
Hari telah berganti, masih ada sekitar tujuh hari menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL) Baby A.
Di usia kehamilan yang semakin tua, Khaira kerap kali ke kamar mandi lantaran lebih sering buang air kecil. Selebihnya Khaira masih sehat dan beraktivitas di dalam rumah dengan normal.
Siang ini, usai makan siang Khaira masuk ke kamar mandi. Bumil itu memasuki kamar calon baby nya dengan tersenyum hangat sembari mengusap lembut perutnya.
"Jadi kapan Baby A akan lahir? Lihat nih Sayang, kamar buat kamu sudah siap. Papa dan Mama sudah siapkan semuanya, Kakek dan Nenek kamu juga sudah berikan banyak kado. Kalau Baby A mau lahir, Mama sudah siap. Nanti kita berjuang bersama-sama ya. Kamu bakalan merubah hidup Mama dan Papa. Kamu membesarkan kami, mengajari kamu menjadi orang tua. Dan, kami akan membesarkanmu dengan cinta dan kasih sayang yang tulus, mengisi tangki air cinta kamu sampai melimpah." ucap Khaira yang berbicara dengan baby nya.
Usai mengusap perutnya dan berbicara dengan Baby A, Khaira mengambil koper yang berisikan perlengkapan bayi yang akan dibawa untuk persalinan nanti baju bayi, kain bedong, diapers, hingga tissue ia masukkan ke dalam satu koper.
Setelahnya Khaira juga menata untuk keperluannya baju ganti, hingga diapers untuk dewasa. Semua Khaira persiapkan dalam satu tas, tidak lupa ia memasukkan pakaian ganti untuk suaminya. Sehingga tidak perlu repot bolak-balik ke rumah.
Baru saja menata-nata perlengkapan dalam tas lengkap, Khaira tiba-tiba merasa perut dan pinggangnya terasa sakit. Rasanya perih dan melilih, Khaira mencoba menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan sembari ia mengusapi perutnya.
"Adek apa mau lahir? Kalau mau lahir hari ini Baby A berikan gelombang cinta buat Mama ya?" ucapnya sembari tersenyum dan menahan rasa sakit di perut dan pinggangnya.
Rasa sakit di area bawah perut dan pinggang yang terkadang datang, terkadang juga hilang membuat Khaira melihat aplikasi pendeteksi kontraksi secara digital di handphone. Wanita hamil itu juga berjalan-jalan di sekitar kamar. Saat rasa sakit itu datang, Khaira mengambil nafas dalam-dalam, dan mengeluarkan perlahan melalui mulutnya. Sembari tangannya mengelus lembut perutnya. "Baby A, apa mau lahir hari ini? Nunggu gelombang cinta dari kamu mulai datang lebih sering ya Sayang, abis itu Mama akan telepon Papa."
Usai mengatakan itu, Khaira masih mencoba melakukan jongkok dan berdiri di dalam kamarnya, untuk menambah pembukaan. Namun, saat kontraksi itu datang lagi, Khaira menyandarkan dirinya di sofa. Rasa sakit yang datang dan menekan bawah perutnya terasa lebih sering, hingga badannya pun mengeluarkan keringat dingin setiap kali kontraksi itu datang.
Melihat catatan kontraksi yang lebih sering di aplikasi digitalnya, Khaira memilih untuk segera berganti baju. Betapa takjubnya dia ketika hendak berganti baju, ia mendapati bercak darah di ****** ********. Khaira masih berusaha tenang, mengganti pakaiannya lalu segera menunggu di kamar, ia akan mulai menelpon suaminya.
__ADS_1
Mas Radit
Calling
[Halo Mas...] Sapa Khaira begitu panggilan selulernya tersambung.
[Ya, halo Sayang... Kenapa?] jawab Radit di seberang sana.
[Euhm, bisa pulang ke rumah sekarang Mas? Kayaknya Baby A udah kasih sinyal nih Papa ... bisa pulang?] Khaira berkata dengan cukup tenang, supaya suaminya tidak panik dalam perjalanan pulang nanti.
[Ya Sayang, aku akan izin sekarang juga. Kamu tahan ya. Tunggu aku.]
