Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Belajar Mencintai


__ADS_3

Radit menatap Khaira yang menangis terisak ketika melihat dan mendengar wejangan dari orang tuanya. Memanglah benar, Allah Maha Pemurah dan Pengampun, namun tidak bisakah jika manusia memerlukan bukti untuk menerima kembali seseorang yang telah menyebabkan sayatan luka tak berdarah di relung hatinya?


Radit yang melihat Khaira menangis terisak, langsung membawa gadis rapuh itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku ya Khai... Aku memang pria brengsek. Pria yang banyak memberimu luka."


Khaira tak bisa berkata, ia hanya mampu terisak menumpukan kepalanya di dada Radit.


Tangan pria itu terus mengelus rambut sebahu Khaira, berusaha menenangkan gadis yang sangat ia cintai itu. Hanya kata maaf yang terucap, sementara Khaira mulai tenang setelah sekian menit menumpukan kepalanya di dada bidang Radit.


Setelah merasa tenang, Khaira mengurai pelukannya, lalu kembali duduk di sofa. Radit pun mengikuti, dan ia ikut di sofa mengambil tempat di sebelah Khaira.


"Aku boleh bercerita Khai?" Tanyanya sebelum memulai bercerita kepada Khaira.


Khaira mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari suaminya itu.


"Dulu waktu kecil aku ternyata punya janji pada seorang gadis kecil yang cantik dan lucu. Gadis yang membuatku bahagia saat bertemu dan bermain dengannya. Kamu masih ingat ceritaku saat kita di Museum Fatahillah Kota Tua? Aku sudah mengingat gadis itu, Khai. Setelah sekian lama, akhirnya ingatanku waktu kecil datang lagi." Radit menghela ceritanya sesaat.


"Setelah kamu pergi, aku memutuskan pulang ke rumah Ayah dan Bunda. Saat itu Bunda menunjukkan foto album yang sudah usang, seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain bersama dengan latar Candi Prambanan. Aku baru mengingatnya, setelah sekian lama. Ketika aku mengingatnya, aku merasa senang sekaligus sedih. Senang, karena aku menemukan gadis kecilku itu. Dan juga sedih, karena aku telah menyakitinya."


Radit mengubah sedikit posisi duduknya, tangannya kini memegang kedua tangan Khaira. "Aira... Kamu Aira kecilku ya..."


Khaira terdiam ketika Radit memanggil nama panggilannya saat kecil. 'Aira', panggilan sayang dari Radit ketika keduanya masih sama-sama kecil dan tinggal di Jogjakarta dulu.

__ADS_1


Pandangan Khaira menerawang, "Itu hanya kisah lama, Mas. Lebih baik lupakan saja kisah itu. Itu hanya kenangan bersama anak-anak kecil yang hanya merasa nyaman mendapati temannya yang baik dan penyayang." ucap Khaira.


"Mungkin bagimu itu hanya kisah masa kecil, tetapi bisa mengingat semua itu sangat berarti untukku. Kamu cintaku masa kecil dulu. Aira-ku yang manis dan lucu."


Senyuman terbit di wajah Radit, ia membayangkan betapa manis, imut, dan lucunya Khaira waktu kecil dulu. Adek kecil yang selalu bermain bersamanya, membuat kenangan bersama di tempat-tempat wisata di Jogjakarta, adek kecil yang selalu menangis saat mereka harus berpisah.


"Jadi ... Belajarlah untuk mencintaiku sekarang ya Khai ... Aku tidak memintamu melupakan semua kesalahanku, tapi cukup maafkan aku dan belajar mencintaiku. Karena, aku sudah mencintaimu, Khai. Jika kamu perlu waktu, aku akan memberikannya. Aku akan selalu berada di sisimu, kamu bisa mendapatkan waktu sebanyak mungkin. Jika kamu belum bisa menerimaku sebagai suamimu, terima aku sebagai teman atau kakakmu. Tidak apa-apa, aku akan menerima semua tentangmu. Yang penting jangan menyuruhku pergi darimu. Aku tak akan bisa, Khai." Radit berkata dengan penuh keseriusan.


