Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Happy Holiday


__ADS_3

Akhir pekan yang dinantikan pun tiba. Hari ini Radit dan Khaira bersiap untuk menikmati liburan ke Pantai Marbella, di Anyer. Menemani Metta yang tengah mengandung dan ingin liburan dengan sahabatnya, Khaira.


Pada liburan kali ini Radit hanya pergi bersama Khaira. Sebenarnya mereka ingin membawa serta Arsyila, tetapi kedua orang tuanya menyuruh mereka pergi berdua. Menurut Bunda Ranti, Radit dan Khaira juga membutuhkan liburan berdua. Usai melahirkan dan beberapa saat yang lalu Radit sempat mengalami kecelakaan yang pasti mengguncang Khaira, jadi Bunda Ranti memaksa anak dan menantunya untuk liburan berdua.


"Kalian pergi saja berdua, Syila aman bersama Eyangnya di sini. Dit, bahagiakan Khaira ... sekalipun Khaira tidak banyak mengeluh, Bunda tahu di dalam hatinya dia butuh liburan sejenak. Recharge kembali energinya dengan liburan berdua. Khaira juga perlu jeda dari rutinitasnya, kamu bahagiakan Istrimu." nasihat Bunda Ranti secara pribadi kepada Radit.


Dalam hati pun, Radit tahu bahwa istrinya memang tidak pernah mengeluh. Keluhan Khaira hanya terlihat dari air matanya. Ya, Radit sangat tahu, istrinya memang bukan tipe wanita yang mengeluh dengan mulutnya, tetapi dulu saat dia tengah sakit pasca kecelakaan, Radit ingat betul saat tengah malam dia mendengar istrinya terisak. Akan tetapi, Radit hanya berpura-pura tidur walaupun tangannya masih melingkari pinggang istrinya. Namun, istrinya memang belum mau berbagi dengannya. Mengingat kejadian yang memang membuat istrinya bersedih itu, Radit akhirnya mengikuti saran Bundanya dan liburan hanya berdua dengannya Khaira.


"Yakin Mas, kita pergi hanya berdua saja? Nanti kalau Arsyila rewel gimana?" tanya Khaira yang tetap saja mengkhawatirkan Arsyila. Sebagai seorang Ibu, sudah wajar apabila tidak bisa meninggalkan putrinya terlalu lama.


Radit pun tengah mengemudikan mobilnya, menoleh sejenak kepada Khaira. "Gak papa Sayang ... kalau urgent nanti kita pulang duluan. Kita pacaran lagi Sayang. Mumpung hanya berdua kan." ucap pria itu sembari menautkan jari jemarinya ke tangan istrinya.


Khaira pun tersenyum. "Udah punya anak, masih pacaran aja Mas...." ucap Khaira sembari menggelengkan kepalanya.


Tidak terasa, perjalanan selama 2 Jam 21 menit telah mereka tempuh. Mendekati daerah Anyer, Khaira melihat pada Pantai yang sesekali terlihat dari bahu jalan. Rasanya sudah sangat lama dia tidak piknik ke Pantai.


"Kapan terakhir kali kamu ke Pantai, Sayang?" tanya Radit kepada istrinya itu.


"Udah lama banget sih Mas ... terakhir waktu SMP mungkin. Saat liburan ke Jogja, waktu itu diajakin saudara ke Pantai Parangtritis di Jogjakarta. Setelah itu baru kali ini ke Pantai lagi." ucapnya sembari mengenang saat dia mengunjungi Pantai Parangtritis di Jogjakarta saat masih SMP.


Radit pun tertawa. "Serius? Dari SMP sampai punya anak, baru kali ini ke Pantai lagi?" Tanyanya seolah tidak percaya.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... serius." jawab Khaira.

__ADS_1


Dalam hatinya, Radit sungguh tak menyangka istrinya ternyata sudah lama sekali tidak ke Pantai. Entah mengapa rasanya Radit bahagia, dia bisa mengajak istrinya liburan berdua. Walaupun masih di kawasan Jakarta, tetapi liburan tidak perlu jauh-jauh bukan?


"Nanti main air mau enggak Sayang?" tanya Radit sembari menoleh melihat istrinya yang sedang melihat pemandangan dari balik jendela kaca mobilnya.


Dengan segera Khaira menggelengkan kepalanya. "Ogah ... gak mau basah-basahan aku, Mas." tolaknya dengan cepat.


Tinggal berselang lama, mereka telah sampai di Pantai Marbella. Setelah cek in di Hotel Marbella, menaruh barang-barang mereka. Selanjutnya mereka berjalan keluar melihat-lihat suasana Pantai yang begitu indah dan bersih itu.


