
Sekian jam lamanya Radit habiskan untuk mencari bubur ayam. Bubur ayam biasanya adalah menu pilihan untuk sarapan, sementara hari telah beranjak sore tentu saja tidak mudah menemukan bubur ayam di waktu menjelang petang.
Akan tetapi, lantaran sudah berjanji akan membelikan bubur ayam untuk Felly maka Radit pun terus mengendarai sepeda motornya hanya untuk bisa mendapatkan bubur ayam. Radit bahkan sengaja mengendarai sepeda motornya pelan-pelan, sapa tahu ia bisa menemukan penjual bubur ayam yang sering berhenti di pinggir jalan.
Cukup lama Radit memutari jalan, sembari ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri mencari makanan yang diinginkan Felly, hingga akhirnya Radit bisa menemukan bubur ayam. Dengan segera ia memesan satu bungkus bubur ayam, membayarnya dengan segera, lalu ia berputar arah untuk kembali pulang ke rumah.
Begitu sampai rumah, Radit segera masuk dan memindahkan bubur ayam itu ke dalam mangkok.
"Yang, kamu baru ngapain? Aku muter jauh banget buat beli bubur ayam ini." ucap Radit sambil memasuki kamar Felly.
Begitu ia masuk, rupanya Felly tengah pura-pura tertidur.
"Ayo bangun dulu, dimakan dulu dong bubur ayamnya. Udah dibeliin juga jauh-jauh masak enggak dimakan sih?" ucap Radit sembari duduk di tepi tempat tidur Felly.
Akhirnya Felly pun terbangun dan ia sekali lagi bersandiwara lagi menampakkan wajahnya yang menahan sakit karena maagnya kambuh.
"Maaf ya Ay, kamu jadi repot gara-gara aku minta bubur ayam ini." ucapnya sembari merajuk.
"Enggak apa-apa, selama masih bisa dicari walau jauh tetep aku carikan kok. Ya udah dimakan ya. Aku mau di ruangan depan nonton tv."
Lalu Radit beranjak pergi dari kamar Felly, dan ia memilih menyetel televisi yang berada di ruang tamu. Radit mengganti-ganti chanel saluran televisi, mencari tontonan yang sesuai keinginannya. Saat televisi menyiarkan pertandingan speak bola, barulah Radit teringat dengan Khaira.
"Ya ampun Khai, aku sampai lupa mengabarimu." gumamnya sembari menepuk-nepuk dahinya yang seketika lupa bahwa ia memiliki janji dengan Khaira. Bahkan ia juga lupa untuk mengiriminya pesan bahwa ia membatalkan rencana hari ini.
Radit segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handphonenya. Sesampainya ia bisa menemukan handphonenya, dia segera men-scroll nama Khaira.
Dengan segera, Radit berusaha menelpon nomor Khaira, tetapi nomornya tidak aktif.
"Kenapa handphone kamu tidak aktif Khai? Apa aku lagi-lagi menyakitimu? Aku benar-benar lupa Khai..." gumamnya sembari mengusap wajahnya secara kasar.
"Ayo jawab Khai, kenapa handphone kamu tidak bisa dihubungi."
Radit nampak frustasi lantaran berkali-kali mencoba menghubungi Khaira tetapi tidak pernah tersambung.
__ADS_1
"Ayo jawab Khai..." Radit masih bergumam, tetapi hasilnya tetap nihil. Handphone Khaira sudah tidak aktif.
Radit pun akhirnya memilih untuk mengirimkan pesan kepada Khaira, pasti ketika handphonenya sudah aktif, dia akan langsung membacanya.
[Sorry, Mas tiba-tiba ada keperluan mendadak.]
[Kamu tidak marah kan?]
[Sekali lagi sorry.]
[Kalau senggang, Mas akan ke rumah.]
Pesan itu segera ia kirim kepada Khaira, walau pun hanya tercentang satu.
"Semoga kamu segera membacanya dan tidak terlalu marah. Sorry, aku selalu menyakitimu."
