka untuk menghancurkan barikade yang ada di depan mereka. Bintang juga menembaki orang-orang yang sudah menghalangi jalan mereka. Peluru bius mereka tembakan ke setiap anak buah Madrid. Efek yang di miliki oleh peluru bius itu adalah enam jam. Jadi, sebelum habis waktu itu, mereka harus bisa menyelesaikan semuanya di sini.
Anak buah Madrid semakin banyak yang berdatangan mengepung si Trio Kancil. Mereka menembaki mobil Anti peluru milik Jonathan.
"Ini ketahanan mobil Anti peluru milik Uncle Jo, sampai mana?" tanya Bintang karena dari tadi mobil itu terus dihujani oleh tembakan dari anak buah Madrid.
"Kata Grandfa Jo, ini mobil paling kuat dan juga sudah dilengkapi oleh senjata," jawab Langit.
"Kita coba senjata yang dimiliki oleh mobil ini!" Angkasa menekan sebuah tombol.
Setelah Angkasa menekan tombol itu, ada sebuah roket kecil yang melesat keluar di bagian depan mobil dan menghantam pintu rumah Madrid. Roket itu membuat pintu dan dinding disekitarnya hancur. Melihat itu si Trio Kancil, tercengang dan sangat terkejut dengan hasil tembakan roket mini itu.
"Hebat!" Bintang menatap ke arah bangunan yang baru saja pintunya hancur.
"Apa bisa kita tembakan lagi yang barusan itu ke arah lantai atas?" tanya Langit.
"Entahlah. Kita coba saja!" Angkasa pun mengatur arah tembakannya agar bisa mencapai lantai atas.
__ADS_1
Ternyata roket itu pun bisa mencapai lantai atas. Bangunan tinggi dan megah itu langsung bergetar dan rusak akibat hantaman roket mini.
Anak buah Madrid juga melakukan hal yang sama kepada si Trio Kancil. Mereka menyerang menggunakan senjata yang lebih hebat dan mematikan. Mobil berwarna hitam itu kini menjadi sasaran empuk para anak buah Madrid.
Mobil yang ditumpangi oleh si Trio Kancil, kini mengalami kerusakan. Badan mobil pun penyok-penyok terkena hantaman peluru. Angkasa yang kesal karena telah menjadi sasaran empuk, dia pun akhirnya menembakan peluru bius ke arah mereka dengan membabi buta. Banyak yang jatuh tidak sadarkan diri karena peluru itu telah mengenai tubuhnya.
"Wow, kakak hebat! Sekali lagi, Kak!" Langit mengacungkan jempolnya.
"Kamu juga bereskan lawan sebelah kiri!" Angkasa meminta kepada Langit.
"Bintang ingin menembaki musuh yang ada di belakang itu." Bintang menunjuk ke belakang mobil yang sedang ditumpanginya.
"Sepertinya ada roket yang bisa meluncur di bagian belakang mobil," kata Angkasa.
Roket pun meluncur ke arah belakang dan mengenai musuh yang ada di sana. Bintang menatap senang karena kini musuhnya pada keluar dari persembunyian sehingga dia bisa menembakan peluru biusnya. Bintang langsung membidik satu per satu musuhnya itu. Akhirnya, mereka pun semua tumbang dan tinggal beberapa orang yang akan mereka lawan. Orang-orang yang bersembunyi dan menembaki mobil mereka dari atas.
"Kak Angkasa, tembak musuh yang ada di atas!" pinta Langit.
Angkasa pun menembakan lagi rudal mini ke lantai atas sebelah kiri yang terdapat musuh. Langit pun membereskan sisa orang yang berada di depan mobil mereka.
Ketiga anak kembar itu pun masuk ke rumah yang menjadi markas kelompok Madrid. Dilantai satu ternyata masih banyak musuh yang harus mereka lawan. Tembakan juga menghujani saat si Trio Kancil masuk sehingga mereka berpencar mencari perlindungan dari serangan peluru musuh.
Langit pun berlari sambil membalas tembakan mereka. Keahliannya dalam menembak bisa terlihat, peluru yang ditembakkan ya langsung tepat mengenai sasaran.
Angkasa pun menembak ke arah musuh yang berada di sisi kiri. Satu per satu musuhnya pun jatuh tidak sadarkan diri karena obat bius.
"Bintang, kamu dan Langit naik ke lantai atas. Cari Madina!" Perintah Angkasa di saat serangan musuh terhenti dan dia pun bergerak mendekati anak tangga.
******
Langit dan Bintang berlari ke arah tangga. Sesekali mereka membalas tembakan musuh yang berusaha menembak mereka.
Saat sampai di lantai atas, mereka bingung harus memulai dari mana. Banyak pintu yang berjajar di kanan dan kiri. Namun, ada satu pintu yang terbuka di sebelah kanan. Langit dan Bintang, mengendap-endap mendekati ruangan itu.
__ADS_1
Keduanya bisa melihat Peter sedang berkelahi dengan Madrid. Bintang dan Langit berlari ke arah Madina dan membuka ikatan di tangan dan kakinya.
"Peter kami sudah bisa mengamankan Madina." Langit berjalan mundur untuk melindungi Bintang dan Madina dari serangan musuh yang mungkin saja datang tiba-tiba.
"Ya, terima kasih Tuan Muda Langit!" Peter pun masih saling adu jotos dengan Madrid.
******
Saat Langit, Bintang dan Madina sampai dibibir tangga, ada banyak orang yang berseragam hitam di lantai satu. Seorang laki-laki tua berdiri di bawah anak tangga. Ketiganya menjadi waspada karena tidak mengenal mereka. Saat laki-laki tua itu membalikan badannya, terlihat jelas wajahnya yang mirip dengan Athena.
"Siapa kalian?" tanya Bintang dari lantai atas.
"Kenalkan aku San Marino. Salah satu Petinggi kelompok Red Dragon," jawabnya dengan penuh wibawa.
"Anda Kakeknya Athena?" tanya Madina karena begitu jelas warna iris mata mereka sama.
"Kamu mengenal Athena?" tanya Sam Marino balik kepada Madina.
"Kita satu unversitas dan sering bertemu," jawab Madina.
"Oh, kamu sepertinya anak yang baik. Tidak seperti anak sombong ini." Tunjuk San Marino pada seseorang yang berbaring di lantai.
Langit dan Bintang sangat terkejut melihat kembaran mereka, kini terkapar penuh darah.
"Kakak!"
"Kak Angkasa!"
******
Bagaimana bisa Angkasa sampai kalah oleh musuh?
Tunggu kelanjutannya ya.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga.
Terima kasih.