Khaira tidak langsung mengiyakan, ia masih menimbang-nimbang dalam hatinya. Rasa cintanya untuk suaminya masih ada, tetapi rasa takut kembali disakiti juga masih ada di dalam hatinya. Ya, Khaira membutuhkan waktu meyakinkan hatinya sendiri bahwa Radit sudah berubah.


"Jika hanya memaafkan, aku akan memaafkan Mas. Karena Allah juga maha pemaaf. Aku hanyalah hambanya, sangat berdosa jika aku tidak memberikan maaf bagi orang lain, terlebih bagi suamiku sendiri. Tetapi untuk menerimamu, aku butuh waktu Mas. Aku masih takut kembali disakiti dan dikhianati. Hatiku ini belum sepenuhnya baik-baik saja." Khaira mengatakan apa yang ia rasakan dengan jujur.


Kejujuran Khaira sudah cukup bagi Radit, maaf yang diberikan Khaira sedikit melegakan perjuangannya. Pria itu hanya perlu berjuang lagi, membuktikan diri bahwa dia sudah berubah sepenuhnya, tidak ada cinta lain di dalam hatinya. Karena hanya Khaira lah pemilik hatinya, penyesalannya sekian bulan menyadarkannya bahwa Khaira adalah pasangan yang Allah pilihkan dan kirimkan kepadanya. Jodoh yang Allah pilihkan sejak kecil, hanya saja kedegilan hatinya membuat ia lupa dan menyakiti gadis yang dicintainya saat kecil dulu.


Khaira sedikit melirik Radit yang sedang mengucapkan perasaan cintanya. Jujur Khaira malu mendengar secara langsung pernyataan cinta dari suaminya sendiri. Tetapi, Khaira bersikap senormal dan sebiasa mungkin.


Usai itu, Khaira mengurai tangannya yang masih berada dalam genggaman Radit. "Baiklah Mas, ya sudah. Selamat berjuang lagi, semoga berhasil." Khaira menjeda sejenak ucapannya. "Ini sudah siang Mas, aku mau keluar beli makan."


Radit pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah lewat dari jam makan, ya sudah yuk kita beli makanan. Aku ikut ya, aku juga laper."


Khaira berdiri mengambil coat dan sarung tangannya. Gadis itu berjalan mendahului Radit. Membuka pintu apartemennya, lalu turun ke bawah untuk membeli makan siang. Keduanya kembali berjalan menyusuri jalanan Adelphi Street yang cukup lengang siang itu.


"Kalau aku ikut tinggal di apartemenmu perlu izin kepada yang mengelola apartemen enggak Khai?" tanyanya sembari berjalan di sisi Khaira.

__ADS_1


"Aku kurang tahu sih Mas. Budaya di sini kan bebas, tetapi lebih baik kita izin Mas. Biar aman, jauh dari fitnah." tanggapan Khaira bijak yang membuat Radit mengulas senyum di sudut bibirnya.


"Usai makan siang, kita langsung izin ke pemiliknya ya. Oh iya, kamu mau makan apa siang ini?" tanya Radit kepada Khaira.


"Mas Radit mau makan apa? Aku sih biasanya sepengennya aja. Atau mau ke tempat makan yang deket dari sini, menu Western tapi. Mau enggak?"


Radit bahagia, Khaira sudah banyak bicara dan tidak ketus lagi saat berbicara dengannya. Ada kesejukan dalam hatinya bahkan Khaira memang telah memaafkannya.


"Boleh ke mana?"


"Jalan lurus terus aja Mas, nanti ada tempat makan dengan konsep pub dan kafe namanya Old Pint Pot. Aku sering makan di situ." Ucap Khaira sembari tangannya menunjuk jalan di depannya.


Radit mengangguk mendengar cerita Khaira. "Kamu makan sendirian Khai?" tanyanya.


"Seringnya ya sendirian lah. Kalau di kampus baru deh makan barengan temen-temen aku yang ketemu tadi Tina, Adam, dan Mark. Palingan makan di kantin kalau sama mereka."


"Mulai sekarang, aku yang bakalan temenin kamu, Khai. Aku gak akan biarin kamu sendirian."


"Hmm." jawabnya singkat.


"Cuma itu balasannya nih."


"Buktikan saja Mas. Aku butuh bukti bukan janji."

__ADS_1


Radit terkekeh mendengar ucapan Khaira. "Iya, Mas akan buktiin..."


__ADS_2