Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Menunggu Maaf


__ADS_3

Khaira terus berjalan mempercepat langkah kakinya. Pertemuan nyata bukan sebatas khayalan justru membuat hatinya tidak tenang. Ditambah sekarang, pria yang adalah suaminya itu tengah mengikutinya. Radit membuktikan perkataannya untuk tetap mengikuti Khaira.


Radit tetap tenang mengikuti Khaira, ia sangat tahu bahwa Khaira pasti tidak akan mudah memaafkannya. Tetapi, kali ini dia akan bertahan. Dia akan menunggu hingga istrinya bisa memaafkannya.


Sementara Khaira semakin mempercepat jalannya. Hidupnya yang tenang, tiba-tiba terpaan angin kembali datang. Khaira segera ingin kembali ke apartemennya untuk menghindari Radit.


"Khai, tunggu aku... Khai... Tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku kesini ingin meminta maaf kepadamu secara langsung." Radit memanggil-manggil nama Khaira sembari terus berjalan, tetapi yang empunya nama masih tidak menghiraukannya.


"Cukup Mas. Tolong pergi dari sini. Jangan mengejarku lagi." Khaira berbalik dan menatap tajam suami yang kini berdiri di hadapannya itu.


"Aku akan mengejarmu, Khai. Aku tidak akan berhenti sampai kamu memaafkanku," ucapnya dengan suara penuh penyesalan.


"Terserah. Aku akan masuk. Mas Radit bisa menunggu di sini, itu pun jika tidak keberatan untuk kedinginan di tempat ini."


Khaira sungguh-sungguh melangkah pergi dan meninggalkan Radit di tepi jalan yang berada tepat di depan pintu masuk apartemennya.


"Aku akan menunggu di sini, Khai...." teriakkannya cukup terdengar di telinga Khaira, tetapi gadis itu masih enggan berbalik. Ia memilih masuk ke dalam apartemennya.


Sesampainya di apartemennya. Pada salah satu kaca jendela yang mengarah langsung ke jalanan itu ia melihat Radit masih berdiri dengan tangannya yang bersidekap di dada dan kakinya seolah-olah menginjak tiap batu kerikil yang berada di hadapannya.

__ADS_1


Di dalam kamarnya, Khaira justru merasa tidak tenang. Dirinya bimbang saat ini, berdiri di antara pilihannya yang sulit. Menerima permintaan maaf dari suaminya sendiri atau tidak. Membiarkan suaminya itu tetap berdiri di tengah musim dingin yang menggigil atau mempersilakan suaminya masuk ke dalam apartemennya.


Khaira memijat-mijat pelipisnya yang terasa pusing dan kebimbangan yang ia alami. Hatinya masih merasa kesal, tetapi di satu sisi dia juga tidak tega melihat suaminya berdiri di tengah musim dingin.


Menit berganti menit, jam pun berganti jam. Hari yang semula masih sore kini berganti menjadi malam. Khaira kembali berjalan menuju ke jendela di kamarnya, ia masih melihat Radit masih berdiri di tempat yang sama seperti tadi. Sudah 2 jam berlalu, dan Radit masih berdiri di tengah dinginnya musim kalau itu dan angin dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.


Sementara di luar, Radit terus bertahan. Musim dingin ini tidak seberapa dengan penderitaan yang ia berikan pada Khaira. Sebisa mungkin ia akan bertahan. Bahkan pria itu sudah kehilangan akal sehatnya. Dia bahkan tak peduli jika ia bisa saja terkena Hipothermia (kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35°C. Ketika suhu tubuh berada jauh di bawah normal (37°C), fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya akan mengalami gangguan. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan sistem pernapasan, dan bahkan kematian).


Hanya satu yang Radit pikirkan saat ini adalah Khaira bisa menerima dan memaafkannya. Sekali pun ia harus melakukan hal ekstrem, itu tidak masalah baginya. Ia bahkan sangat bersemangat sejak melihat wajah Khaira. Wajah yang selama ini ia rindukan, wajah yang selama ini ia mimpikan dalam malam-malam panjangnya. Wajah yang membuatnya menjadi gila, hanya Khaira yang bisa membuat seorang Radit bertahan hidup.