Angin bertiup sepoi-sepoi, deburan ombak memercikkan air yang menyapa dua pasang kaki yang sedang menyelusuri Pantai berpasir putih itu dengan kaki telanjang. Cakrawala berwarna biru di atas dan Pantai berwarna biru di bawah berpadu menciptakan paduan indah layaknya batu sapphire. Dengan saling menggenggam, Radit dan Khaira menikmati kebersamaan mereka.


Tidak lupa Radit dan Khaira menyusul Metta dan Dimas yang sudah terlebih dahulu bermain di Pantai.


"Hei, sudah lama di sini?" sapa Radit dan Khaira kepada kedua sahabatnya yang nyaris bersamaan.


"Udah lima belas menit. Foto bareng yuk, Khai ... udah lama kita gak foto berdua." ajak Metta kepada Khaira.


Radit pun bersiap memotret istrinya dan Metta. Dimas pun ikut-ikutan memotret Khaira dan juga Metta.


"Bro, tolong ambilkan gambar gue sama Istri dong?" Dimas meminta tolong sembari menyerahkan handphonenya.


"Udah sana, pose sana. Sini gue fotoin." ucap Radit sembati mengambil foto pasangan pengantin baru itu.


Setelahnya mereka memilih duduk beralaskan pasir putih. Dimas dan Metta memisahkan diri beberapa meter jaraknya dari Radit dan Khaira. Sementara kini hanya Radit dan Khaira yang benar-benar menikmati suasana Pantai yang membuat keduanya seolah merefresh kembali energi mereka.

__ADS_1


Dua pasang netra itu menatap lurus ke depan. Keduanya sama-sama diam, membiarkan deburan ombak yang berbicara dan desiran angin yang membuai lirih di indera pendengaran mereka. Matahari yang berada di atas kepala mereka, perlahan tapi pasti berjalan ke Barat membuat Cakrawala yang semula berwarna biru, kini bersolek dengan warna lembayung kemerah-merahan.


Sejenak, Radit mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang sangat dicintainya itu. Pria itu secara perlahan membawa kepala istrinya untuk bersandar di bahunya.


"Menikmati senja berdua seperti ini sangat indah ya Sayang...." ucap Radit yang sesekali menciumi puncak kepala istrinya yang tengah bersandar di dadanya itu.


Khaira pun tersenyum. "Kita kayak orang pacaran banget malahan. Kalau cuma berdua, enggak ada yang tahu kita sudah punya Arsyila di rumah." ucap Khaira sembari mencerukkan wajahnya di dada suaminya itu.


"Kapan kita punya waktu kayak gini Sayang. Nikmati senja seindah ini bersama wanita terindah di hidupku. Senja itu pasti Sayang, sepasti aku yang selalu mencintaimu." ucapnya dengan tulus.


"Gombalan Papa Radit memang mantap jiwa...." Ucapnya sembari terkekeh geli.


Radit pun ikut tertawa. "Aku bilang jujur, aku enggak gombal sama sekali. Sayang ... ada cara romantis untuk menikmati senja."


Khaira perlahan mendongakkan wajahnya guna mencari tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Matanya menatap pada sepasang manik kelam milik pria yang bayangannya selalu tertangkap oleh retina matanya itu.


"Bagaimana caranya?" tanya Khaira.


Dengan perlahan Ibu jari dan jari telunjuk Radit memegang dagu istrinya, kemudian dia sedikit meringsut dan menundukkan kepalanya. Dalam persekian detik, dia mendaratkan bibirnya dengan sempurna di atas bibir istrinya.


Pria itu mencium istrinya, dibawah sinar senja yang begitu molek. Tepat saat Sang Penjaga Siang menyembunyikan wajahnya dan menghilang di arah Barat. Siluet keduanya yang tengah berciuman di bawah senja, terlihat keduanya layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain.


Terbawa dengan suasana, Khaira sejenak memejamkan matanya. Dia mengikuti permainan bibir yang begitu lembut dengan suaminya. Membiarkan sang suami membuainya dan menikmati ciuman senja keduanya untuk pertama kalinya. Sekian menit berlalu, Radit melepas ciumannya perlahan. Kemudian dia menyatukan keningnya ke kening Khaira.

__ADS_1


"I Always Love U, My Wife...." ucapnya dengan tulus.


"I Always Love U Too, My Hubby." sahut Khaira dengan menatap wajah suami dengan penuh cinta.


__ADS_2