
Beberapa hari setelah acara berbagi kasih di Panti Asuhan, kegiatan rumah tangga Radit dan Khaira masih berjalan sebagaimana mestinya.
Ditambah dengan Arsyila yang semakin lucu dan menambah kebahagiaan kedua pasangan muda tersebut.
"Sayang, kamu masih lama ya? Berapa lama lagi aku harus puasa?" tanya Radit kepada Khaira yang sedang melipati baju-baju Arsyila.
Khaira justru tertawa. "Kenapa Mas? Sudah pusing?" tanyanya syarat akan ejekan.
Radit hanya menghela nafas panjang. "Iya ... aku pusing banget, Sayang. Sudah sebulan lebih. Berapa lama lagi aku bisa buka puasa Sayang?"
Kembali tertawa, Khaira hanya menggelengkan kepalanya. "Sabar dulu Mas ... orang sabar itu disayang Tuhan." jawab Khaira sembari tangan melipati berbagai baju-baju bayi milik Arsyila.
"Berapa lama lagi Sayang, aku harus sabar? Rasanya udah lama banget." Kali ini nampaknya Radit benar-benar menggerutu lantaran sudah puasa begitu lama dan belum ada tanda postpastrum hanya di alami Khaira pasca melahirkan akan segera usai.
Khaira pun berdiri, tetapi bukan untuk menghampiri suaminya. Melainkan dia berdiri untuk memasukkan baju-baju Arsyila ke dalam lemari penyimpan.
"Mas, bisa minta tolong bantuin?" tanya Khaira sembari menolehkan leherkan dan melihat wajah suaminya yang terlihat kusut.
Radit pun segera berdiri dan membantu membawakan tumpukan baju-baju Arsyila, menyerahkannya kepada istrinya untuk kemudian di tata di dalam lemari penyimpanan.
Sejenak Radit pun mengamati betapa istrinya begitu rajin dan terorganisir. Tiap-tiap baju setelan ditempatkan menjadi satu. Sarung tangan dan kaos kaki bayi di tata dan di tempatkan menjadi satu. Semua perlengkapan Arsyila disimpan begitu rapi menurut jenisnya.
Kurang lebih 20 menit Khaira menata lemari penyimpanan Arsyila. Setelahnya mereka berdua kembali berkamar dengan bersandar di headboard.
Radit tanpa banyak bicara langsung menyerukkan kepalanya ke bahu istrinya. "Sayang, aku kangen."
Khaira hanya tersenyum dan mengacak gemas rambut suaminya. "Sabar Maskuw ... semoga enggak lama lagi." ucap Khaira yang mencoba menenangkan.
Dengan mengerucutkan bibirnya akhirnya Radit menghela nafas panjang. "Iya deh, aku sabar. Demi kamu ... aku rela lakuin apapun. Termasuk puasa."
Khaira pun terkekeh geli. "Kamu kalau kayak gini lucu banget sih Mas ... serasa aku punya dua bayi deh."
Radit pun kali ini juga tertawa. "Ladang batinku meronta-ronta Sayang ... kan aku jujur apa adanya sama kamu."
__ADS_1
Sementara Khaira hanya bisa tertawa dan mengacak gemas rambut suaminya itu.
***
Selang beberapa hari, Khaira telah selesai dengan masa postpartumnya. Akan tetapi, dia tidak memberitahu kepada suaminya.
Khaira kali ini diam saja, dia hanya ingin memberi sedikit kejutan untuk suaminya. Dan juga dia berharap Arsyila bisa bekerja sama dengannya yaitu tidak rewel dan bobok nyenyak malam ini.
Ketika sore menjelang, dengan senyuman lebar dia menyambut kedatangan suaminya yang telah pulang dari kantor.
"Selamat sore Papa...." ucapnya saat membukakan pintu sembari menggendong Arsyila.
"Selamat sore juga Queen dan Princess nya Papa..." Ucapnya sembari memasuki rumah. "Papa mandi dulu ya ... abis ini digendong Papa ya."
Radit segera masuk ke kamar mandi, sementara Khaira berkutat di dapur membuatkan cokelat hangat untuk suaminya. Selang lima belas menit, Radit telah keluar dengan wajah yang segar.
"Sini Arsyila Sayang ... ikut Papa yuk. Papa kangen sama Arsyila ... hari ini Arsyila pinter enggak? Cantiknya anak Papa...."
Seperti biasa sepulang bekerja Radit akan berganti menjaga Arsyila, mengajak bayi itu mengobrol, melakukan bounding. Melihat senyuman dan tawa Arsyila, serasa rasa lelahnya bekerja hilang begitu saja.
Bayi yang nyaris terlelap itu tiba-tiba saja tersenyum dan membuat Khaira begitu gemas dengan anaknya itu. Dengan pelan-pelan, Khaira menidurkan Arsyila di dalam box bayi.
Setelah Arsyila terlelap, Khaira lantas menghampiri suaminya yang tengah menonton televisi.
