
Peter yang membangunkan Angkasa, hanya bisa menahan tawanya. Dia tidak boleh banyak tingkah yang akan menyinggung perasaan tuan mudanya.
'Katanya tidak mau melihat lagi dirinya, tapi sampai mimpi berteriak-teriak memanggil namanya. Mengungkapkan cinta lagi!' batin Peter.
Angkasa memperhatikan Peter, kemudian mengingat kembali mimpinya tadi. Wajahnya langsung merah. Dia memilih bangkit dari sofa dan pergi ke kamarnya. Angkasa malu kalau beneran dia sampai mengigau tadi.
Setelah mastikan tuannya masuk ke kamar. Peter baru bisa tertawa meski harus pelan yang penting jangan sampai kedengaran sama Angkasa.
"Dasar bocah! Bilangnya benci, tidak peduli, tapi kerjanya selalu mengikuti apapun yang di-posting sama Paris. Apa susahnya tinggal bilang cinta. Toh, mereka saling suka 'kan!" Peter bergumam dengan pelan.
Angkasa, pun memilih menyibukkan dengan belajar dan membaca buku. Namun, perhatiannya teralihkan saat ada notifikasi kalau Paris telah memposting sesuatu di media sosial miliknya. Tangan Angkasa langsung membuka postingan Paris. Ternyata sebuah Foto dengan wajah Paris yang pucat. Ada keterangan yang bertuliskan 'hanya di temani si kecil'.
Angkasa langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi ke rumah Paris. Dia tidak menghiraukan Peter yang berteriak memanggilnya. Akhirnya, Later pun membuntuti dengan mobil yang lainnya.
*******
Paris dan Chelsea sedang rebahan sambil menonton televisi di ruang keluarga karena tadi terbangun di tengah malam, dan mereka sulit tidur kembali. Jadinya, dia memilih nonton film anak-anak yang mengenalkan nama-nama benda. Chelsea suka lihat itu.
Paris yang sudah biasa hidup mandiri dan tinggal sendirian, tidak merasa takut. Apalagi sekarang ada Chelsea, dia sangat senang. Perhatian Paris teralihkan karena mendengar ada suara yang sedang berusaha membuka kaca jendela dari arah samping halaman. Dia pun mengambil tongkat pemukul yang disediakan di dekat antara ruang keluarga dan dapur.
Paris pun memberi isyarat kepada Chelsea untuk diam. Seperti sudah mengerti apa yang diminta, Chelsea pun hanya diam dan memperhatikan Paris yang berjalan pelan ke arah ruang dapur.
Begitu sampai dapur ada dua orang yang sudah masuk dan terkejut dengan kehadiran Paris yang membawa tongkat pemukul. Satu orang memegang pisau dan satu lagi memegang pistol. Paris tidak takut menghadapi kedua penyusup itu, dia menguasai beberapa teknik beladiri dan bisa menggunakan senjata api. Hanya sekali lihat saja kalau dua orang penyusup ini adalah penjahat amatiran. Penyusup pertama yang memegang pisau terlihat gemetaran dari tangannya. Jelas sekali kalau dia juga lagi sama terkejutnya dengan Paris. Sedangkan seorang lagi yang memegang pistol, pelatuknya tidak di pegang. Entah tidak tahu atau belum bisa.
"Apa yang sedang kalian lakukan di rumahku?!"
"Berikan harta kamu yang paling berharga kepada kami!" Pinta penyusup yang memegang pistol.
"Kalau kalian ingin harta aku yang paling berharga. Tidak ada di sini, ini rumah hanya untuk tidur saja," jawab Paris.
__ADS_1
"Berikan semua uangmu!" Penyusup yang memegang pisau maju mendekati Paris.
"Ya, kami tahu kamu orang kaya yang punya banyak uang!" lanjut temannya.
Paris melihat ke arah mereka berdua secara bergiliran. Dia memikirkan strategi yang kira-kira tidak terlalu beresiko untuk dirinya. Paris langsung mengayunkan tongkat pemukulnya begitu di penyusup hendak menusuknya. Satu pukulan yang dilayangkan oleh Paris ke tangannya dan pisau itu pun terlempar jauh. Pukulan kedua Paris berikan pada perut, dan pukulan ke tiga pada kaki si Penyusup itu.
