
Beberapa hari sepulang dari Singapura, Radit mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Menjelang akhir bulan, banyak sekali laporan keuangan yang harus diaudit. Sehingga beberapa hari belakangan, Radit sering pulang terlambat untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Ma ... kenapa sudah jamnya Arsyila bobok, Papanya belum pulang dari kantor?" tanya Arsyila yang saat itu mencari keberadaan Papanya, lantaran hingga jam 19.00 malam, Papanya ternyata masih belum pulang.
Pantas aja Arsyila mencari-cari keberadaan Papanya karena kesibukan Papanya. Khaira pun menghela napas, dia hanya bisa memberi pengertian kepada Arsyila. Selain itu, Khaira pun tahu pasti bahwa Arsyila merindukan Papanya. Mereka hanya bertemu sebentar di pagi hari, dan selanjutnya baru bertemu di sore hari saat Papanya kerja.
"Papa masih ada pekerjaan Sayang ... Arsyila bobok dulu ya, besok pagi kalau Arsyila sudah bangun sudah ada Papa." Ucap Khaira yang mencoba menenangkan Arsyila.
"Arsyila kan kangen Papa, Ma...." ucapnya dengan menatap wajah sang Mama yang sedang memeluknya.
"Sabar Sayang ... sekarang sudah malam, Syila bobok dulu ya. Besok pagi bisa bertemu Papa lagi." ucapnya sembari mengusap lembut rambut Arsyila.
"Papa besok kerja lagi, Ma ... cuma ketemu saat sarapan. Kan Syila kangen Papa." ucap Arsyila yang bisa menyampaikan isi hatinya kepada Mamanya.
Sebagai seorang Mama, tentu saja Khaira tahu apa yang dirasakan Arsyila saat ini. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat banyak karena memang suaminya tengah sibuk bekerja.
Perlahan Khaira mengusap lembut puncak kepala Arsyila hingga akhirnya putri kecilnya itu tertidur. Di dalam hati, Khaira ingin berbicara dengan suaminya supaya meluangkan waktu untuk Arsyila. Sudah sepekan berlalu dan suaminya masih pulang malam.
Usai menidurkan Arsyila, Khaira kembali ke turun ke bawah menunggu suaminya pulang. Dia duduk di ruang tamu dan menyalakan televisi, sayangnya Khaira tidak bisa sepenuhnya fokus melihat siaran televisi itu. Pikirannya justru berputar-putar memikirkan suaminya apakah suaminya benar-benar lembur. Berusaha menyingkirkan hal buruk, Khaira mengusapi kedua tangannya sendiri.
Menjelang jam 20.00, barusan terdengar suara mobil dari suaminya. Khaira pun bergegas bangkit dan membukakan pintu terlebih dulu.
"Malam Sayang...." ucap Radit begitu telah berdiri di depan pintu.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Malam Mas...." ucapnya.
__ADS_1
Radit seketika langsung naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Pria itu langsung menuju ke kamar mandi, sementara Khaira memilih duduk di ruang tamu. Ada beberapa hal yang perlu dia katakan dengan suaminya, karena itu Khaira memilih menunggu di bawah.
Selang 20 menit, Radit kembali turun dan mendapati istrinya yang hanya terdiam dan melihat televisi, pria itu langsung duduk di sebelah istrinya.
"Kok masih di sini sih? Aku cariin di kamar." ucapnya.
Khaira hanya tersenyum. "Gak apa-apa, aku masih pengen di sini. Sudah makan Mas?" tanyanya kepada suaminya. Pertanyaan rutin yang selalu dia tanyakan setiap suaminya sepulang kerja.
Radit menggelengkan kepalanya. "Belum Sayang ... kerjaan banyak banget, sampai belum makan." ucapnya.
Khaira pun berdiri dan mematikan televisinya. "Makan dulu, aku siapkan." ucapnya sembari berdiri dan menuju dapur.
Baru saja Khaira beranjak, rupanya Radit mencekal tangan istrinya. Membuat istrinya menghentikan langkah kakinya.
"Di sini dulu saja Sayang ... temani aku. Aku kangen." ucapnya sembari membawa tangan Khaira mendarat di sisi wajahnya.
Radit menggelengkan kepalanya. "Aku kangen kamu, Sayang ... maaf ya sepekan ini aku sibuk banget."