"Arsyila sudah tidur Sayang?" tanya Radit begitu istrinya datang dan duduk di sisinya.
Khaira tersenyum. "Iya sudah ... semoga boboknya lelap Arsyila nya. Kamu nonton apa Mas?" tanya Khaira yang mulai menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
"Lihat film aja Sayang. Aku juga asal kok milih chanel-nya." ucapnya seraya menunjuk film yang tengah berjalan dengan dagunya.
Namun pria itu seolah menelan salivanya saat film yang tengah dia tonton menampilkan adegan ciuman. Khaira yang melihat suami hanya tertawa dalam hati.
Kemudian Khaira sedikit mendekat dan menangkup wajah suaminya. Mensejajarkan wajah keduanya, lalu dengan beraninya dia mendaratkan ciuman dan kecupan lembut di bibir suaminya.
__ADS_1
Ciuman yang diberikan penuh kelembutan dan membuat keduanya sontak memejamkan mata, merasakan setiap buaian yang menyatu melalui ciuman, *******, dan kecupan yang sama-sama mereka lakukan.
Merasakan start awal yang dilakukan istrinya, Radit pun tersenyum. Dengan segera ia mengambil alih kendali, membuka mulut dan membalas ciuman yang dilakukan oleh istrinya.
Tubuh pria itu bagai terserang aliran listrik ribuan volt. Hampir dua bulan lamanya berpuasa, dan kini hanya sebatas ciuman saja seluruh tubuhnya bagai tersengat arus listrik.
Menjeda sejenak aktivitasnya. "Apa sudah boleh Sayang?" tanyanya dengan suara yang terdengar parau dan dalam di telinga Khaira.
Khaira hanya tersenyum dan memberi sedikit anggukan. "Mau ambil hadiahnya sekarang? Mumpung Arsyila baru bobok." Bisik Khaira di telinga suaminya.
Radit pun tersenyum penuh makna, dengan segera ia mematikan televisi dan segera membopong istrinya ke tempat tidur. "Yakin, mau kasih hadiah buat aku?" tanyanya sembari mendaratkan istrinya di atas tempat tidur.
Khaira mengerlingkan satu matanya. "Iya... euhm, tetapi bagian 'atas' gak boleh disentuh ya."
Tanpa menunggu waktu lama, pria itu segera mengungkung istrinya. Tangannya bergerak merasakan setiap inci kulit Khaira yang terasa begitu lembut di tangannya. Dalam ciumannya yang dalam, dia berusaha melepas satu per satu pakaian mereka kenakan.
Kecupan dan ciuman yang dia lakukan sukses membuat Khaira memejamkan mata dan menggerakkan kakinya dengan gelisah. Radit mengingat ada bagian yang tidak boleh ia sentuh, walaupun dia begitu ingin menyentuh, merasai, bahkan membawa kedua bentuk seukuran buah persik ke dalam rongga mulutnya, tetapi dia menahannya.
Tanpa menunggu waktu, Radit menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya, merengkuhnya dan melancarkan aksinya dengan menghentak dan menghujam dengan begitu dalam. Cawan surgawi yang selama ini dia rindukan setelah sekian waktu lamanya. Hujaman dan desakan yang dia berikan dengan rengkuhan kuat pada tubuh sang istri.
Keduanya sama-sama memejamkan mata dan menahan suara yang muncul supaya tidak mengganggu bayi kecilnya yang tengah tertidur. Yang Khaira rasakan hanya mampu membawa kedua tangannya balas merengkuh suaminya.
Wanita itu hanya mampu menggigit bibir bagian dalamnya saat ia merasa terombang-ambing dalam gelombang cinta yang dihasilkan melalui gerakan seduktif yang dilakukan oleh suaminya.
Radit semakin kuat merengkuh tubuh istrinya dan bergerak semakin dalam. Hingga dia merasakan remasan di bawah sana yang membuat dia semakin gelap mata.
Kesan erat. Hangat. Adalah semua rasa yang bisa memuaskan ladang batinnya. Semua itu membuat Radit kian menggebu hingga merasa ia berada di batas akhir pertahanannya. Radit pecah. Meledak. Dalam semua indahnya nektar cinta yang telah lama ingin ia teguk bersama dengan istrinya.
Menstabilkan deru nafasnya, Radit menelisipkan rambut Khaira ke belakang telinganya. "Terima kasih hadiahnya Sayang ... akhirnya puasaku berakhir. Love U Sayang...."
Khaira turut menangkup wajah suaminya. "Wajahnya jadi ceria banget sih usai dapat hadiah..."
"Siapa juga yang tidak ceria saat dapat hadiah kayak gini. Dikasih tiap hari aku juga mau Sayang...." Ucapnya sembari mendaratkan ciuman di bibir istrinya yang mulai membengkak karena ulahnya itu.
__ADS_1
Khaira lantas mencubit hidung suaminya. "Suami paling modus sedunia ... Love U Mas Radit ... Love U Papa." balasnya sembari kian erat memeluk pria hebat yang menemani dan mencintainya dengan sepenuh hati itu.