Temannya yang memegang pistol, menembakan pelurunya ke arah Paris. Untungnya peluru itu tidak mengenainya. Paris sangat terkejut karena dia tidak menyangka kalau penyusup lainnya akan menembak, ketika dia sedang dekat dengan temannya. Namun, di detik berikutnya ada sebuah mangkuk yang melayang ke arah si penyusup dan pistolnya pun terlepas.
"Peter, bereskan dia!"
"Siap, Tuan Muda!"
Paris terdiam memandangi orang yang sedang di rindukannya kini ada di depannya. Angkasa memukul dengan kuat kepala bagian belakang di penyusup yang berada di dekat Paris. Sehingga jatuh tidak sadarkan diri.
"Tuan Muda, yang ini sudah aku bereskan!"
"Baik, tugas dilaksanakan!"
Peter dengan cepat langsung membopong kedua orang yang sudah dalam keadaan tidak sadar. Tidak perlu diikat, yang penting dia cepat pergi dari sana. Tidak mau melihat interaksi kedua remaja labil, yang sering membuatnya serba salah.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Paris masih berdiri di tempatnya.
"Kebetulan lewat," jawab Angkasa.
Mendengar jawaban Angkasa membuat hati Paris mencelos yang tadinya sangat melambung karena kedatangan orang yang dicintainya di saat genting, seperti seorang pahlawan. Paris dalam pikirannya merasa hati mereka sudah terikat, jadi bisa merasakan bahaya dari orang yang dicintainya.
"Terima kasih." Paris pun pergi ke ruang tengah dan membawa Chelsea kembali ke kamarnya.
Angkasa terbengong melihat Paris pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Saat Angkasa hendak mengikutinya masuk ke kamar. Paris langsung menutup dan menguncinya.
__ADS_1
"Paris, kita perlu bicara!" ajak Angkasa.
"Apakah itu, penting?" tanya Paris dengan nada yang datar meniru gaya Angkasa, begitu dia kembali membuka pintunya.
Lagi-lagi Angkasa menatap aneh kepada Paris. Paris yang kini ada di depannya terlihat berbeda. Padahal mereka hanya tidak bertemu beberapa hari, tapi kini menjadi terasa asing. Angkasa tidak suka dengan perubahan Paris.
Paris menahan dirinya untuk tidak memeluk tubuh dari laki-laki yang dicintainya karena mengikuti apa kata Bintang. Jangan agresif kepada Angkasa, cuekin seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengannya. Perlihatkan seakan dirinya sedang berusaha untuk menghapus perasaannya. Melihat tatapan dan mencium wangi tubuh Angkasa, Paris rasanya ingin melompat ke dalam pelukannya.
"Di sini berbahaya, jadi tempatkan dua atau tiga penjaga agar kejadian seperti barusan tidak terjadi lagi!" pinta Angkasa.
"Oh, iya. Terima kasih untuk sarannya. Kamu tahu sendiri 'kan kalau aku tidak suka diawasi. Lagian kalau ada apa-apa, ada Brooklyn yang rumahnya tidak jauh dari sini. Hanya terhalang satu rumah, yang selalu siap membantu aku."
Angkasa sungguh sangat tidak suka mendengar ucapan Paris, barusan. Seakan kini dalam hidupnya hanya ada Brooklyn yang berharga. Kedua pasang mata itu saling menatap, seolah sedang mengingat wajah yang ada dihadapannya dan menyimpannya dalam memori ingatan, agar tidak lupa. Baik Angkasa dan Paris sama-sama terdiam, tampa mereka sadari tubuhnya saling mendekat seolah ada magnet dari dua kutub berbeda yang saling tarik menarik. Ketika hidung mereka sudah bersentuhan, ada suara yang memanggil nama Paris. Tentu saja dari orang yang tidak disukai oleh Angkasa. Paris dan Angkasa yang baru tersadar akan posisi mereka barusan langsung menjauhkan diri mereka.
"Paris. Kamu baik-baik saja 'kan!"
*******
Bagaimana reaksi Angkasa saat ada saingan cintanya datang?
Tunggu kelanjutannya ya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1