
Khaira ingin segera menyelesaikan makan siangnya yang terganggu karena kehadiran Radit dan juga Felly. Ia berharap bisa makan siang tenang, nyatanya harus kembali berhadapan dengan Radit dan Felly. Namun, Khaira bisa mengelola emosinya dengan sebaik mungkin. Gadis itu nampak biasa saja, sekalipun kondisi hatinya tidak baik-baik saja.
Selesai makan siang, Khaira meminta izin kepada Dimas dan lainnya untuk pulang terlebih dulu. Khaira harus segera menyelesaikan proposal pengajuan skripsinya, sehingga ia berharap selesai semester ini dia bisa wisuda tepat waktu.
Saat Khaira memilih pulang, Radit, Dimas, dan Felly masih bersantai sejenak. Namun, Radit pamit ingin ke toilet sebentar. Sesampainya di toilet, Radit membuka handphonenya dan mencari nomor Khaira yang sebelumnya telah ia simpan. Pria itu langsung saja menekan tombol telepon untuk menelpon Khaira. Sementara Khaira yang sedang dalam berjalan menuju tempat parkir mendengar handphonenya bergetar. Khaira mengambil handphonenya dan melihat nomor baru di situ. Tetapi bagaimana pun, ia menerima nomor itu.
[Assalamualaikum, ini siapa?] Sapa Khaira kepada penelpon dengan nomor baru di handphonenya.
[Hei, anak kecil cengeng. Ini aku Radit.]
[Hem, ada apa?]
[Simpan ya, itu nomorku. Tadi Bunda Ranti telepon ngapain?]
[Oh, besok sore kita disuruh ke rumah Bunda. Ayah dan Bunda ajak kita makan malem bersama.]
[Hem, oke. Ya udah, hati-hati ya Si Cengeng.]
Radit pun mematikan teleponnya, ia pun heran kenapa ia bisa-bisanya menghubungi Khaira terlebih dulu.
Sementara Khaira justru merasa sebal dengan suaminya yang tidak menghargainya. Cara kita menghargai orang lain adalah memanggil nama orang tersebut. Nama menunjukkan identitas suatu pribadi. Bukan asal memanggil orang dengan sembarangan. Bagi Khaira itu adalah tindakan yang tidak sopan.
Khaira masih berjalan dengan wajah cemberut menuju parkiran mobilnya. Ia menengok ke kanan dan kiri mencari mobilnya, akhirnya ia telah menemukan mobilnya. Di dalam mobil, Khaira mulai menyimpan nomor telepon suaminya dengan nama "Nero."
Bagi Khaira, perilaku Radit seperti Kaisar Nero yang kejam. Bagaimana tidak kejam, seorang istri justru tidak dihargai, tidak dianggap, dan hari pertama setelah pernikahan justru suaminya pulang ke rumah membawa perempuan lain yang dikenalkan sebagai istri sirinya. Sikap kejam Radit, tidak berhenti sampai di situ, begitu ada kesempatan untuk menyakiti, maka ia akan bermesraan dengan Felly. Sengaja mau pun tidak sengaja, Radit telah menyakiti hati Khaira. Maka, Khaira pun menyimpan nomor suaminya dengan nama "Nero."
__ADS_1
Usai menyimpan nomor Radit, Khaira pun menjalankan mobilnya pelan-pelan. Hari masih siang, tetapi Khaira ingin segera pulang untuk mempersiapkan proposal skripsinya. Mumpung rumah juga sepi hanya ada Bibi Tinah, jadi mengerjakan proposal skripsi jauh lebih baik.
Sekitaran setengahan jam berkendara di tengah panas dan ramainya lalu lintas ibu kota, akhirnya Khaira telah sampai di rumah suaminya.
"Assalamualaikum Bi Tinah..." Sapa Khaira begitu masuk ke dalam rumah.
"Wassalamu'alaikum Non Khaira... Sudah pulang?"
"Iya Bi..."
"Mau dibuatkan makan siang apa Non? Biar saya masakan buat Non."
"Aku sudah makan kok, Bi. Aku langsung ke kamar ya, Bi... Mau mengerjakan tugas kuliah."
"Iya Non... Kalau butuh apa-apa panggil Bibi saja ya, Non."
Usai mandi dan berganti baju, Khaira langsung duduk di meja belajarnya sembari menyalakan laptopnya. Menunggu laptopnya dapat dioperasikan dengan sempurna, ia mengambil foto pernikahan dengan Radit.