***
Lagi-lagi harus dikecewakan oleh suaminya sendiri. Menjadi istri yang memang tidak diprioritaskan seolah sedang menggenggam bara api di tangan. Jika bara api dilemparkan tangan kita tetap terluka, sementara apabila kita berusaha menahannya tangan kita sendirilah yang akan terbakar.
Bertahan sulit, ingin mengakhiri pun tidak bisa. Posisi yang serba sulit.
Khaira hanya duduk di depan televisi sembari melihat pertandingan sepak bola yang disiarkan oleh salah satu saluran televisi saat itu.
"Harusnya hari ini bisa nonton pertandingan ini. Bukan pertandingannya yang aku sesalkan, tetapi kamu yang ingkar janji dan tanpa kabar apa pun yang membuatku terluka dan kecewa lagi dan lagi, Mas. Jauh lebih baik bila kamu tidak menjanjikan apa pun padaku dan aku juga tidak akan mengharapkan apa pun darimu. Selamanya kita hanya orang asing yang sama-sama terjebak dalam hubungan yang rumit ini." ucap Khaira lirih sembari tersenyum getir.
Sekian jam Khaira habiskan di depan televisi, dengan perasaannya yang kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.
Usai pertandingan sepak bola yang ia tonton selesai, Khaira memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk tidur. Berharap esok pagi akan jauh lebih baik dan luka di dalam hatinya akan sembuh dengan bergantinya hari.
***
Keesokan harinya Khaira bangun pagi dengan perasaannya yang sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
Kesedihan sehari cukuplah untuk sehari, hari yang baru akan Khaira sambut dengan pengharapan yang baru juga.
Sekian lama berlalu, Khaira kesepian di dalam rumah. Kesehariannya nyaris hanya berada di dalam kamar.
Mengisi kekosongannya, Khaira berniat untuk pulang ke rumah Ayah Ammar dan Bunda Dyah hari ini. Sekaligus melepas rindu kepada orang tuanya.
Khaira bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Setelah selesai mandi dan bersiap dengan tasnya, Khaira segera masuk ke mobil dan bergegas ke rumah Ayah dan Bundanya. Hari yang masih pagi membuat Khaira menyetir mobil tanpa gangguan. Berkendara selama kurang lebih 40 menit, dan kini Khaira telah sampai di rumahnya.
"Ayah... Bunda... Khaira datang." sapanya sembari mengetuk pintu rumahnya.
Bunda Dyah yang mendengar suara Khaira langsung bergegas ke depan. Perempuan paruh baya yang masih cantik itu, merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan Khaira ke dalam pelukannya.
"Eh, anak Bunda datang...." Bunda Dyah memeluk dan mengelus lembut punggung Khaira. "Menantu Bunda mana tidak ikut? Kamu sendirian?" tanya Bunda Dyah dengan matanya yang masih mengamati mobil Khaira.
"Khaira datang sendiri Bunda, Mas Radit lembur hari ini." ucap Khaira yang berusaha menyembunyikan kebenaran sesungguhnya dari kedua orang tuanya.
"Ayah.... Anak kesayangan kita datang nih." teriak Bunda sembari masuk ke dalam rumah.
Ayah Ammar yang semula sibuk dengan koran di tangannya, segera meletakkan koran itu ke atas meja.
Layaknya seorang anak kecil, Khaira berlalu dan memeluk Ayah Ammar.
"Anak Ayah..." Ucap Ayah Ammar sambil memeluk Khaira. "Radit mana?" Tanyanya sama seperti Bunda Dyah.
Khaira meregangkan pelukannya, "Ayah dan Bunda sekarang yang ditanyakan Mas Radit deh, padahal aku anaknya loh..." ucap Khaira merajuk.
Ayah Ammar dan Bunda Dyah pun tersenyum, "Karena sekarang Radit juga anak Ayah dan Bunda, Khai. Jadi kami juga menanyakannya."
Khaira hanya bersidekap tangannya di dada. "Padahal Khaira kangen loh sama Ayah dan Bunda, malahan yang ditanyain Mas Radit duluan."
Ayah Ammar yang gemas hanya mengacak lembut rambut Khaira. "Anak Ayah sudah bersuami ternyata masih aja manja ya..." ucapnya gemas.
__ADS_1