Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Istrinya Mas Radit


__ADS_3

Di rumahnya, usai jam makan siang Bunda Ranti mendatangi Khaira di kamarnya. "Khai, kamu baru sibuk enggak?"


Khaira berdiri menghampiri bundanya seraya berkata. "Tidak sibuk Bunda, ada apa Bun? Perlu bantuan Khaira?"


"Ayah kamu melupakan salah satu dokumennya ini, kamu bisa enggak anterin dokumen ini ke kantor Ayah?" tanya Bunda Ranti sembari menyerahkan beberapa file dokumen ke tangan Khaira.


Belum menjawab, Khaira menimbang-nimbang dulu apakah ia akan mengantarkan dokumen itu. Tiba-tiba saja Khaira mendapatkan ide di kepalanya. "Bisa Bunda, biar Khaira antar dokumennya." Khaira menyanggupi untuk mengantarkan dokumen kepada Ayah Wibi.


"Hmm, Bunda... Kalau Khaira sekaligus temuin Mas Radit boleh?" tanyanya sembari senyam-senyum kepada bundanya.


Bunda Ranti tertawa, sudah pasti ia tahu niat hati menantunya itu. "Boleh. Susul aja...," jawabnya sembari menepuk-nepuk lengan Khaira.


"Yee... Makasih Bunda. Pamit sekalian ya Bunda, nanti Khaira pulang sama Mas Radit kalau agak terlambat tidak apa-apa kan Bun?" tanyanya sekaligus meminta pamit kepada Bundanya.


"Iya, gak papa. Santai aja Khai, lagipula sejak pulang dari Inggris kalian berdua juga cuma di rumah aja. Mau jalan-jalan, maen-maen boleh. Yang penting hati-hati. Bunda gak masalah, sudah ada Radit yang jagain kamu." ucap Bunda Ranti yang begitu baik dan tidak mengekang menantunya itu sama sekali.


Lega dengan izin yang diberikan bundanya. Khaira segera mengganti pakaiannya. Memoleskan sedikit make-up ke wajahnya, dan ia segera mengemudikan mobilnya untuk segera memberikan dokumen Ayah Wibi, setelah itu Khaira akan menemui suaminya di sana.


Begitu tiba di WNS Finance, Radit menemui resepsionis terlebih dahulu. "Siang Kak, saya mau bertemu Bapak Wibisono," ucapnya ramah.


Resepsionis itu pun berdiri, balik menanyakan keperluan Khaira. "Ada keperluan apa Kak? Sudah membuat janji sebelumnya?" jawabnya layaknya retorika wajib para resepsionis.


"Saya anaknya Kak. Ups salah, menantunya maksud saya. Ada dokumen Ayah yang tertinggal di rumah." jawab Khaira.


"Baiklah Kak, silakan langsung ke lantai lima. Di sana ruangan pimpinan."


Khaira segera masuk ke dalam lift, ia memencet angka tombol nomor lima.


Ting.


Lift yang ia naiki telah membawanya ke kantor ayah mertuanya.


Di sana ada seorang sekretaris pria yang menanyai siapa Khaira. "Ada yang bisa dibantu Kak?"

__ADS_1


Khaira hanya tersenyum, "saya mau bertemu Ayah, ada file Ayah yang tertinggal di rumah."


Akhirnya Khaira dipersilakan masuk oleh sekretaris mertuanya itu.


"Siang Ayah, Khaira datang untuk mengantarkan file Ayah yang tertinggal di rumah. Tadi Bunda meminta Khaira untuk mengantarkannya." sapa Khaira sembari menyerahkan dokumen kepada mertuanya.


"Makasih Khai, tadi pagi Ayah kelupaan. Untung kamu mau nganterin ke sini. Cuma nganterin atau mau yang lain? Mau temuin Radit boleh loh." sang Ayah rupanya sudah tahu terlebih dahulu motif tersembunyi Khaira.


Khaira tersenyum, "Khaira boleh bertemu Mas Radit, Yah?"


"Boleh ... Ayo Ayah antar ke ruangan Radit."


Khaira mengekori Ayahnya menuju ruangan Radit di lantai empat. "Kamu sudah ngabarin Radit kalau ke kantor Ayah?" tanya Ayahnya sembari berjalan.


"Belum Yah, mau kasih kejutan," jawab Khaira sembari sedikit tertawa.