Mengapa kita justru sama-sama terjebak dalam pernikahan yang runyam seperti ini. Seandainya memang tidak mau menjalani, harusnya kamu bilang saja sama Bunda Ranti dan Ayah Wibi. Jangan menyakiti aku seperti ini. Aku pun punya perasaan. Aku bukan anak kecil atau si cengeng yang selalu kau katakan. Aku juga punya hati.
Kalau kamu bahagia dan cinta dengan Felly, harusnya kamu perjuangin cintamu sampai Ayah dan Bunda setuju, bukan justru menerima perjodohan ini dan akhirnya melukaiku seperti ini. Walau aku terlihat cuek dan biasa saja, tapi yang terjadi dalam hatiku hanya aku yang tahu. Mau sampai kapan kamu kejam kepadaku...
Khaira membuang nafasnya dengan kasar, lalu ia menaruh kembali pigura foto pernikahannya ke tempatnya. Setelah itu, ia dengan segera mengetik proposal pengajuan skripsinya. Khaira membolak-balikkan buku-bukunya, setelah itu ia mulai mengetik di laptopnya. Matanya terasa lelah, akhirnya ia mengambil kacamata anti radiasinya di tas dan memakainya. Supaya bisa lebih fokus, Khaira berniat membuat teh atau pun kopi untuk menemaninya mengerjakan proposal.
Saat Khaira telah sampai di dapur, rupanya hari telah sore, dan Bibi Tinah sudah pulang ke rumahnya. Khaira pun berniat memasak air panas untuk menyeduh tehnya. Ia menunggu sesaat hingga air mendidih, suasana rumah yang hening tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Radit sudah pulang ke rumah seorang diri.
__ADS_1
Khaira mencoba mengabaikan kedatangan suaminya, ia tetap berdiri di depan kompor menunggu air nya matang. Melihat Khaira berada di dapur, Radit pun berjalan mendekati Khaira.
"Hei Cengeng, baru ngapain?"
Merasa dipanggil bukan namanya, Khaira hanya diam tak menghiraukan sapaan suaminya.
"Hei, dipanggil diem-diem aja sih?"
Khaira masih diam saja, ia kini justru menyeduh teh tubruk racikannya sendiri ke dalam sebuah teko dan menyeduhkan air panas sehingga tercium aroma teh yang harum bunga melati.
"Woi, punya telinga gak sih?" Kali ini Radit memanggil dengan suara lebih keras.
Khaira masih pura-pura tidak mendengar, bagaimana pun sebagai seorang yang memiliki nama, ia hanya ingin dipanggil dengan namanya.
Radit pun semakin mendekat ke arah Khaira, sementara Khaira yang selesai menyeduh teh. Tiba-tiba berbalik, memutar badannya ke belakang untuk mengambil cangkir. Namun, ia justru menabrak Radit yang berdiri tepat di belakangnya. Wajah Khaira mengenai dagu Radit, dan Radit pun justru tak sengaja bibirnya seolah-olah mengecup kening Khaira.
Baik Khaira dan Radit justru terlihat kikuk dan canggung. Keduanya terdiam serial detik hingga Khaira pun mengaduh, lantaran kepalanya mengenai dagu Radit.
"Aduh..." sembari tangannya mengusap-usap kepalanya.
"Makanya kalau mau balik, ngomong dulu. Hobinya kok nabrak-nabrak. Kalau yang ditabrak orang masih untung, kalau yang ditabrak motor atau mobil apa enggak buntung coba?" Radit berbicara cukup lantang kepada Khaira.
"Gak usah kenceng-kenceng juga bicaranya, saya enggak tuli. Permisi." balas Khaira kepada Radit, dan ia pun berlalu naik ke lantai dengan membawa secangkir teh panas di tangannya.
"Hei tunggu dulu, kenapa sih sama suami sendiri kok gak sopan. Katanya bisa denger, tapi suaminya ngomong gak pernah ditanggepin." Radit masih mencoba untuk menghentikan langkah kaki Khaira, tetapi Khaira justru mempercepat langkah kakinya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mulai menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Lebih baik segera masuk ke kamar, daripada beradu mulut dengan Nero." gumam Khaira sembari menyeruput teh nya, dan mengunci kamarnya dari dalam.