Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Serius Promil


__ADS_3

Usai satu jam menunggui Radit bekerja, akhirnya jam selesai bekerja pun tiba. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan kantor. Begitu juga dengan Radit, ia juga memilih untuk segera pulang ke rumah.


Radit merapikan kembali ranselnya, tentunya masih ada Khaira yang setia menungguinya.


"Sampai lupa bertanya, kamu tadi ke sini naik apa Sayang?" tanya Radit sembari merapikan beberapa dokumen di meja kerjanya.


"Aku bawa mobil sendiri kok." jawab Khaira sembari ia turut membantu merapikan meja kerja suaminya.


"Hati-hati loh, sudah hampir dua tahun kamu enggak bawa mobil kan." Pria itu mengkhawatirkan istrinya.


"Iya Maskuw...." jawab Khaira sembari memberi senyuman kepada Radit.


Usai beres-beres meja kerja dan ranselnya selesai, keduanya berjalan beriringan keluar dari ruangannya kemudian menuju parkiran di basement.


Begitu sampai di depan mobil, Radit terlebih dahulu membukakan pintu bagi Khaira. "Silakan masuk Sayang...." ucapnya sembari tersenyum.


"Ishh, manis banget deh Mas...." sahut Khaira.


"Iya, selama di Inggris kan gak bisa kayak gini Sayang. Di sana kan kita hidup sehat, jalan kaki terus, kalau enggak ya naik transportasi umum." jawabnya lalu mengitari mobil dan masuk ke dalam kursi kemudi.


Begitu Radit telah bersiap di balik stir kemudinya, Khaira mengatakan tujuannya menemui Radit.


"Mas...." dipanggilnya suaminya itu.


"Hmm, apa?" sahutnya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ke sini gak hanya mengantar dokumen Ayah. Ada yang mau kusampaikan," Khaira menghela ucapannya sejenak, ia menatap wajah Radit. "Bisa antar aku ke Spog, semalam aku sudah kirim pesan ke Dr. Indri yang kita temui di Manchester dulu, aku mau lepas kontrasepsi, Mas. Sudah waktunya untuk serius Mas, takutnya kita keasyikan berdua nanti malahan lupa dengan tujuan kita. Gimana menurutmu Mas?"


Radit memegang tangan Khaira, mengisi sela-sela di jarinya dan mengisinya dengan jemarinya. "Beberapa hari lalu aku baru mau mengatakan ini, tetapi aku gak mau membuatmu tidak nyaman. Sekarang malahan kamu yang mengatakannya. Iya, aku anterin yuk..."


Akhirnya Radit dan Khaira mengunjungi tempat praktek Dr. Indri di salah satu rumah sakit Ibu dan Anak di Jakarta. Sesampainya di sana, Khaira dan Radit menunggu sejenak hingga nomor antrian tiba.


Begitu tiba gilirannya, mereka berdua memasuki ruangan praktek Dokter Indri.


"Halo Bapak, Ibu Khaira ketemu lagi di Jakarta, setelah dua tahun lalu bertemu di Manchester." sapa Dokter itu dengan ramah.


"Iya Dok, ketemu lagi di sini." jawab Khaira yang turut tersenyum.


"Ada yang bisa dibantu Bu?"


"Saya mau melepas implan sebelumnya saya pasang di Manchester dulu, Dok. Karena kami sudah ada di Jakarta, jadi mau serius program hamil." ucap Khaira.


"Tahan sebentar ya Bu, bisa tahan nafas saja Bu...." ucap Dokter itu.


"Nah, implannya sudah saya lepas ya Bu. Nanti setelah implan dilepas tentu akan terasa nyeri di tangan sama saat dulu pertama memasangnya, bahkan bisa bengkak ya Bu. Gejala lainnya adalah terjadinya sakit kepala, kondisi ini terjadi lantaran steroid yang terkandung dalam hormon di dalam implan itu sendiri, sehingga menyebabkan hormon jadi tidak stabil. Usai dilepas, maka tubuh akan berada dalam fase mengembalikan kadar hormon yang normal, sehingga proses ini menyebabkan sakit kepala. Yang terakhir adalah siklus menstruasi tidak langsung kembali. Jadi kemungkinan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk mengembalikan masa subur. Akan tetapi, jika Ibu sudah bisa langsung menstruasi artinya tidak ada kendala dalam masa subur."