"Kita lihat Khaira, siapa yang menang. Keteguhan hatimu atau keras kepalaku. Tidak peduli seberapa lama aku berdiri di sini, tetapi aku akan menang, Khai...." gumamnya sembari berdiri di tengah dinginnya malam itu.


"Aku mau lakukan apa pun untukmu Khaira. Aku gak akan mundur lagi. Aku sudah pergi sejauh ini, aku meninggalkan semua dan menyusulmu kemari. Jadi, aku tidak akan mundur. Aku akan berusaha semampuku, dan aku akan membuktikan bahwa perasaanku ini adalah cinta, Khaira. Aku cinta sama kamu, Khaira..." Radit terus bergumam, sembari ia melangkah di Adelphine Street, berjalan kesana kemari untuk mengurangi rasa dingin yang mulai menyerangnya.


Khaira masih dilema, namun saat ia masih enggan mengambil keputusan. Salju tiba-tiba turun, suhu udara turun di kisaran 8°C hingga 4°C. Pasti tidak mudah bertahan di tengah turunnya salju dan suhu udara yang dingin.


Sementara di luar salju yang turun perlahan, kini mulai menebal. Badan-badan jalan hingga tertutup. Sekitaran apartemen itu juga mulai sepi, karena hari sudah malam dan begitu tebalnya salju yang turun.


Radit pun tidak memungkiri bahwa pertahanannya mulai goyah. Beberapa kali pria itu berjongkok. Kakinya terasa pegal sekaligus menggigil.

__ADS_1


Melihat dari balik jendela beberapa kali Radit berjongkok, tetapi masih tetap berada di luar sana. Akhirnya Khaira menyambar coatnya, dengan segera ia berlari keluar. Bahkan menuruni anak tangga pun, ia berlari.


"Kenapa sih kamu ngeyel banget!" ucapan itu keluar begitu saja ketika Khaira telah kembali menemui Radit di depan apartemennya.


Dalam hatinya Radit tersenyum, "Kali ini keras kepalaku yang menang, Khai...." gumamnya dalam hati dengan euforia kemenangan yang ia rasakan. Berjam-jam ia berdiri dan kedinginan, dan lihatlah Khaira pun kembali turun untuk menemuinya.


"Tahu enggak sih, saljunya turun setebal ini dan masih aja berdiri di sini. Keras kepala banget sih." Khaira langsung menyambar tangan Radit dan membawanya masuk ke apartemennya.


Di dalam kamar apartemennya di lantai empat, Khaira langsung membuka pintu. Sembari masih menggenggam tangan suaminya.


"Duduk dulu Mas."


Sementara Radit seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dia mengikuti saja instruksi yang diucapkan Khaira. Radit langsung mendudukkan dirinya di kursi, namun dalam hatinya pria itu begitu bahagia. Sekali pun Khaira mengomel, tetapi istrinya masih memperhatikannya dan tidak membiarkannya mati kedinginan karena Hipothermia.


Khaira langsung menggambil heater portabel dari lemarinya, memasangkannya di dekat Radit supaya tubuhnya menjadi hangat. Setelah itu Khaira bahkan menyeduh teh jahe hangat dan memberikannya kepada Radit.


"Diminum mas...." ucapnya sembari menyerahkan secangkir teh jahe di atas meja.


Baru saja Khaira berbalik, tangannya di tahan Radit. Pria itu bahkan sedikit menarik tangan Khaira, hingga kini gadis itu terjatuh dan tidak sengaja duduk di pangkuan suaminya.

__ADS_1


Mata Khaira membelalak, dengan posisi keduanya saat ini. Sementara Radit justru bahagia, dengan segera ia merengkuh Khaira dalam pelukannya.


"Aku kangen banget sama kamu, Khaira...."


__ADS_2