Ayah hanya geleng-geleng mendengar jawaban Khaira. "Ya sudah, kamu berjalan di belakang Ayah aja ya, biar enggak keliatan. Kasih kejutannya biar enggak tanggung-tanggung."


Fokus pria itu langsung teralihkan, ia melihat Ayahnya yang sudah berdiri di hadapannya. Di balik Ayahnya, perlahan-lahan Khaira menyembul keluar.


"Mas...," sapanya sembari tersenyum manis kepada suaminya.


Hingga akhirnya Radit meminta Khaira untuk duduk dan menunggunya bekerja karena waktunya bekerja tinggal satu jam lagi sebelum jam pulang.


Sembari Khaira menunggu, sesosok pria masuk ke dalam ruangan. Pria itu begitu kaget sekaligus tertarik mengetahui Khaira ada di tempat kerja Radit.


"Hei Khaira, kamu Khaira kan...." sapanya sembari tersenyum lebar.


Khaira masih diam, dia mau menyapa tetapi melirik terlebih dahulu kepada suaminya. Sementara Radit raut mukanya berubah seketika, rahangnya juga mulai mengeras. Khaira ingat bahwa suaminya sejak semalam hingga tadi pagi mengatakan bahwa ia cemburu.


Oleh karena itu, Khaira hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Tanpa berbicara kepada, Miko. Pria yang menyapanya barusan.


"Enggak nyangka bakalan ketemu kamu lagi, Khai... dan ternyata, kamu istrinya Radit. Perasaan dulu masih bertemu di kampus, tiba-tiba aja udah nikah dan enggak ngasih aku undangan." ucap Miko panjang lebar.

__ADS_1


Khaira hanya mengangguki saja, sesekali ia melirik wajah suaminya yang terkesan cuek.


"Ya sudah Khai, aku balik kerja. Mau maen boleh loh, mejaku di sana." ucapnya menunjuk satu meja yang tidak jauh dari tempat duduk Radit, kemudian pria itu berlalu pergi.


Usai Miko pergi, Radit mulai berbicara kepada istrinya. "Udah senyumnya, jangan senyum-senyum terus."


Khaira kemudian melihat suaminya. "Aku cuma bersikap sewajarnya. Kamu posesif deh Mas, aku jawab ucapannya aja enggak loh. Cemburu boleh, posesif jangan."


Radit sejujurnya kesal, tetapi ia masih berusaha menahannya. Hingga akhirnya ia memilih berkutat dengan pekerjaannya. Sementara Khaira hanya duduk, sesekali ia memainkan handphone di tangannya.


"Bosen?" Radit bertanya, tetapi hanya ekor matanya saja yang menatap Khaira.


"Enggak. Aku seneng kok malahan. Jadi seperti ini ya rasanya nungguin orang baru sibuk di depan komputer ya?" sahut Khaira.


"Maksudnya?" sahut Radit cepat.


"Dulu waktu di Manchester kan, kamu yang selalu nungguin aku ngerjain tugas dan Thesis. Aku jadi tahu rasanya." ucap Khaira sambil sedikit menggerak-gerakkan jarinya.


"Ya kan, aku nungguin karena kerjaanku full-time cuma buat kamu Sayang. Kangen deh seharian berduaan terus, full dua puluh empat jam berdua." ucap Radit. Pria tiba-tiba saja teringat kesehariaannya di Manchester bersama Khaira.


"Sudah new normal kita, Mas. Kerja biar keren." jawab Khaira agak ketus.


Usai itu dua rekan kerja Radit lainnya datang, mereka adalah Nina dan Andi. Keduanya cukup kaget mendapati orang asing berada di dalam ruangan mereka. Keduanya ingin bertanya, tetapi Miko terlebih dahulu berdiri.


"Dia istrinya Radit." Miko mendahului menjawab rasa penasaran Nina dan Andi.


Akhirnya Radit berdiri, lalu ia mengenalkan Khaira kepada rekan kerjanya. "Gaess, kenalin Istri gue, namanya Khaira."


Radit memperkenalkan istrinya itu dengan perasaan bangga. Menyebut Khaira sebagai istrinya, selalu membuat hatinya bangga dan hangat.


Akhirnya Khaira menganggukkan kepalanya, menatap satu per satu rekan kerja Radit di sana.


"Aku Khaira, istrinya Mas Radit...." Khaira turut memperkenalkan dirinya yang juga diangguki dengan senyuman oleh Nina, Andi, dan juga Miko.

__ADS_1


__ADS_2