Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 45


__ADS_3

   Ghaza sudah bersiap di ballroom, yang telah disulap dekorasi bertema negeri dalam dongeng. Tema ini diminta oleh Bintang, karena dia begitu suka dengan cerita-cerita putri dan pangeran dalam negeri dongeng. Ghazali yang memiliki paras tampan campuran Indonesia-Amerika, tubuhnya yang atletis terbungkus dengan pakaian model pangeran dalam negeri dongeng. Sehingga menjadikan dia layaknya pangeran yang keluar dari dalam buku dongeng.


    Sementara Bintang dia masih berada di dalam kamarnya bersama dengan kedua kembarannya. Bintang sudah berdandan sangat cantik seperti peri dalam dongeng, menurut Angkasa. Sementara Langit bilang, Bintang seperti boneka. Sehingga merasa sayang memberikannya kepada Ghazali. Berbeda dengan penilaian ketiga sahabatnya, Bintang terlihat seperti putri di dalam negeri dongeng.


    Amara belum mengetahui konsep dari tema pernikahan Ghazali. Dia memakai gaun pengantin yang memperlihatkan hampir semua punggungnya, dan berdada rendah, bermahkota berlian menghiasi rambutnya yang hitam dan tertata rapi. Karena Amara yang terlalu ingin sempurna penampilannya. Dia hanya menyiapkan baju pengantin sesuai dengan keinginannya, tapi lupa dengan baju pengantin untuk proses ijab qobul. Sehingga, mau tidak mau mereka harus menyesuaikan dengan keinginan Amara.


    Handoko Kusuma kini menyiapkan diri untuk proses ijab qobul putrinya. Karena dia yakin, kalau pekerjaan para agen bayaran itu berjalan lancar. Sehingga kini putrinya bisa menikahi Ghazali. Amara memiliki seorang ibu tiri, dia orangnya pendiam tidak banyak bicara dan menuntut. Amara suka padanya, karena ibu tirinya itu, tidak suka ikut campur dengan segala urusannya. Dia hanya diam berdiri seakan tidak ada di sana.


    Saat waktu sudah menunjukan jam 21.00, Amara sudah tidak sabar ingin segera menjadi istri Ghazali. Jantungnya berdetak dengan kencang dan senyumnya merekah menghiasi wajahnya yang cantik.


"Pah, sudah jam sembilan!" Amara mengingatkan Handoko kalau acaranya akan di mulai.


"Oh, iya. Ayo kita turun ke bawah!" ajak Handoko sambil menggandeng tangan Amara.


    Belum juga sampai ke depan pintu. Pintu kamar itu terbuka oleh dua orang polisi dan Khalid. Salah seorang polisi menunjukan surat penahanan untuk Handoko. Atas tuduhan sebagai otak dan dalang dari kasus penculikan terhadap Bintang.


"Pak Handoko, sebaiknya. Anda ikut kami dengan cara yang baik-baik. Jangan sampai kami melakukan tindak kekerasan terhadap anda!" kata kepala polisi dengan suara baritonnya yang sangat tegas.


"Tidak! Jangan tangkap Papa!" Amara menghalangi kedua polisi itu saat hendak maju ke arah Handoko.


    Amara marah kepada kedua polisi itu. Dia tidak terima, kalau ayahnya akan ditangkap di hari pernikahannya. Bahkan dia belum sah menjadi istri Ghazali.


"Nona, anda bisa ikut di penjara. Bila menghalangi tugas kami!" kata polisi satunya lagi.


    Handoko, yang tidak mau putrinya di penjara. Akhirnya menyerahkan dirinya. Bagaimanapun juga sudah tidak ada celah lagi sekarang bagi dirinya. Handoko memeluk Amara yang menangis tergugu. Untungnya make up yang dia pakai itu kualitas terbaik, sehingga tidak luntur. Istrinya Handoko juga hanya bisa memeluknya saja, saat Handoko mendatanginya dan menitipkan Amara kepadanya.


"Jaga diri kalian baik-baik,ya!" pinta Handoko kepada Amara dan istrinya.

__ADS_1


    Handoko pun pasrah digiring oleh polisi, dengan catatan jangan dulu di borgol tangannya. Karena dia tidak mau, nanti anak dan istrinya di hina oleh orang lain. Karena punya ayah dan suami, seorang narapidana. Pemasangan borgol akan dipakaikan saat sudah masuk ke dalam mobil.