Penjelasan yang diberikan Dr. Indri sangat jelas dan detail, sehingga membuat Khaira dan juga Radit belajar lebih banyak tentang kontrasepsi. Sebagai pasangan muda mereka memang membutuhkan banyak edukasi, termasuk tentang seputar kehamilan.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan Bu?" tanya Dokter itu kepada Khaira dan Radit.


"Kalau untuk program hamil apakah yang sebaiknya dilakukan ya Dok?" lagi Khaira bertanya kepada Dr. Indri.

__ADS_1


Dr. Indri memandang Radit dan Khaira sembari tersenyum, kemudian ia kembali menjelaskan berbagai kiat untuk melancarkan program kehamilan.


"Dalam mendapatkan buah hati atau program hamil Bapak dan Ibu tentunya harus menjaga kesehatan, tidur cukup, mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat. Pastikan Anda mengonsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, susu rendah lemak, makanan berprotein dan kaya akan zat besi. Hindari makanan siap saji serta minuman bersoda. Batasi juga asupan gula dan kafein. Meningkatkan frekuensi hubungan suami-istri, dan tentunya berdoa. Karena dalam mengharapkan buah hati ada campur tangan Allah ya Bapak dan Ibu. Usaha manusia dibarengi dengan doa, jika sudah diridhoi Allah maka semua akan dilancarkan." ucap sang Dokter.


"Amin." Radit dan Khaira sama-sama mengamini penjelasan Dr. Indri. Ya tentu saja, dalam usaha manusia dibutuhkan perkenanan Allah, jika Dia, Sang Pemilik Hidup telah berkenan maka itulah yang akan terjadi.


"Ya sudah, terima kasih ya Dok. Doakan juga semoga beberapa bulan lagi kami bisa kesini dengan kabar gembira dan pemeriksaan lainnya ya Dok." pamit Khaira kepada Dr. Indri.


"Iya Bu... Semoga dilancarkan semuanya." sahut Dokter tersebut.


Usai mengakhiri sessi konsultasi dan akhirnya keduanya kembali memasuki mobilnya.


"Pasti sakit ya Sayang? Lukanya di lengan itu," tanya Radit sembari wajahnya seakan menahan perih. "Tadi disayat di situ buat ngeluarin jarumnya. Aku yang lihat aja ngilu."


Khaira tertawa. "Ya sakit lah Mas, teriris pisau aja sakit kok, apalagi ini. Sakit Mas...." ucapnya agak manja. Sejujurnya ia hanya ingin menggoda suaminya saja.


"Jangan buat banyak aktivitas dulu ya Sayang, takut kalau bengkak lengannya," ucapnya sembari mengelus lembut puncak kepala Khaira. "Apa perlu besok aku ambil cuti?"


Khaira menggelengkan kepalanya. "Enggak perlu Mas, baru juga kerja dua hari masak mau cuti. Gak enak sama Ayah. Gak papa Mas, aku kan enggak sakit parah, anggep aja cuma teriris pisau."


"Ya, tetep aja aku khawatir," jawabnya.


"Kan di rumah ada Bunda. Lagian Bunda baik kok, aku kalau nemenin nonton TV malahan sering disuruh ke kamar istirahat. Jadi gak papa."


Akhirnya Radit mengalah, hasrat hati ingin menemani istrinya, tetapi Khaira sudah menolaknya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Oh iya, kalau gejala yang lain timbul kamu kabarin aku ya. Aku cuma takut kamu sakit kepala atau nyeri menstruasi, jangan ditahan sendiri, kan kita udah janji bakalan terbuka satu sama lain. Membagi apa pun yang kita jalani dan rasakan. Manfaatkan aku sebisamu. Oke."


Khaira mengangguk kepalanya. "Iya-iya, Maskuw... Kalau ada apa-apa bakalan aku kabarin deh."


__ADS_2