"Kamu beneran lembur kan Mas? Bukan berusaha menemukan kesenangan baru di luar sana?" tanya Khaira perlahan.
Bukannya dia mencurigai suaminya hanya saja Khaira memang ingin memastikan suaminya itu benar-benar bekerja lembur dan tidak mencari kesenangan di luar rumah.
Kedua mata pria itu membola saat istrinya melontarkan pertanyaan seperti itu. "Astaga Sayang ... kenapa kamu bertanya seperti ini? Aku enggak mungkin mencari kesenangan di luar rumah ini. Semua yang aku mau ada di dalam rumah. Sini duduk dulu, bicara sama aku kenapa istriku ini bisa berbicara seperti itu."
Sekali pun enggan, Khaira pun juga akhirnya duduk di sebelah suaminya itu. "Kenapa tiba-tiba lembur? Dan ini sudah sepekan. Kasihan Arsyila yang setiap malam nungguin kamu. Kangen sama Papanya. Dia sedih cuma bisa ketemu Papanya saat sarapan." ucap Khaira yang menjadi perpanjangan lidah bagi putri. Menyampaikan apa yang dirasakan Arsyila kepada Papanya.
__ADS_1
Radit mengusap kasar wajahnya, selama bekerjanya rupanya ada hati yang lupa untuk dia jaga. Bukan hanya hati istrinya, tetapi juga hati putri kecilnya.
"Maaf Sayang ... sku lupa. Aku benar-benar lupa untuk menjaga hati Arsyila. Namun, percayalah aku benar-benar bekerja. Aku tidak mencari kesenangan di luar rumah. Ada kamu sebagai Istriku yang selalu menjadi rumah buatku. Rumah untukku pulang. Ada Arsyila yang selalu mewarnai hariku. Kalian berdua adalah penyemangatku." Ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.
Perlahan Khaira bergerak demi melihat wajah suaminya itu. "Yakin?"
Radit segera menganggukkan kepalanya. "Yakin. Tidak ada dan tidak pernah ada. Cuma kamu Sayang."
Berusaha menerima dan mempercayai ucapan suaminya. "Sampai kapan lemburnya Mas?"
"Pekan ini terakhir Sayang ... tidak akan ada lembur lagi usai ini." Jawab Radit dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah ... Arsyila kangen kamu, Mas."
Radit seketika menatap wajah istrinya itu. "Maaf ... aku benar-benar gak punya pilihan lain. Aku juga kangen Syila, lebih dari itu aku juga kangen kamu. Kangen banget sama kamu." ucap pria itu berusaha menyampaikan isi hatinya.
Khaira kemudian kembali berdiri. "Jangan bilang kangen-kangen, kalau perut masih kosong. Ayo, makan dulu nanti asam lambungnya naik lagi."
Khaira berdiri dan menggenggam tangan suaminya itu. "Ayo, makan dulu. Perutnya diisi dulu."
Radit pun berdiri dan mengikuti langkah kaki istrinya yang berjalan ke dapur. Khaira mempersiapkan satu kursi dan menyuruh suaminya untuk duduk. Lalu dia mengambilkan nasi putih di atas piring kosong suaminya dan juga mengisinya dengan sayuran dan lauk pauk untuk suaminya.
Sementara Khaira memilih duduk di sebelah suaminya dan menatap suaminya yang tengah melahap makan malamnya itu. Merasa ditatap, Radit menjeda makannya. "Kenapa liatin suamimu ini?" tanyanya dengan memperhatikan istrinya.
Khaira hanya menggelengkan kepalanya. "Sudah sepekan, aku tidak melihatmu makan malam. Aku kangen lihat pemandangan seperti ini." akunya yang rupanya kangen melihat suaminya makan malam seperti itu.
__ADS_1
Bukan hanya merindukan sosoknya, rupanya Khaira juga merindukan aktivitas keseharian suaminya.
Radit pun tersenyum, satu tangannya terulur menyentuh sisi wajah istrinya. "Tatapanmu membuatku malu, Sayang ... tidak hanya itu, di saat bersamaan, tatapanmu membuatku merasa bersalah. Maaf, sepekan ini aku benar-benar sibuk. Maafkan aku Sayang."