******


    Saat mereka keluar dari lift menuju lobi hotel, ada dua anak kembar laki-laki yang sedang berlarian di sana. Handoko yang tidak tahu kalau kedua bocah kembar itu adalah cucunya Khalid. Menyambar salah satunya, dan menjadikannya sandera. Setelah berhasil mengambil pistol polisi yang mengawalnya terlebih dahulu.


"Akh … Ayah … tolong aku!" teriak bocah berumur empat tahun itu memanggil Fatih yang sedang menyambut tamu undangan.


    Fatih yang melihat anaknya jadi sandera, langsung berlari ke arah Handoko yang menggendong Rayyan, putra sulungnya.


"Hei, lepaskan anak itu!" teriak Fatih.


"Tidak! Kalian semua menjauh dariku! Atau bocah ini akan mati!" Ancam Handoko sambil jalan mundur.


    Tanpa Handoko sadari kalau sudah ada seorang ibu hamil, yang berdiri di belakangnya dan siap memukulnya. Dengan posisi kuda-kuda, Mentari memegang tongkat petugas keamanan. Lalu melayangkan tongkat itu ke tengkuk Handoko.


    Handoko yang mengerang kesakitan karena pukulan dari Mentari, kini memegang lehernya yang terasa sakit dan panas. Para polisi pun langsung menangkap Handoko dan memborgol tangannya. Ternyata kejadian itu disaksikan banyak orang, bahkan wartawan yang sedang meliput acara pernikahan termewah dan termegah tahun ini. Ditambah gosip, pengantin wanitanya di culik saat kuliah. Menjadi orang-orang penasaran kelanjutan dari kisah Ghazali-Bintang.


"Pak Handoko, ternyata anda benar-benar sudah keterlaluan! Setelah merencanakan penculikan menantuku, kini menjadikan cucuku sebagai sandera!" Khalid kini berdiri di hadapan Handoko dengan mukanya yang sangat merah, karena menahan amarahnya. Jika tidak di tahan oleh Mentari dan Aurora, Khalid pasti akan menghajar Handoko sampai puas.


    Amara yang berlari dan menangis ke arah Handoko, meminta ampunan kepada Khalid untuk papanya.


"Amara," Ghazali memberikan jas untuk menutupi tubuh Amara yang memakai baju pengantin yang terlalu terbuka.


"Sudah, kamu nggak perlu menangisi papamu yang kelakuannya seperti itu. Sungguh tidak bisa diampuni!" kata Ghazali sambil menghapus air mata di pipi Amara.


"Tidak Ghaza! Bagaimanapun juga dia itu Papaku." Amara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ghaza lepaskan Papaku … aku mohon!" pinta Amara.


    Amara menangis tergugu di hadapan Ghazali. Kemudian meminta kepada Ghazali untuk membebaskan ayahnya. Amara juga masih mengira kalau mereka berdua akan menikah.


"Ghaza, kalau Papa di penjara. Siapa yang akan menjadi wali nikah saat kita menikah nanti," kata Amara yang masih meneteskan air mata di pipinya.


"Ah … benar juga! Wali nikah," kata Ghazali. Kemudian dia menatap ke arah Handoko.


"Sebelum anda pergi dibawa ke penjara. Sebaiknya anda nikahkan dulu Amara," pinta Ghazali.


"Baiklah, demi kebahagian putriku. Aku tidak akan melakukan kejahatan lagi," kata Handoko sambil meneteskan air matanya.


"Satu lagi aku sudah punya istri yang sangat aku cintai. Jadi aku nggak akan mau menikahi wanita lain," kata Ghazali dengan senyuman manisnya.


"Apa maksudnya Ghaza!" Amara mulai marah karena sudah merasa dipermainkan.


"Amara … dengarkan aku!" Ghazali memegang kedua pundak Amara.


"Ada laki-laki yang menginginkan dirimu sebagai istrinya, yang akan menemani hidupnya. Hidup berbahagialah dengannya!" lanjut Ghazali sambil menatap mata Amara.


"Kamu lebih pantas dengannya. Carilah kebahagian dengannya!" Ghazali kemudian memberi isyarat kepada seorang laki-laki yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2