Walaupun Khaira telah mengatakan dengan tenang, nyatanya Radit tetap merasa cemas. Dengan segera ia meminta izin dan segera pulang ke rumah. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada istrinya.
"Sayang, gimana?" tanya Radit begitu sampai di rumah.
Istrinya masih mengusahakan tersenyum, sembari menahan rasa sakit. "Masih bisa nahan kok, Mas ... ke Rumah Sakit sekarang yuk Mas? Aku sudah hubungi Dokter Indri juga tadi."
"Iya, ayo..." dengan cukup tergesa-gesa, Radit memasukkan dua tas besar yang sudah disiapkan Khaira, lalu pria itu merangkul bahu istrinya masuk ke dalam mobil. "Gimana rasanya Sayang? Sakit banget ya?" tanyanya sembari mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Khaira pun tersenyum. "Waktu kontraksinya datang, sakit banget di bawah perut dan pinggang, Mas. Tadi waktu aku ke kamar mandi, di ****** ***** aku juga ada bercak darahnya. Kontraksinya juga lebih sering rasanya."
__ADS_1
Baru selesai Khaira berbicara, gelombang cinta dari Baby A datang yang membuat Khaira kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya mengusap-usap perutnya dengan lembut. Wajah Khaira hingga memerah menahan rasa sakit yang datang begitu kuat.
"Sabar ya Sayang... Baby A sabar dulu ya, sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit." ucap Radit sembari satu tangannya turut mengusap-usap perut Khaira.
Begitu sampai di Rumah Sakit, Khaira langsung ditangani oleh Dokter Indri.
"Bagaimana Bu, kontraksinya lebih intens ya? Kita lakukan cek dalam untuk melihat pembukaannya ya Bu?" ucap Dokter Indri yang hendak melakukan pemeriksaan cek dalam.
"Dengar instruksi saya ya Bu. Tolong kedua paha dibuka, tarik nafas dalam-dalam dan tahan, bisa pegangan ke tangan suaminya ya."
Khaira pun melakukan instruksi dari Dokter Indri tersebut, dan ketika Dokter melakukan cek dalam, sontak Khaira langsung menggenggam erat tangan suaminya sembari memenjamkan mata, merasakan sakit di **** *************.
"Sudah pembukaan lima ya Bu. Ternyata pembukaannya lebih cepat. Jika sesuai prediksi mungkin lima hingga delapan jam lagi waktunya bersalin. Ibu bisa istirahat di sini dulu, miring ke kiri ya Bu karena berbaring ke kiri agar lebih rileks, melancarkan peredaran darah, serta meredakan sakit akibat kontraksi. Selipkan bantal di bagian perut hingga lutut. Jika lelah, bisa putar posisi miring ke kanan. Nah, jika sakitnya datang, Bapak bisa tolong mengusap bagian punggung Ibu ya. Setiap satu jam saya akan cek, saya akan menunggu dan menangani sendiri proses kelahirannya nanti." ucap Dokter Indri yang memberikan instruksi kepada Radit dan Khaira.
Begitu Dokter Indri telah melakukan pemeriksaan cek dalam, tinggallah Radit dan Khaira di kamar perawatan mereka.
"Gimana Sayang? Aku menghubungi Ayah dan Bunda sekarang ya?"
Khaira segera menggelengkan kepalanya. "Dihubungi nanti saja Mas, aku butuh kamu Mas. Temani aku ya." ucap Khaira yang mulai menahan rasa sakit hingga beberapa kali ia menautkan gigi-giginya.
Radit pun mengurungkan niatnya untuk tidak menghubungi orang tua dan mertuanya. Pria itu sibuk sendiri untuk menenangkan istrinya, ketika gelombang cinta dari Baby A itu datang, Radit akan mengusap punggung istrinya, membiarkan tangannya dicengkeraman kuat oleh istrinya.
__ADS_1
Dalam hatinya, Radit berharap istrinya bisa berjuang hingga buah hati mereka bisa lahir dengan sehat, lengkap, dan sempurna. Jika bisa menggantikan posisi Khaira saat ini, Radit akan menggantikan posisi istrinya yang berjuang dihantam rasa sakit setiap kontraksi itu datang.